Warga Purorougat Butuh Jalan ke Permukiman Lama

Warga Purorougat Butuh Jalan ke Permukiman Lama Pemukiman wargas Purorougat, Desa Malakkopa. (Foto: Rus/Mentawaikita.com)

PAGAISELATAN-Warga Purorougat Desa Malakopa Kecamatan Pagai Selatan Kepulauan Mentawai membutuhkan jalan ke permukiman lama, sekira  9 kilometer jalan tersebut jalan perekonomian.

Kepala Dusun Purorougat, Erdiman Saogo mengatakan, jalan dari permukiman warga yang sekarang di lokasi hunian tetap  menuju ke permukiman lama sekira 9 km, jalan tersebut sangat penting bagi warga.  

"Bukan saja  warga Purorougat saja nantinya, pengguna jalan namun juga warga dusun tetangga ada 7 dusun yakni   Dusun Muntei Besar, Muntei Kecil, Asahan, Km37,  Sabbiret, Eruparaboat dan Dusun Sabbiret, jelasnya.

Sejak relokasi, warga sudah 10 tahun tinggal di hunian tetap, ekonomi warga masih tergantung ke permukiman lama seperti mengolah kelapa, sawah, kebun cengkeh, pinang dan mencari ikan atau lobster.  "Rutinitas warga berangkat Senin pulang Sabtu, " ujarnya.

Warga menuju ke permukiman lama berjalan kaki karena jalan hanya setapak dengan menempuh sekira 9 km, memakan waktu 2-3 jam. Warga Purorougat jumlahnya 70 KK dan   sekira 95 persen sumber ekonominya ke permukiman lama, katanya Kamis (6/2/2020).

Menurut Erdiman, jalan tersebut jika dibangun cukup ditimbun karang hingga ke permukiman lama otomatis  akses ekonomi meningkat.

Jalan ke permukiman lama sepanjang 9 km tidak ada sungai besar atau butuh  jembatan panjang, hanya beberapa titik parit kecil atau anak sungai saja. " Karang timbunan ada  gratis dan juga pelebaran jalan juga tidak lada  ganti rugi  tanaman  warga sangat berharap kepada Dinas PUPR Mentawai untuk buat jalan," ujarnya.

Selain Dusun Purorougat,  warga Abanbaga dan Bubuget butuh jembatan sepanjang 23 meter, kata Darmantius Saogo, mantan kepala dusun Abanabaga.

Dia menyebutkan, jalan sudah dibuka dan dibersihkan  serta  ditimbun karang oleh Dinas PUPR pada 2018 yang lalu sekira 9 km dari Simpang Km 34, jembatannya hanya kayu balok sebanyak 8 batang tapi sekarang  sudah lapuk dan patah. "Permintaan warga kepada Dinas  PUPR Mentawai membangun jembatan tersebut karena tidak mampu, kalau swadaya masyarakat membangun jembatan yang bentangannya 23 meter  perlu alat berat menarik kayu balok  atau kalau boleh dibangun jembatan permanen agar tidak berulang -ulang ganti kayu balok katanya.

BACA JUGA