Anak Muda Mentawai yang Kembali Bertato

Anak Muda Mentawai yang Kembali Bertato Hieronimus Eko (kanan) yang merajah tubuhnya dengan tato tradisional Mentawai (Foto : Dok. Hieronimus Eko)

PADANG—Setahun terakhir tato Mentawai menjadi tren bagi anak muda Mentawai. Dulu mereka tidak berani menato badannya karena ada ancaman penangkapan dari aparat dan maraknya pemusnahan simbol budaya Mentawai pada era tahun 1980-an. Selain itu ada stigma kurang baik terhadap pemakai tato Mentawai.

Sebut saja Heronimus Eko Pinatalius Zebua (28), salah seorang pencinta tato tradisional Mentawai, mengatakan mulai bergelut dalam dunia tato tradisional Mentawai pada tahun 2011 lalu.

Untuk menambah pengetahuannya terhadap tato atau tiktik Mentawai ini, Heronimus Eko Pinatalius Zebua  yang akrab dipanggil Eko bertemu dengan beberapa koleganya yang sama-sama pecinta tato tradisional Mentawai.

Dari beberapa diskusi kecil-kecil itu, Eko memutuskan merajah tubuhnya dengan tato tradisional Mentawai. Ia kemudian memulai perjalanan ke Salagulubbek yang berada di pantai barat Pulau Siberut tepatnya di Kecamatan Siberut Barat Daya untuk menemui sipatitik (tukang tato) asli Mentawai. Namun orang yang dicari telah meninggal.

Niatnya bertato kemudian diundur sebab sipatitik tidak ada. “Sebelumnya saya juga sudah pergi ke daerah-daerah pedalaman seperti Saliguma, Madobag, Buttui, dan Saibi untuk mendalami tentang tato walaupun waktu itu memang saya pengen buat tato dengan motif tribal, namun pada akhirnya saya lebih suka memakai tato tradisional Mentawai tanpa ada rasa takut dalam segala hal, justru saya lebih senang dan bangga dengan menggunakan tato tradisional Mentawai,” kata Eko saat ditemui MentawaiKita.com, Kamis (17/1/2020).

Menurut Eko, tato Mentawai itu merupakan tato tertua di dunia yang mengandung makna tersendiri yakni sebagai identitas orang Mentawai. Tato sebagai representasi orang Mentawai, tato sebagai seni bagi Orang Mentawai.

“Tato sebagai seni bagi Orang Mentawai,” katanya, Kamis (17/1/2020).

Ia mengaku merajah tubuhnya dengan tato tradisional Mentawai pada 2019 oleh seorang seniman tato yang bernama Paburut Kerei  menjelang iven Festival Pesona Mentawai 2019 di Tuapeijat. Saat itu Eko telah terlibat dalam komunitas Sita Simattaoi yang bergerak dalam bidang tato tradisional Mentawai. 

“Yang pertama ditato punggung saya dengan motif serepak (cadik) yang artinya penyeimbang, yang kemudian motif sibalu-balu yang sering digunakan oleh sikerei, selanjutnya di dada saya dengan motif loppok yang berasal dari Simatalu dan terakhir pada bagian tangan dengan motif laiming, Rencana berikutnya akan ditato pada bagian kaki dengan menggunakan motif salio setelah tato pada bagian tangan sembuh, karena pada saat ditato butuh tubuh yang sehat dan jiwa yang tenang,” jelasnya.

Untuk mempromosikan tato ini, Eko bersama komunitas Sita Simattaoi pergi ke Tuapeijat dari Padang dan mendirikan stan khusus tato tradisional Mentawai. 

“Tidak hanya melalui iven Pesona Mentawai saja, tato Mentawai itu dipromosikan oleh komunitas-komunitas Sita Simattaoi, namun saya bersama dengan komunitas Sita Simattaoi juga mempromosikan tentang Tato Mentawai ini dengan mengusulkan  proposal kegiatan di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud),” katanya.

 dengan Kemah Budaya Kaum Muda (KBKM),” katanya.

Dari sana mereka mendapat dukungan dana dan pembiayaan dari Kemendikbud lalu bersama komunitasnya berangkat ke Jogyakarta pada 20 Juli 2019 untuk mengikuti  Kemah Budaya Kaum Muda (KBKM) di Candi Prambanan selama lima hari.

Di Kemendikbud, Eko dan teman-temannya membawa konsep tato Mentawai sebagai representasi bagi Orang Mentawai. Hasilnya tato Mentawai diakui sebagai warisan tak benda.

Eko berpesan agar Orang Mentawai tidak malu merajah tubuhnya dengan tato tradisional Mentawai.

Namun tak semua anak muda Mentawai menyukai tato di tubuhnya dengan alasan ketidakcocokan seperti yang diungkapkan Markus Legre Saluluplup (22), salah satu mahasiswa Mentawai yang kuliah jurusan kesehatan di Padang. 

Markus Leggre Saluplup menyebutkan dirinya menyukai tato Mentawai namun berkilah tak memakai tato sebab basic pendidikannya adalah kesehatan.

“Kecuali saya seorang antropologi, ada kelayakan dalam menggunakan tato tradisional Mentawai seperti seorang seniman dan antropologi, sedangkan saya di bidang kesehatan tidak cocok jika saya menggunakan tato, tidak hanya di bidang kesehatan saja akan tetapi di bidang pendidikan  juga seperti seorang guru sebagai pendidik tidak cocok memakai tato, jadi ada kelayakan dalam menggunakan Tato,” katanya.


BACA JUGA