Guru dan Bahan Ajar Penyebab Pembelajaran Budaya Mentawai Tersendat

Guru dan Bahan Ajar Penyebab Pembelajaran Budaya Mentawai Tersendat Kabid Kebudayaan Disdikbud Mentawai, Lauren Saruruk memandu siswa belajar budaya kepada sikerei (Foto : Rus/MentawaiKita.com)

TUAPEIJAT—Pelajaran muatan lokal budaya Mentawai (Bumen) untuk siswa di Kabupaten Kepulauan Mentawai tersendat disebabkan kurangnya guru pengajar dan bahan ajar.

Kepala Bidang Kebudayaan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud), Kabupaten Kepulauan Mentawai, Lauren Saruruk, mengatakan sekolah yang masih aktif mengajarkan pelajaran bumen berada di Pulau Siberut terutama tingkat SD.

Menurut Lauren Saruruk, salah satu penyebab proses pembelajaran tidak maksimal  karena guru pengajar tidak ada dalam arti guru yang mengajar mata pelajaran atau muatan lokal budaya Mentawai masih terbatas.

“Sebenarnya budaya Mentawai itu seperti ekskul dia, tetapi dengan dasar SK Pemerintah daerah Kepulauan Mentawai, diberikan dia prioritas dalam hal pembelajaran di semua tingkat sekolah yang ada di wilayah Mentawai seharusnya, nah terkendala sekarang itu di beberapa sekolah itu masih kesulitan mencari bahan ajar karena harus terstruktur dia satu, di samping itu kesulitan menjadi guru yang mengajar di beberapa sekolah, kemudian harus ada guru yang memahami tentang budaya Mentawai,” katanya saat ditemui MentawaiKita.com di ruang kerjanya, Senin (9/12/2019).

Ia menyebutkan rekrutmen guru bumen hanya dapat dilakukan jika ada dukungan anggaran untuk gaji dan keperluan lain guru itu.

Sekolah di Sipora misalnya SDN 23 tetap mengajar bumen, namun pihak sekolah bingung mengajarkannya, sebab guru yang paham tentang budaya Mentawai tidak ada di sekolah tersebut.

“Kita sebenarnya ingin ada perekrutan guru khusus itu, tentu orang Mentawai yang memiliki kemampuan di situ, tidak saja memiliki backgroundnya, tetapi orang Mentawai yang mengerti tentang budaya Mentawai,” ujar Lauren

Sedangkan untuk bahan ajar tingkat SMP, kata Lauren, tahun lalu sudah dibuatkan namun hingga sekarang belum rampung.

“Rencana kita akan membuat evaluasi dalam artian tingkat ke dalaman materinya, buku ada itu, meskipun tupoksinya ada di SD dan SMP, tapi kontennya kami budaya,” ujarnya.

Menurutnya untuk memaksimalkan peningkatan pendidikan budaya Mentawai kepada siswa-siswi harus didukung ketersediaan anggaran yang digunakan memvalidasi data di lapangan, apalagi menurutnya kondisi geografis Mentawai menjadi suatu kendala dalam melakukan pengumpulan data, misalnya mengenai jumlah peralatan tradisional Mentawai dalam sebuah uma (rumah besar klan). 

Menurutnya ada 11 jenis kebudayaan yang ada di Mentawai sebagaimana diatur dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

“Dari 11 itu salah satunya kesenian, kesenian itupun belum diuraikan. Bagaimana menguraikannya, tentu kita dalam konteks kajian, harus croschek ke lapangan, misalnya lagu atau urai Sikerei (lagu sikerei) sekian, bagaimana pembenarannya, termasuk pakaian adat yang kemaren dilakukan lokakarya,” kata Lauren.

Pendidikan Budaya Mentawai yang diberikan oleh guru merupakan pengenalan nama-nama alat tradisional Mentawai, seperti nama keranjang, luat atau kabit (cawat). Selain pengenalan nama-nama alat tradisional juga siswa-siswa langsung melihat bentuk atau mempraktikkan langsung cara pembuatannya.


BACA JUGA