Dilakukan Bertahap, Anggaran Pengembangan Bandara Rokot Tahun Ini Rp130 Miliar

Dilakukan Bertahap Anggaran Pengembangan Bandara Rokot Tahun Ini Rp130 Miliar Ruang tunggu Bandara Rokot di Sipora Selatan Kepulauan Mentawai. (Foto: Suntoro/Mentawaikita.com)

TUAPEIJAT— Pengembangan Bandar Udara Rokot di Sipora Selatan Kabupaten Kepulauan Mentawai menjadi bandara semi internasional akan dilakukan bertahap selama tiga tahun. Pemerintah pusat mengucurkan dana Rp130 miliar tahun ini dari total Rp574 miliar dana yang dialokasikan. Hal itu dikatakan Kepala Dinas PErhubungan Mentawai Edi Sukarni kepada Mentawaikita, 9 Januari lalu.

Pembangunan tersebut menurut Edi tergantung otoritas bandara, sementara Pemda Mentawai hanya persiapan lahan dan pengawasan pembangunan, jelasnya. “Tanggung jawab daerah adalah lahan, semua biaya dari pusat, itu Rp574 miliar,” kata Edi menambahkan.

Pengembangan Bandara Rokot membutuhkan area sekira 43 hektar termasuk  untuk lahan parkir. Dengan pengembangan tersebut, Bandara Rokot akan bisa didarati pesawat jenis Hibrid Tandem Rotor (HTR) dengan kapasitas 70 penumpang.

Sementara jumlah pesawat yang akan melayani Mentawai tergantung pada kebutuhan, jika banyak peminat naik pesawat, maka bisa saja akan ditambah jumlah pesawat yang akan melayani, jelas Edi.

“Yang dibawa kan tamu internasional, kalau tidak seperti itu kita tidak maju-maju, kalau naik kapal terus bosan juga orang ke Mentawai, kecuali cuaca bagus tidak apa-apa naik kapal, tapi kalau pesawat kapanpun orang bisa datang, kemudian lebih cepat, sekarang ini masyarakat harus siap-siap teknologi masuk ke Mentawai, kalau sudah jalan kan akan ada perkembangan, meningkatkan ekonomi masyarakat juga, bisa jalan-jalan sepanjang jalan seputar Rokot kan,” kata Edi.

Pengembangan Bandara Rokot ini menurut Edi, salah satu upaya pemerintah meningkatkan kemajuan wisata dan ekonomi Mentawai agar daerah kepulauan ini segera keluar dari status daerah tertinggal.

Meski demikian, pengembangan Bandara Rokot masih terkendala beberapa hektar lahan dimana ada 12 warga penggarap yang belum bersedia diganti rugi tanamannya. Menurut Edi, dari 187 warga yang lahan maupun tanamannya terkena perluasan Bandara Rokot, hanya 12 yang belum belum mau diganti rugi. Sedang yang lain termasuk pemilik tanah sudah selesai. “Lahan tidak ada masalah, ada tinggal 12 orang belum, dan itu sudah kita limpahkan ke Pengadilan, tinggal pengadilan penyelesaiannya lagi, ini hanya penggarap, kalau pemilik tanah sudah tidak ada masalah,” katanya.

Sebelumnya menurut Edi, pemerintah sudah meminta pemilik lahan maupun penggarap menyampaikan aspirasinya termasuk nilai ganti rugi sebab setiap tanaman yang kena lokasi bandara akan diberi uang ganti rugi sesuai kiteria tanaman.

“Kenapa tidak dulu diprotes, kan sudah dikasih pengumuman selama 40 hari, dirapatkan dan diumumkan, kenapa tidak diprotes misalnya tanaman saya nilainya sekian, dan tamanan itu sudah ada tim penilai, tim penilai itu bukan dari pemerintah daerah, tapi dari luar,” ungkapnya.

Edi berharap jika semuanya sudah siap maka perjalanan penumpang untuk tujuan Padang - Mentawai atau sebaliknya akan lebih cepat. Ia berharap pesawat dari daerah lain seperti Bali dan Padang bisa langsung ke Mentawai termasuk dari manca negara seperti negara tetangga Singapura dan Malaysia.

BACA JUGA