Sumur-Sumur Penyelamat Saat Kemarau

SumurSumur Penyelamat Saat Kemarau Syafrizal membuka tutup sumur yang di gembok oleh pemiliknya (Foto Rus/Mentawaikita.com)

SAIBI--Panas matahari di Masogunei Desa Saibi Samukop Kecamatan Siberut Tengah Kabupaten Kepulauan Mentawai menyengat kulit di siang yang panas 24 Januari lalu. Meski sebagian wilayah Sumatera Barat mulai masuk musim hujan, namun udara di Saibi masih terasa kering.

Syafrizal Sanene (33), Ketua Karang Taruna Desa Saibi membuka penutup sumur di belakang Kantor UPTD Dinas Pendidikan Sumbar. Setidaknya ada 30 sumur berjejer di halaman belakang dan samping kantor. Beberapa diantaranya tak ditutup papan. Jarak antar sumur hanya satu meter.

Sumur-sumur itu berada di kaki bukit yang ditanami berbagai pohon yang menjadi ladang masyarakat. Ada cengkeh, pinang dan pisang. Sumur-sumur itu dibuat warga Saibi setelah mengalami kemarau panjang cukup parah tahun lalu.

“Banyaknya sumur yang digali masyarakat karena kami mengalami kemarau panjang selama enam bulan, sejak Juni sampai Desember 2019,  membuat sumur-sumur di rumah warga sudah mongering, akhirnya sumber air bersih sulit didapat,” ungkap Rizal yang juga seorang guru di SMP setempat.

Satu sumur itu dimiliki satu hingga empat kepala keluarga. “Masyarakat yang menggali sumur, satu sumur ada dua kepala keluarga, ada tiga sampai empat kepala keluarga, lalu karena sumur tersebut sering kering lantaran airnya sering diambil orang lain, akhirnya sumur tersebut digembok,” jelasnya.

Sumur tersebut dikunci agar bisa dijaga kebersihannya. “Sudah jelas air sedikit, orang menimbanya tidak bagus membuat air dalam sumur tersebut kotor, akibatnya mau tak mau pemilik sumur juga harus mengunci. Biasanya itu tidak digembok pada saat air hujan. Untuk di Saibi dikategorikan sulit disamping PAM belum jalan,” katanya.

Meski sudah ada PAM di Simoilalak namu hingga awal tahun ini air tersebut belum mengalir hingga Saibi Samukop yang berjarak sekira 4 kilometer dari sumber air tersebut, tak hanya itu saja, banyak pipa-pipa yang rusak

Rizal memiliki dua sumur di lokasi tersebut, sudah dibuatnya sejak Juli  lalu karena melihat kondisi air di sumur di rumahnya sudah mulai mengering, mau tak mau dia harus mencari alternatif lain. Akhirnya dia menggali sumur di kantor UPTD tersebut yang berjarak 50 meter dari rumahnya.

“Pengalaman saya ini kemarau yang terparah, saya sudah buat sumur sejak bulan Juli karena sudah mulai terlihat kondisi cuaca sudah masuk kemarau. Satu dengan kedalaman 2 meter, satu lagi 3 meter, selama sebulan itu saya menggali sumur, kemudian saya gembok karena banyak warga yang tidak bagus mengambil air,” katanya.

Menurut Rizal, kemarau tahun lalu terparah jika dibanding tahun-tahun sebelumnya. Saat itu hampir semua sungai-sungai kecil yang ada di Saibi mengering, apalagi sumur warga.

Meski sudah ada sumur namun sebagian besar warga masih mengambil air ke Simoilalak menggunakan jeriken. Ada yang menjemput air dengan sepeda motor, ada juga dengan pompong atau boat melalui jalur sungai. 


Pemukiman wilayah Simoilaklak yang sering kena banjir 

 “Kekeringan itu menurut saya banyak faktor, salah satu penyebabnya adalah sudah mulai pemanasan global, kemudian masyarakat yang sudah berladang dan membuka ladang  baru membuat serapan air berkurang, air yang ada disini kalaupun hujan dua atau tiga hari hujan, airnya tidak terserap disini, batu sudah diambil jadi tidak bisa lagi air bertahan kayu disampingnya tidak ada lagi,” tambah Rizal.

Selama musim kemarau melanda daerah tersebut, juga terjadi kebakaran lahan masyarakat. “Bukan hanya di sini, di Dusun Kaleak, Labuhan Korong juga sampai pinang habis terbakar, karena kekeringan apinya kadang dari puntung rokok, dibakar kemudian tidak terkendali, apalagi di areal Labuan Korong, itu tepi pantai anginnya kencang,” katanya.

