Pusat Kecamatan Siberut Utara Darurat Air Bersih

Pusat Kecamatan Siberut Utara Darurat Air Bersih Pemukiman masyarakat di Desa Sikabaluan Kecamatan Siberut Utara, Mentawai. Warga Sikabaluan kini mengalami krisis air bersih. (Foto: dokumentasi Mentawaikita.com)

SIKABALUAN-Masyarakat Desa Muara Sikabaluan khususnya di Dusun Muara dan Dusun Nangnang mengeluarkan biaya tambahan dalam keluarga untuk memenuhi ketersediaan air bersih untuk kebutuhan dapur, mandi dan mencuci setiap hari. Juga mengeluarkan biaya untuk mendapatkan air minum isi ulang yang dijual di tengah masyarakat yang didatangkan dari Padang.


"Untuk memenuhi kebutuhan air bersih keluarga dalam satu bulan membutuhkan anggaran Rp400 ribba hinna Rp600 ribu per bulan dengan harga jual air per ton Rp100 ribba hingga Rp150 ribu. Mestinya biaya ini bisa untuk biaya pendidikan atau memenuhi kebutuhan lainnya bila air bersih ada di Sikabaluan,” kata Aprijon, Kepala Desa Muara Sikabaluan.


Begitu juga dengan air minum isi ulang yang didatangkan dari Padang dengan harga jual Rp20 ribu hingga Rp22 ribu per galon. Dimana untuk kebutuhan keluarga dalam satu bulan 2-5 galon dengan anggaran Rp40-100 ribu setiap bulannya.


Untuk sumber air di Sikabaluan, dikatakan Aprijon hanya air hujan. Untuk sumur galian beberapa titik di tengah masyarakat tersedia namun kondisinya juga berwarna air teh dan terasa keasinan bila pasang naik air laut.


Untuk ketersediaan air bersih di Sikabaluan sebagai pusat kecamatan, solusinya menurut Aprijon hanya sumber air dari Desa Monganpoula atau dari Dusun Sirilanggai Desa Malancan dari sumber air terjun. Tentunya pembangunan pengaliran air membutuhkan biaya yang sangat besar.


"Kami sudah lakukan kerjasama dengan pemerintah Desa Malancan terkait pembebasan lahan di air terjun untuk diajukan sebagai sumber pembangunan air bersih hingga pusat kecamatan,” katanya.

Irdelius T Oinan dari Dinas Perumahan dan Kawasan Pemukiman (DPKP) Mentawai mengatakan untuk menyuplai ketersediaan air bersih di Sikabaluan sebagai pusat kecamatan hanya dapat diambil dari sumber air yang ada di Monganpoula atau di Sirilanggai Desa Malancan.


"Pada 2015 sumber air di Monganpoula sudah dilakukan survei dan 2017 lalu untuk di Sirilanggai yang sumber airnya dari air terjun sudah ada rancangan. Hanya selama ini terkendala eksekusi anggaran karena untuk membangun jaringan air bersih dari kedua lokasi tersebut membutuhkan biaya yang besar,” katanya.


Untuk mengalirkan sumber air dari air terjun Sirilanggai (Singunung) dibutuhkan pemasangan jaringan pipa sepanjang 21 KM. Untuk membangun jaringan induk membuthkan anggaran sekira Rp21 miliar.

"Dalam rancangan kami kalau kita ingin jaringan air bersih jangka pendek maka sumber airnya dari dari Monganpoula. Namun untuk jangka panjang sumber air yang bagus itu air terjun di Sirilanggai,” katanya.


Amon Saleleu, Ketua Suku Saleleu yang ada di Dusun Sirilanggai Desa Malancan mengatakan, lokasi air terjun yang bernama Singunung merupakan lokasi milik suku dan sudah dilakukan pemetaan wilayah tersebut yang difasilitasi YCM Mentawai yang rencananya diajukan sebagai kawasan hutan adat suku Saleleu.


"Kami menyambut baik rencana pemerintah untuk pembangunan jaringan air bersih dan program lainnya. Hal ini sudah disampaikan kepala Desa Malancan kepada kami sebagai kaum suku pemilik lahan", katanya pada Mentawaikita.com, Sabtu, 7 Maret 2020.


Untuk program pembangunan infrastruktur 2020, Pemerintah Kabupaten Mentawai khusus air bersih di Siberut Utara yaitu Penyusunan Studi Kelayakan Pembangunan Jaringan Air Bersih (Sirilanggai) dengan pagu anggaran Rp294 juta dan penyusunan dokumen lingkungan (Sirilanggai) Rp289 juta. 

BACA JUGA