Selamat Jalan Rinto Robertus Sanene

Selamat Jalan Rinto Robertus Sanene Almarhum Rinto Robertus Sanene yang sudah berdedikasi untuk Mentawaikita.com dan Puailiggoubat.

PADANG—Rinto Robertus Sanene, sahabat kami yang bertugas sebagai wartawan di wilayah Siberut Tengah Kabupaten Kepulauan Mentawai berpulang Selasa (21/1/2020) malam sekira pukul 21.06 WIB. 

Meskipun Rinto sudah menderita sakit beberapa bulan terakhir, kabar kepulangannya tetap meninggalkan kesedihan bagi kami rekan sejawatnya di Mentawaikita.com karena kantor kami tidak memiliki banyak staf baik redaksi maupun usaha. Oleh karenanya kami semua cukup dekat dan guyup.

Rinto adalah salah satu dari sedikit wartawan asal Mentawai yang sudah bertugas cukup lama, sejak 2008. Waktu itu Rinto mengikuti pelatihan jurnalistik yang digelar Tabloid Puailiggoubat, media cetak yang merupakan ‘saudara tua’ Mentawaikita.com.

Bersama beberapa yang ikut pelatihan kala itu, Rinto merupakan generasi ketiga atau keempat anak muda Mentawai yang dilatih Puailiggoubat menjadi wartawan. Usai pelatihan Rinto langsung ditugaskan di kampung halamannya di Saibi, Siberut Tengah.

Menjadi wartawan di Mentawai sangat menantang karena akses komunikasi yang terbatas. Saat itu Rinto dan wartawan dari daerah lain mengirim berita melalui pesan singkat (SMS). Bisa dibayangkan capeknya menulis berita yang panjang melalui SMS karena belum ada jaringan Internet. Saat itu Rinto harus memanjat bukit tiap kali mengirimkan berita karena jaringan yang blank spot di pemukiman. Baru dua atau tiga tahun terakhir, berita dikirimkan melalui WAG. 

Rinto termasuk kawan yang asyik diajak liputan bareng. Saya masih ingat terakhir liputan bersama Maret tahun lalu. Kami waktu itu menjelajah sejumlah dusun wilayah Siberut Tengah mulai dari Saibi, Sirisurak hingga ke Sibuddaoinan. 

Masih teringat keramahan Rinto dan istrinya saat saya datang ke rumahnya di hari pertama liputan. Karena jelajah liputan yang cukup luas, Rinto sudah menyiapkan perlengkapan kami termasuk sepeda motor. 

“Abang kurang tahu daerah,” tukas Rinto saat saya hendak mengambil alih kemudi sepeda motor. Saya sadar ini baru pertama kali liputan di Saibi Samukop. Dua jam kami berkendara sembari mewawancara sejumlah narasumber yang sudah disiapkan. 

Di antara kawan-kawan redaksi Mentawaikita.com, Rinto termasuk orang yang tenang dan kalem. Dia juga tak pelit ilmu, bahkan sering memberi nasehat kepada wartawan baru. Gayanya yang tenang rupanya lebih bisa diterima. 

Jika kami ada agenda pertemuan tahunan dan semua anggota redaksi berkumpul, suasana sangat pecah dan penuh canda hingga perdebatan sengit. Rinto biasanya duduk tenang sambil tersenyum melihat rekan-rekannya yang lain sedang berdebat sengit. 

Di rapat tahunan terakhir Agustus tahun lalu, Rinto meminta Andre, salah satu staf redaksi, dibuatkan tato motif Mentawai di tangannya. Kebetulan, Andre yang baru saja bergabung, seniman tato. Itulah kenangan terakhir kami saat berkumpul bersama.

Sekitar dua bulan lalu, Rinto memberi kabar kepada Pemimpin Redaksi, Uni Ocha Mariadi tidak bisa melakukan liputan karena sakit. Kami semua mengira hanya sakit biasa saja hingga akhirnya Uni Pimred menelepon dan memberi saran agar berobat ke rumah sakit di Padang yang fasilitasnya lebih lengkap. 

Namun Tuhan berkehendak lain. Dia lebih menyayangi Rinto dan tak membiarkannya menanggung sakit lebih lama. Kini dia telah sembuh dari semua rasa sakitnya. Selamat jalan kawan, jika waktunya tiba, kami semua akan menyusulmu kelak.

BACA JUGA