Aktivitas Penebangan Diduga Sebabkan Sungai Keruh, Warga Laporkan PT. MPL ke KPHP

Aktivitas Penebangan Diduga Sebabkan Sungai Keruh Warga Laporkan PT MPL ke KPHP Pipa air Pamsimas melintasi anak sungai yang keruh, anak sungai tersebut hulunya di Sungai Mapinang Utara yang menjadi sumber air Pamsimas. (Foto: Leo/Mentawaikita.com)

SAUMANGANYA--Warga Desa Saumanganya Kecamatan Pagai Utara Kabupaten Kepulauan Mentawai melaporkan PT. Minas Pagai Lumber (MPL), pemegang izin usaha pemanfaatan hasil hutan alam (IUPHHKHA/HPH) kepada Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Mentawai terkait dugaan penebangan yang tidak sesuai undang-undang pada 3 Maret lalu.

Dalam surat laporan yang ditandatangani 76 warga Dusun Pinairuk, Pasapuat dan Mapinang itu, dinyatakan aktivitas penebangan menyebabkan sumber air warga di bagian hulu di Mapinang Utara tertimbun tumpukan kayu. Padahal hulu sungai itu sumber air Pamsimas yang mengairi 124 rumah warga. Aktivitas penebangan itu disebut membuat air sungai keruh dan bercampur lumpur saat hujan.

Selain itu menurut laporan warga, aktivitas penebangan perusahaan diduga berada di jalur sempadan sungai dan jurang. Keruhnya hulu sungai menyebabkan warga kehilangan akses air bersih.

Terkait itu, warga meminta KPHP Mentawai menindaklanjuti laporan tersebut dengan turun ke lokasi hulu sungai dan melakukan tindakan-tindakan hukum lainnya sesuai kewenangan KPHP Mentawai.

Warga juga menuntut PT. MPL menyelesaikan pembangunan gereja di Pututukat, menimbun jalan poros menuju Gunggung di Dusun Manganjo dan Gulu-guluk, Pasapuat, Tunang Tugut, Mabulau Buggei, Baebukkuk dan Mapinang Baga serta menerobos jalan  perusahaan ke jalan trans Mentawai.

Sebelumnya, Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Saumanganya bersama Jaringan Pemantau Independen Kehutanan melaporkan PT. MPL ke Polres Mentawai atas dugaan aktivitas penebangan yang menimbun sumber air warga di wilayah Pasapuat Siogoisok.

Ketua BPD Saumanganya, Merlin Sababalat menyatakan, laporan dikirimkan 11 Desember tahun lalu. Kemudian pada 27 Januari 2020, Reskrim Polres Mentawai  mengecek lokasi ke Pasapuat Sigoisok bersama kepala dusun Tunang Tugut dan Mabulaibuggei, kepala desa dan pihak perusahaan.

Kemudian Pada 14 Februari lalu, Merlin dan Risman memenuhi panggilan Reskrim Polres Mentawai di Tuapeijat untuk memberi keterangan. “Kami tidak melarang perusahaan beroperasi di wilayah kami tapi tolong perhatikan dan jaga lingkungan,” katanya kepada Mentawaikita.com di rumahnya, awal Maret lalu.

Menurut Merlin, setelah laporan tersebut, perusahaan membersihkan rating dan kayu serta papan untuk alas alat berat yang berada di jalur sungai. “Tapi saat hujan, airnya tetap kotor,” katanya kepada Mentawaikita.com di kediamannya, 8 Maret lalu.

Menanggapi laporan tersebut, Kepala KPHP Mentawai, Tasliatul Fuaddi kepada Mentawaikita.com melalui pesan Whatsapp, 19 Maret, mengatakan pihaknya menindaklanjuti laporan tersebut dengan menurunkan staf ke lapangan untuk klarifikasi serta menghimpun informasi.

“Saya sudah tugaskan tim ke lapangan untuk mengklarifikasi isi laporan, hingga saat ini saya belum menerima laporan tertulis tim yang sudah ditugaskan, saya juga sedang ada tugas di Siberut Selatan,” katanya.

Sudah Bersihkan

Sementara itu, menanggapi laporan BPD Saumanganya dan JPIK, Manager lapangan PT. MPL, Edi Sutrisno kepada Mentawaikita.com pada 12 Maret lalu meyakini tidak ada pelanggaran yang dilakukan perusahaannya karena pihaknya sudah mengecek ke lapangan bersama kepolisian dan kepala desa beberapa waktu lalu.

“Aktivitas penebangan yang dilakukan di Pasapuat Sigoisok dilakukan September tahun lalu saat musim kemarau sehingga anak sungainya kering dan tidak terlihat. Kalau dilihat defenisi sungai, kalau kemarau tidak akan kering, sementara saat kita bekerja, tidak kelihatan ada sungai, kering sehingga disusun kayu untuk melintas alat berat di sana,” katanya.

Meski demikian, setelah adanya laporan dari BPD Saumanganya, menurut Edi, pihak perusahaan sudah membongkar lagi kayu yang digunakan untuk lintasan alat berat, termasuk membersihkan ranting dan dahan.

Selain di Pasapuat, perusahaan juga sudah membersihkan ranting dan dahan di Sungai Mapinang Utara saat pekerja proyek Pamsimas bekerja November tahun lalu, meskipun pembersihan diakui Edi dilakukan secara manual.

Namun meski sudah dibersihkan, saat musim hujan air Pamsimas tetap kotor. Hal itu dikatakan Herman Saogo, warga Pinairuk. “Saat hujan air yang mengalir kotor dan keruh, tidak bias dipakai, kalau saat kemarau air bagus,” katanya 8 Maret lalu.

Sementara menanggapi tuntutan warga terkait penimbunan jalan, menurut Edi diluar kemampuan perusahaan. “Perusahaan tidak mampu untuk melakukan itu karena biayanya juga cukup mahal, kami hanya mampu menerobos jalan,” katanya.

Selain itu, penimbunan jalan juga diluar kewenangan perusahaan dan jika dilakukan bisa menyalahi peraturan kehutanan. “Kita tidak boleh open akses di areal hutan, bisa menyalahi aturan,” katanya menambahkan.

Menurutnya, terkait tuntutan masyarakat, perusahaan sudah menganggarkan biaya social Rp15 ribu per kubik kayu yang diambil. Uang itu diserahkan kepada pengurus lahan yang gunanya untuk masyarakat misal perbaikan jalan atau gereja.

BACA JUGA