Yayasan Pendidikan Budaya Mentawai Luncurkan Kamus Mattaoi Rereiket-Indonesia

Yayasan Pendidikan Budaya Mentawai Luncurkan Kamus Mattaoi RereiketIndonesia Peluncuran kamus berbahasa Mattaoi Sarereiket-Indonesia (Foto : Hendrikus/MentawaiKita.com)

MUNTEI-Yayasan Pendidikan Budaya Mentawai yang bekerjasama dengan Indigenous Education Foundation (IEF) meluncurkan buku kamus bahasa  Mattaoi (Mentawai) Rereiket-Indonesia di  Sanggar Uma Jaraik Sikerei, Desa Muntei, Kecamatan Siberut Selatan, Sabtu (30/11/2019).

Ketua Yayasan pendidikan Budaya Mentawai (YPBM), Fransiskus Yanuarius Mendrofa, mengatakan peluncuran buku tahun ini khsusus bahasa Mattaoi Rereiket-Indonesia yang berisi 2.400 kata. 

"Pembuatan buku kamus ini dimulai sejak bulan Februari sampai bulan November tahun ini yang bekerja sama demgan mitra IEF Australia, YPBM dan Pemerintah Desa Muntei yang dibantu juga oleh masyarakat umum," kata Yanuarius  usai peluncuran kamus kepada Mentawaikita.com, Sabtu (30/11/2019).

Peluncuran buku ini, kata Yanuarius, ditujukan untuk bahan pembelajaran. Beberap kamus juga akan dijual sebagai bagian kontribusi untuk sanggar yang sudah ada khsususnya di Siberut. Sebelumnya ada 5 sanggar yang dibina karena di Saibi, Kecamatan Siberut Tengah sudah mandiri sehingga YPBM fokus membina 4 sanggar dan kedepannya berencana akan membina 14 sanggar.

"Kami juga berharap kamus menjadi referensi kepada anak-anak Mentawai dalam pembelajaran agar budaya bahasa Mentawai tidak hilang, maka dari itu timbul ide yayasan bagaimana pembuatan kamus ini,” ujarnya.

Selain buku itu, lanjut Yan, lembaganya juga berencana meluncurkan 2 buku lagi yakni buku tanaman obat dan cerita rakyat Mentawai pada tahun depan.

Direktur IEF, Rob Hendry, mengatakan ketertarikan mempertahankan budaya Mentawai berawal saat dia melakukan kunjungan ke Mentawai saat mempelajari budaya masyarakat setempat. Menurut dia, Mentawai kaya budaya dan hutan yang masih bagus. 

“Awalnya saya datang ke Mentawai saat masih sedang belajar budaya Mentawai di salah satu pelosok hulu Rereiket dan mendengar pengetahuan masyarakat adat mulai kurang saya kasihan melihat, datang di Mentawai ada masalah tradisi habis budaya dan saya takut, saat itu saya ketemu seorang kawan membicarakan budaya Mentawai ini ke depan. Setelah itu saya pulang ke Australia dan setelah balik ke Mentawai saya membuat YPBM dan mencari sponsor dunia agar ada yang membantu," kata Rob Hendry.

Menurut Rob, tujuan pembuatan kamus itu untuk mempertahankan keberadaan bahasa Mentawai Rereiket agar tidak hilang seiring perkembangan zaman.

“Dialek Mattaoi-Rereiket Indonesia yang tidak lama akan hilang jika tidak dipertahankan, dan saya bangga melihat tim yayasan yang sudah bekerja keras baru ada kamus dialek Rereiket- Indonesia, nanti akan ada lagi kamus bahasa daerah lain di Mentawai,” ujarnya.

Sementara Camat Siberut Selatan, Hijon yang hadir dalam peluncuran kamus itu menyebutkan pendidikan budaya membuat manusia percaya diri. Kamus ini berguna buat anak sekolah dan orang lain yang ingin mengetahui tentang bahasa Mentawai.

Katanya, salah kapra jika banyak orang menerjemahkan bahwa dengan mempertahankan budaya itu sama dengan kembali ke masa dulu.

“Ini perlu diluruskan, bukannya kita kembali ke zaman lama namun ini bertujuan agar kita tidak lupa budaya dan percaya diri, Orang Mentawai tidak percaya diri, berbahasa Mentawai saja kita malu," kata Hijon pada saat peluncuran kamus Mattaoi-Indonesia.

Pihaknya, lanjut Hijon, telah mengeluarkan surat edaran bahwa anak-anak sekolah diwajibkan menggunakan kalung (inu, ngalou) dan luat (ikat kepala sikerei) namun masih ada beberapa respon negatif mempertanyakan untuk apa menggunakan itu.

“Orang Mentawai harus menghilangkan rasa minder, Orang Mentawai tidak bodoh, ‘kunen kai simattaoi’ itu harus dihilangkan sebab mengesankan tidak percaya diri,” ujarnya. 


BACA JUGA