Warga Sinaka Bangun Kemandirian Ekonomi dari Pertanian

Warga Sinaka Bangun Kemandirian Ekonomi dari Pertanian Seorang petani coklat di Desa Sinaka, Pagai Selatan, Mentawai

SINAKA-Mantan kepala Dusun Bubuget Desa Sinaka Kecamatan Pagai Selatan, Ilau Saogo sedang sibuk memanen buah coklat (Kakao) di kebun yang terletak di samping rumahnya di Dusun Bubeget. Dengan menggunakan oppa, keranjang rotan Mentawai yang disandang di bagian punggung, puluhan buah coklat yang telah menguning mulai penuh.

"Dalam satu minggu sekali kita lihat. Siapa tahu ada yang masak dan langsung kita panen, " katanya pada Mentawaikita.com.

Dikatakan Ilau, dalam satu minggu setidaknya panen 20 hingga 40 buah coklat yang masak di batang yang dapat membantu memenuhi kebutuhan dapur keluarga. Atau dalam satu minggu setidaknya Rp200 ribu hingga Rp300 ribu dapat diperoleh dari hasil penjualan biji coklat kering.

"Sebenarnya kami sudah terlambat menanam karena dulu saat ada  perusahaan kayu kami seakan tak berpikir  berladang dan hanya mengandalkan penghasilan dari fee kayu saja, " katanya.

Demikian halnya masyarakat Dusun Aban Baga yang bersebelahan dengan Bubuget. Bester Saogo, Kepala Dusun Aban Baga mengatakan warganya sedang bangkit dan berupaya mandiri dengan ekonomi pertanian. Untuk perladangan masyarakat Aban Baga, dikatakan Bester lebih banyak fokus di KM 37 Trans Mentawai Pagai Selatan.

"Ada yang sudah punya kebun pisang, pinang, coklat dan ada yang sedikit punya kebun pala dan gaharu, " katanya.

Dijelaskan Bester, untuk mempertahankan ekonomi keluarga khususnya pengiriman biaya kuliah anaknya yang ada di Medan, Sumatera Utara, Bester berhitung cermat dari hasil pertanian yang dimilikinya.

"Rata-rata tiap bulan saya mengirim biaya kuliah anak dan keperluan lainnya Rp2 juta. Ya, saya ambil dari penjualan pisang, pinang dan coklat, " katanya.

Dikatakan Bester, pisang buah tandan besar dibeli oleh pengumpul Rp40 ribu per tandan, buah pinang kering Rp7-8 ribu per kg, kelapa cungkil Rp2 ribu per kg dan coklat kering Rp17 ribu per kg.

"Saya berharap anak saya satu tahu lagi bisa wisuda karena sudah semester tujuh di jurusan Manajemen," katanya.

Hal yang sama dikatakan Marnida Berisigep, juga warga Aban Baga. Untuk uang belanja anaknya yang kuliah di Surabaya setiap bulannya mesti mengirim Rp500 ribu. Untuk menutupi biaya keperluan anak dan keluarga, Marnida mengaku belum memiliki kebun yang dapat menyokong ekonomi keluarga.

"Pisang ada sedikit. Pinang dan coklat juga begitu. Ya harus kita aturlah, " katanya.

Kepala Desa Sinaka, Tarsan Samaloisa mengakui kalau ekonomi rata-rata masyarakat Desa Sinaka berdasarkan data BPS (Badan Pusat Statistik) hanya Rp600-700 ribu per bulan. Sehingga, saat ada anak dari keluarga tersebut yang sekolah di luar Sinaka akan membuat keluarga tersebut bekerja keras.

"Dapat dibayangkan dengan pendapatan seperti itu setiap bulan, bagaimana ribetnya masyarakat mendapatkan tambahan. Ini yang coba kita cari terobosan pada pemberdayaan ekonomi masyarakat, " katanya.

Untuk dusun yang pernah menikmati masa kejayaan masuknya perusahaan kayu, kini seakan tidak siap dan baru memulai untuk kembali berladang dalam memenuhi kebutuhan keluarga dan biaya pendidikan anak.

"Misalnya Matobat, dari 100 orang masyarakat, baru lima hingga sepuluh orang yang menikmati hasil pertanian yang dimilikinya. Selebihnya baru sedang memulai untuk berladang, " katanya.

Potensi sumber daya alam Sinaka, dikatakan Tarsan Samaloisa sangat banyak dan menjanjikan bila dikelolah dengan baik. Ada potensi perikanan, potensi pertanian karena masih luasnya lahan yang belum tergarap oleh masyarakat sehingga kita mendorong mereka untuk membentuk kelompok tani sesuai dengan potensi yang cocok ditanam, " katanya.

Disarankannya masyarakat untuk membentuk kelompok pertanian atau kelompok nelayan agar pihak pemerintah desa maupun dinas dapat fokus dan terarah memberikan penyuluhan dan bantuan.

"Kita juga dari desa berharap Bumdes mulai serius untuk mengelola potensi ini agar ekonomi masyarakat dapat terbantu, " katanya.

BACA JUGA