Rizal menduga, salah satu penyebab keringnya sungai-sungai di Saibi karena aktifitas perusahaan kayu seperti HPH Koperasi Andalas Madani (KAM) yang dulu pernah beroperasi di wilayah Siberut Tengah.

Melki Sanenek, salah seorang tokoh masyarakat Saibi membenarkan, tahun lalu kemarau terparah di Saibi. “Tahun ini paling kering selama di Saibi, meski Saibi pernah mengalami kemarau panjang pada tahun 1997 tapi di sungai-sungai kecil tetap ada airnya, hanya pada tahun lalu sungai-sungai kecil mengering, sungai di samping rumah saja, pernah saya gali untuk sumur namun tetap kering,” katanya.

Melki juga menggali dua sumur baru disamping rumahnya yang berkedalaman 5 meter. “Jadi total sumur yang ada disamping rumah ini ada tiga, satu sumur lama dan dua sumur baru,” katanya.

“Dulu pada 1997 juga mengalami kemarau tidak kita rasakan sangat kekurangan air memang ada yang mengambil di dekat di Sipukpuk ,dulu kan rimba belum ada jalan. Karena sekarang sudah ada jalan jadi bisa bolak-balik ambil air, lokasinya perbatasan Simoilalak dengan Saibi,” katanya

Tapi sekarang tempat mengambil air yang dulunya banyak tapi pada tahun lalu semua sungai sudah kering. “Dulu waktu kemarau kita tidak begitu merasakan kekeringan karena masih ada cadangan air, artinya sungai yang disamping rumah juga masih bisa kita pakai tapi sekarang sungai sudah tidak bagus banyak sampah dan limbah-limbah rumah tangga yang di buang ke sungai,” katanya.

Selain itu sungai di sekitar rumahnya tanahnya sudah pecah-pecah. “Pernah saya gali sungai ini sedalam 2 meter tapi tidak ada air padahal itu di sungai, ini karena cadangan air di atas sana sudah dijadikan perladangan jadi tidak ada penyimpanan air, bahkan batupun diambil untuk bangunan,” katanya.


Perubahan Iklim dan Bencana yang Mengancam

Derita yang dirasakan warga Saibi tak hanya saat kemarau namun juga saat musim hujan karena banjir akan menggenangi sejumlah wilayah termasuk Simoilaklak yang selama kemarau menjadi penyeamat warga karena banyak air bersih tersedia.

Kepala Dusun Masokut, Besman, mengatakan tiga dusun yang berada di Simoilaklak yakni Masokut, Simoilaklak dan Ruamonga akan banjir saat musim penghujan. “Jika sudah hujan satu hari penuh saja, ketiga dusun ini terendam banjir, apalagi yang berada di tepi sungai besar yang berhulu di Sirisurak, artinya kalau sudah banjir di Sirisurak maka daerah Simoilaklak akan kena,” katanya.

Dalam setahun, banjir bisa terjadi tiga hingga empat kali saat musim penghujan. “Masyarakat yang terkena banjir ini biasanya akan mengungsi ke rumah warga lainnya yang aman bajir,” tuturnya.

Namun uniknya, Muara Saibi sebagai muara sungai dari Sirisurak dan Simoilaklak tidak terkena banjir. 




Warga Simoilaklak yang berjumlah 200 KK berasal dari Sirisurak. Mereka direlokasi pemerintah dengan alasan banjir. “Dulu kami tinggal di Sirisurak, daerah tersebut sangat rawan banjir, disebabkan karena ada dua sungai besar mengepung daerah itu, sungai sebelah kanam Museilat, sebelah kiri Sakraakek, jadi kalau bertemu kedua sungai tersebut maka akan menghantam Sirisurak dan imbasnya  ke Simoilaklak,” katanya.

Besman menduga, banjir disebabkan aktivitas penebangan yang dilakukan perusahaan HPH PT. KAM yang kini sudah tak beroperasi lagi. “Kayu-kayu besar di bukit sudah ditebang saat operasional KAM dulu sehingga serapan air berkurang,” katanya.

Dugaan Besman mungkin saja benar.  WWF dalam kajiannya berjudul Penyelamatan Siberut, Sebuah Rancangan Induk Konservasi pada 1980 menyimpulkan, Pulau Siberut yang memiliki curah hujan tinggi sangat rentan karena tanahnya yang juga punya erosi tinggi sangat tergantung pada vegetasi hujan agar tidak longsor dan banjir.

Penebangan hutan akan menimbulkan tingkat erosi yang makin buruk. Karena itu WWF merekomendasikan agar izin penebangan kayu di Siberut betul-betul harus dikeluarkan hati-hati dan meyakinkan agar setiap penebangan diawasi ketat dengan mengikuti pedoman ekologis yang baik.

BACA JUGA