1 dari 7 Spesies Penyu Terancam Punah di Mentawai

1 dari 7 Spesies Penyu Terancam Punah di Mentawai Diskusi tentang Konservasi Penyu dengan Hiltud Cordes, Chief Executife Officer (CEO) Turtle Foundation (kanan) di Kubik Coffee, Padang (Foto : Deri/MentawaiKita.com)

PADANG—Spesies penyu belimbing yang merupakan satu dari tujuh spesies penyu yang mendarat di perairan Mentawai terancam punah akibat aktivitas manusia di sekitarnya. 

Meriussoizi Zai (36), salah seorang aktifis konservasi penyu di Mentawai, mengatakan ada beberapa jenis penyu yang mendarat di Mentawai pada tahun 2017 lalu yakni penyu hijau, penyu lekang, penyu sisik, penyu belimbing,  penyu pipi, penyu tempayan dan penyu kemps redley.

Menurut Meriussoizi Zai jenis penyu belimbing ditemukan di Sipora tepatnya di pantai Matuptuman Desa Betumonga. Penyu ini terancam punah karena banyaknya masyarakat mengonsumsi penyu di daerah itu.

“Sedangkan beberapa jenis penyu lainnya belum dapat diketahui keberadaannya apakah ada yang di Siberut atau di daerah-daerah lainnya kita belum tahu. Hanya di Sipora saja penyu ini bertelur karna penyu belimbing ini tidak sembarang pantai bisa bertelur, dia memili pantai yang lebar makanya tidak semua pantai di pesisir Sumatera Barat bisa bertelur,” katanya di sela diskusi Konservasi Penyu di Indonesia di Kubik Coffee, Padang kepada MentawaiKita.com, Selasa (21/1/2020).

Untuk melestarikan penyu khususnya di Sipora, Meriussoizi Zai melakukan kegiatan konservasi penyu yang melibatkan masyarakat. 

“Di seluruh daerah pantai barat Sumatera yang menjadi lokasi penyuluhan penyu yang bertelur ini hanya ada empat lokasi, tiga lokasi di Aceh dan satu lokasi di Sipora, dan di Sipora ini adalah program konservasi penyu yang bekerja sama dengan Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP) dan ini nomor dua di Indonesia tepatnya di Sipora setelah Papua Barat,” ujarnya. 

Meriussoizi Zai tidak melarang masyarakat memanfaatkan keberadaan penyu di Sipora namun tidak dengan cara memakannya.

“Jadi itulah yang saya katakan kepada masyarakat di sana kita manfaatkan penyu ini tapi bukan dikonsumsi, dan kita berharap pendapatan masyarakat di bidang ekonomi terkait dengan dengan konservasi meningkat,”.

Ia mengatakan masyarakat Mentawai sudah biasa untuk mengkonsumsi penyu, bahkan menganggap itu sebagai berkat terutama masyarakat di Siberut sebab kebiasaan ini berkaitan dengan ritual adat dan budaya.

Menurutnya, pendekatan kepada masyarakat tidak bisa dilakukan dengan tergesa-gesa dengan mengatakan jangan dimakan. Tetapi dengan melakukan penyadaran agar masyarakat terlibat dalam kegiatan konservasi penyu yang melibatkan perlindungan penyu berbasis masyarakat.

Caranya dengan melatih masyarakat Mentawai teknik-teknik konservasi  yang benar dengan memakai standar internasional. Dengan begitu akan datang para periset-periset ke Mentawai yang tidak sekadar berwisata.

Periset ini kemudian diharapkan tinggal di rumah penduduk sehingga mendatangkan pendapatan bagi warga setempat. Pihaknya telah menyiapkan enam kamar menginap di rumah penduduk pada tahun ini dengan tarif Rp50 ribu per malam bagi periset.

“Dengan harapan pengunjung yang datang adalah periset-periset dari berbagai negara yang mendatangkan nilai ekonomi bagi masyarakat Mentawai,” jelasnya. 

Selain penyu, untuk menambah daya tarik kedatangan wisatawan perlu juga menjaga kelestarian terumbu karang.

Selain di Sipora, program konservasi penyu juga akan dilakukan di Siberut namun perlu dilakukan observasi untuk mengetahui jenis-jenis penyu yang masuk beserta jumlahnya.

Berbicara soal konservasi, menurut Hiltud Cordes, Chief Executife Officer (CEO) Turtle Foundation, mengatakan terdapat masalah dalam pembesaran tukik di Indonesia. 

Persoalan itu, kata Hiltud, yakni selama ini masyarakat hanya melakukan pengumpulan telur yang akan menetas sehingga banyak faktor yang membuat tukik tidak berproduksi dengan baik.

“Misalnya tukik mengalami gangguan terhadap naluri dan siklus-siklus tukik yang disebabkan oleh air yang tidak bersih,” katanya.

Ia memandang peluang hidup bagi tukik dewasa yang dilepaskan lebih besar dari pada tukik yang masih kecil. Namun ia tidak menjamin tukik yang dilepas saat sudah dewasa akan kembali bertelur di tempat ia dibesarkan.

“Belum ada bukti bahwa tukik yang dilepaskan dari pembesaran akan kembali ke tempatnya untuk bertelur dan itu memang tidak bisa dibuktikan karena tukik yang dilepaskan dari pembesarannya tidak diberi tanda, jadi darimana kita tahu bahwa kalau penyu yang bertelur itu berasal dari pembesaran tukik 15 tahun yang lalu dan itu memang sulit untuk dibuktikan,” katanya di tempat yang sama.

Hiltud Cordes menyebutkan untuk melindungi tukik harus ada kerja sama dengan negara lain karena kalau hanya satu negara saja yang melindungi tidak cukup.


BACA JUGA