BKIPM Perketat Pengawasan Penjualan Lobster di Sikakap

BKIPM Perketat Pengawasan Penjualan Lobster di Sikakap BKIPM Perikanan Mentawai memeriksa lobster yang akan dijual warga Sikakap ke Padang (Foto : Supri/MentawaiKita.com)

SIKAKAP— Badan Karantina Ikan Pengendalian Mutu (BKIPM) Perikanan Mentawai di Desa Sikakap memperketat pengawasan perdagangan lobster di Kecamatan Sikakap untuk mencegah perdagangan bayi lobster dan lobster bertelur ke Padang.

BKIPM rutin mengecek keramba-keramba jaring apung di Sikakap yang membudidayakan lobster saat lobster akan dipanen dan dijual ke Padang.

“Sesuai dengan peraturan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), perdagangan bayi lobster dan lobster bertelur tidak diperbolehkan, kalau ada yang kedapatan masyarakat yang melakukan perdagangan seperti itu bisa dipenjara,” kata Eldas, Penanggung Jawab BKIPM Wilayah Kerja (Wilker) Mentawai kepada MentawaiKita.com, Kamis (16/1/2020).

Eldas menyebutkan kategori bayi lobster yakni memiliki berat di bawah 2 ons sementara lobster bertelur yakni terdapat telur-telur kecil di perut lobster tersebut.

Alasan larangan itu, kata Eldas, dengan membiakkan lobster di habitatnya seperti terumbu karang maka pertumbuhannya lebih baik dan cepat. Jika lobster bertelur diambil maka tidak akan ada penambahan jumlah losbter. 

Menurut Eldas, satu induk lobster bisa menghasilkan anak sampai 1000 ekor lebih, “kalau satu ekor induk lobster yang lagi bertelur diambil berarti kita telah membunuh sekitar 1000 bayi lobster yang rugi siapa, tentu yang rugi masyarakat,” ujarnya.

Ardi (34), warga pencari lobster, mengatakan waktu mencari lobster biasanya dilakukan malam hari. 

“Saat malam hari udang lobster akan keluar, kalau ketemu bayi lobster tidak akan saya ambil begitu juga dengan induk udang lobster yang lagi bertelur, kalaupun dapat akan dilepaskan kembali, udang lobster yang diambil itu beratnya di atas 2 ons,” katanya.


BACA JUGA