Nelayan Silabu dan Saumanganya Tempuh Perjalanan 6 Jam Jual Ikan

Nelayan Silabu dan Saumanganya Tempuh Perjalanan 6 Jam Jual Ikan Nelayan Pasapuat memasukkan ikan ke piber (Foto : Supri/MentawaiKita.com)

PAGAI UTARA—Nelayan  Desa Silabu dan Saumanganya, Kecamatan Pagai Utara, Kabupaten Kepulauan Mentawai harus rela menempuh perjalanan selama 6 jam pulang pergi hanya untuk menjual ikan ke Desa Sikakap, Kecamatan Sikakap.

Marde Samaloisa (32), nelayan dari Dusun Tumalei, Desa Silabu, mengatakan ikan diangkut dengan sepeda motor. Ikan itu dimasukkan ke dalam fiber berkapasitas 30 kilogram yang diikat pada jok belakang sepeda motor.

Dalam seminggu Marde Samaloisa bolak balik selama tiga kali ke Sikakap untuk menjual ikan dan gurita. Perjalanan yang lama disebabkan jalan yang ditempuh belum semuanya bagus. 

"Karena tidak ada penampung di kampung terpaksa harus ke Desa Sikakap untuk menjual hasil perikanan seperti gurita, ikan dan lainnya, dari kampung Dusun Tumalai ke Desa Sikakap menghabiskan waktu 6 jam pulang pergi, karena jarak begitu jauh dalam seminggu hanya bisa ke Desa Sikakap menjual hasil perikanan tiga kali," kata Marde Samaloisa kepada MentawaiKita.com, Rabu (4/12/2019).

Marde Samaloisa, mengatakan gurita yang dibawanya ke Sikakap paling sedikit 20 kg, setelah ikan terjual isi fiber kemudian diisi es batu pengawet ikan.

Sementara Anju Tampubolon (30), warga Dusun Pasapuat, Desa Saumanganya mengangkut ikan untuk dijual dengan speed boat bermesin 6 pk sebab tidak memiliki sepeda motor. Ikan yang dibawa Anju dimasukkan ke dalam 2 piber yang masing-masing berkapasitas 50 kg. 

“Karena mengunakan jalur laut tentu melihat cuaca kalau cuaca bagus dan hasil tangkap banyak dalam seminggu itu pergi ke Desa Sikakap bisa 4-5 kali, kalau cuaca jelek gelombang besar terpaksa menunggu sampai gelombang air laut tenang, di Pasapuat sudah ada dermaga kapal tapi baru digunakan sebagai tempat persinggahan kapal saja, misalnya kapal antar pulau dan kapal perintis sandarnya hanya sebentar hanya untuk menurunkan penumpang, kegiatan jual beli belum ada," katanya.

Anju Tampubolon menyebutkan penampung ikan dan gurita telah ada di Pasapuat namun harganya berbeda dengan di Sikakap. Di kampungnya gurita besar dibeli Rp30 ribu per kg sementara di Sikakap Rp33 ribu per kg. Sedangkan gurita kecil di Pasapuat dibeli Rp12 ribu sementara di Sikakap dibeli Rp15 ribu per kg. 


BACA JUGA