Teror dan Kekerasan Terhadap Perempuan Pembela HAM Meningkat

Teror dan Kekerasan Terhadap Perempuan Pembela HAM Meningkat Meri Rahmi Yanti dari Jaringan Peduli Perempuan dan Komunitas Pembela HAM Sumbar saat berorasi. (Foto: dok. Mentawaikita.com)

PADANG-Aksi persekusi terhadap pengacara HAM Era Purnama Sari dua hari lalu (27/11/2019) di Pengadilan Negeri Jambi menjadi salah satu tuntutan dalam aksi memperingati Hari Perempuan Pembela HAM Internasional yang digelar Jaringan Peduli Perempuan dan Komunitas Pembela HAM Sumatera Barat di bundaran DPRD Padang, Jumat (29/11/2019). 

Era Purnama Sari yang merupakan penasehat hukum 39 Petani Serikat Mandiri Batang Hari (SMB) yang berkonflik dengan PT. Wira Karya Sakti (WKS) dipersekusi dan diintimidasi oleh sejumlah orang yang mengatasnamakan sebagai Aliansi Masyarakat Jambi karena tulisan blog di Kompasiana yang terjadi di Pengadilan Negeri Jambi.

Sebelum ada peristiwa ini, Era juga pernah difitnah dengan keji melalui salah satu media yang saat ini sedang diproses oleh Dewan Pers. “Kami mengganggap ini merupakan intimidasi dan perlawanan balik dari pihak-pihak yang terlibat dalam konflik antara petani SMB yang berhadapan dengan PT. WKS. Kondisi serupa juga pernah dirasakan oleh perempuan pembela HAM Komunitas Gunung Talang yang beberapa kali harus menghadapi ancaman dan intimidasi dari negara sejak tahun 2017. Ancaman dan penolakan juga dirasakan oleh para perempuan pembela HAM yang membantu korban kekerasan seksual dalam menjalankan aktivitas pemulihan dan perjuangan keadilan korban. Tak ayal pengucilan dan penolakan terhadap perempuan pembela HAM juga menggunakan pemelintiran terhadap prinsip moralitas, agama, adat dan budaya,” kata Meri Rahmi Yanti mewakili Jaringan Peduli Perempuan dan Komunitas Pembela HAM Sumbar.

Menurut Meri, meski sudah 21 tahun Deklarasi Pembela HAM disetujui Perserikatan Bangsa-Bangsa, para pembela HAM masih menghadapi terror dan kekerasan. Padahal Pembela HAM merupakan individu-individu, kelompok dan bagian dari masyarakat yang melakukan promosi dan perlindungan hak-hak asasi. Dalam memperjuangkan HAM, juga didukung oleh perempuan yang dikenal dengan Women Human Rights Defender (WHRD)/ Perempuan pembela HAM.

“Ancaman, teror, intimidasi, diskriminasi dan persekusi terhadap perempuan pembela HAM semakin meningkat setiap tahunnya. Kondisi diperparah ketiadaan regulasi yang melindungi secara effektif perempuan pembela HAM dalam melakukan aktivitasnya,” kata Meri. 

Dalam orasinya, Meri meminta semua pihak berhenti melakukan teror, intimidasi dan segala ancaman apapun terhadap Perempuan Pembela HAM. Negara juga dituntut melakukan perlindungan terhadap perempuan pembela HAM dan pembela HAM lainnya yang menjadi korban kekerasan bahkan meregang nyawa dalam perjuangan HAM. 

Negara semestinya memprioritaskan revisi Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM yang mengakomodir perlindungan terhadap pembela HAM dan perempuan pembela HAM, jelas Meri.

Selain itu dia juga mengimbau masyarakat luas mengambil peran penting dalam perjuangan HAM bersama perempuan pembela HAM. “Selain itu, kami menyatakan dengan tegas mendukung setiap perjuangan perempuan pembela HAM dimanapun mereka berada,” katanya.

 

BACA JUGA