Mengenal Perbedaan ODP dan PDP Covid-19

Mengenal Perbedaan ODP dan PDP Covid19 Penumpang kapal yang baru turun di Pelabuhan Tuapeijat, Mentawai mencuci tangan dengan sabun yang disediakan di pelabuhan. (Foto: Patris/Mentawaikita.com)

SIKAKAP—Sejak Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) menjadi pandemi, muncul istilah ODP dan PDP. Sebenarnya apa arti istilah itu dan apa kriterianya?

Kepala Dinas Kesehatan Mentawai, Lahmuddin Siregar menjelaskan,  ODP adalah Orang Dalam Pemantauan, mereka adalah orang yang baru kembali dari daerah terjangkit misal seseorang yang baru datang dari Jakarta, berkunjung ke Mentawai lalu menunjukkan gejala seperti demam, batuk dan flu.

Namun digarisbawahi Lahmuddin, tak semua orang yang baru datang dari daerah terjangkit bisa dikategorikan ODP tapi hanya yang menunjukkan demam dan mengalami batuk, flu dan nyeri tenggorokan.

PDP adalah Pasien Dalam Pengawasan ini dalam istilah kesehatan ada suspect atau terduga, orang ini datang dari daerah terjangkit yang mengalami gejala demam, batuk, flu dan sesak napas atau gangguan pernapasan.

“PDP akan langsung diisolasi, apakah statusnya positif atau negatif itu ditentukan dari hasil laboratorium,” katanya kepada Mentawaikita.com melalui sambungan telepon, Kamis (26/3/2020).

 Lalu ada lagi istilah Pelaku Perjalanan dari Daerah Terjangkit yakni orang yang melakukan perjalanan dari wilayah yang sudah ada kasus positif Covid-19, misalnya dia datang dari Jakarta berarti dia sudah pelaku perjalanan, tapi kalau dia datang dari daerah yang masih negative kasus Covid-19 maka tidak dhitung.

Mungkinkah dalam satu keluarga itu ada ODP lalu anggota keluarga lain tidak ODP, menurut Lahmuddin mungkin saja karena tidak semua anggota keluarga yang datang dari daerah terjangkit, misalnya adiknya datang dari Jakarta dan menimbulkan gejala maka statusnya ODP, balita juga bisa menjadi ODP, balita yang pergi dengan orang tuanya tapi anaknya yang sakit maka balita tersebut statusnya ODP sementara orang tuanya tidak sakit maka belum bisa dikatakan orang tuanya ODP.

"Orang yang status ODP itu orang yang melakukan perjalanan di daerah terjangkit atau negara yang sudah terjangkit Covid-19 pulang ke Mentawai dalam keadaan sakit seperti demam tinggi, batuk, flu dan sakit tenggorokan," katanya menegaskan.

Bagi ODP, tindakan yang harus dilakukannya isolasi diri sendiri dalam rumah, dan butuh kesadaran diri sendiri siapapun bisa menularkan, karena dia datang dari daerah terjangkit maka dia rentan menularkan Covid-19.

Selama isolasi di rumah, ODP harus menjaga jarak dengan semua anggota keluarga. “Jadi nggak usah berkumpul-kumpul, di kamar saja, kalau mau pergi jangan ajak orang lain masuk lagi ke rumah, lakukan istirahat secukupnya, makan-makanan yang banyak banyak vitaminnya, dan lakukan olahraga, kegiatan yang bisa meningkatkan stamina tubuh," katanya.

Sementara sikap kita kalau ada orang dekat atau tetangga yang ODP menurut Lahmuddin tetap menjaga jarak, jangan dulu bertemu, kalau ada perlu cukup telepon saja. "Kita sesering mungkin cuci tangan pakai sabun di air yang mengalir, makan makanan yang bergizi, minum air putih 8 gelas per hari, lakukan olahraga secukupnya hal ini untuk meningkatkan ketahanan tubuh kita, orang yang ODP harus istirahat juga," katanya.

Antoni Martin, Kepala Puskesmas Sikakap, mengatakan adanya ODP balita di Sikakap ditemukan tim Puskesmas setelah melakukan wawancara kepada orang tua dan diketahui mereka dari Medan, Sumatra Utara.

"Sesuai dari hasil wawancara Tim Puskesmas Sikakap dengan orang tua balita itu bahwa mereka baru pulang dari Medan, sementara Medan salah satu daerah telah terjangkit Covid-19, melihat kondisi balita tersebut waktu penjaringan dilakukan Minggu (22/3/2020) suhu badannya di atas 37 derajat Celcius, mengalami batuk dan flu sementara tidak ada sesak napas maka balita tersebut masuk dalam ODP,” kata Antoni.

Perkembangan kesehatan balita tersebut terus dipantau Petugas Puskesmas Sikakap dan keadaan kesehatannya sekarang sudah membaik, pemantauan terus dilakukan sampai 14 hari. Ditegaskan Antoni, balita tersebut masuk dalam ODP sementara orang tuanya tidak karena balita tersebut pulang ke Desa Sikakap dalam kondisi demam, batuk dan pilek, sementara orang tuanya tidak.

“Karena Covid-19 virus yang sangat cepat sekali menularnya dibutuhkan sekali kerjasama seluruh unsur terutama sekali masyarakat supaya jujur waktu pendataan yang dilakukan oleh tim kesehatan dan tim gabungan muspika Sikakap dalam mencegah penularan covid 19," katanya.

 

BACA JUGA