Badai, Nelayan Tradisional Mentawai Tak Melaut

Badai Nelayan Tradisional Mentawai Tak Melaut Perahu nelayan tradisional Sikakap sedang tambat di lokasi Pelabuhan Perikanan Pantai Sikakap Kamis malam (9/1/2020). (Foto: Supri/Mentawaikita.com)

SIKAKAP--Badai dan gelombang tinggi sekira 1-2 meter terjadi di perairan Mentawai membuat nelayan tradisional di Desa Sikakap Kecamatan Sikakap Kabupaten Kepulauan Mentawai tidak melaut sejak Kamis (9/1/2020)

Nelayan tradisional Sikakap pergi melaut menggunakan perahu dengan mesin ukuran 5 PK sampai 15 PK. Biasanya mereka turun ke laut pukul 17 WIB dan pulang pagi hari sekira pukul 06.00 WIB. Ada juga yang melaut subuh dan pulang pukul 10.00 WIB.

"Malam ini saya tidak bisa pergi ke laut sebab angin begitu kencang dan gelombang air laut sesuai informasi mencapai 1 meter sampai 2 meter di perairan Mentawai," kata Awaluddin (52), nelayan tradisional di Sikakap, Kamis (9/1/2020).

Menurut Awaluddin, sesuai informasi, badai dan angin kencang ini akan terjadi sekitar 3 hari. “Selama tiga hari ini saya dan teman-teman lain tidak akan turun melaut, menunggu badai reda yang bisa dilakukan hanya memperbaiki alat-alat tangkap, seperti merajut jaring yang robek," katanya.

Rahmad (38), nelayan tradisional lainhya mengatakan, kalau sudah badai pasti gelombang air laut akan tinggi. Saat musim badai biasanya nelayan hanya berdiam di rumah. “Kalau dipaksa turun ke laut takutnya akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, bisa jadi perahu pecah dihantam gelombang atau lainnya,” kata Rahmad.

Sementara itu harga ikan di Pasar Pagi Masabuk, Dusun Sikakap Barat, Desa Sikakap, Kecamatan Sikakap mulai naik. Ikan ambu-ambu biasanya Rp15 ribu per kilogram sekarang naik menjadi Rp20 ribu per kilogram, ikan kerapu Rp30 ribu per kilogram naik menjadi Rp35 ribu per kilogram, ikan gurigak 10 ekor Rp20 ribu sekarang 8 ekor Rp20 ribu.

"Semoga saja badai dan gelombang tinggi ini cepat berlalu dan kami para nelayan tradisional bisa kembali lagi pergi melaut," katanya.

BACA JUGA