Sudah Memasuki Musim Hujan, Warga Sikakap Masih Krisis Air

Sudah Memasuki Musim Hujan Warga Sikakap Masih Krisis Air Warga Desa Sikakap sedang mengambil air bersih menggunakan jeriken. (Foto: Supri/Mentawaikita.com)

SIKAKAP—Meski sudah mulai masuk musim hujan, warga Sikakap Kabupaten Kepulauan Mentawai belum keluar dari krisis air bersih. Warga hingga kini masih susah payah mengambil air bersih di sumber yang lebih jauh.

"Walaupun sekarang hujan sudah beberapa kali turun tapi masih skala kecil, hujan yang turun belum bisa membuat kami keluar dari krisis air bersih, saya setiap hari terus mengangkut air sebanyak 10 jeriken isi 35 liter," kata Pendi (16), warga Desa Sikakap, Rabu (27/11/2019).

Pendi menyebutkan, akibat kemarau panjang, jaringan PDAM untuk warga di sekitar Dusun Sikakap Timur mati, sementara jaringan PDAM di Dusun Mabola masih mengalir, air diambil dari PDAM di Dusun Mabolak.

"Air hujan yang turun ini dalam kapasitas kecil dan sebentar, walaupun hujan turun hanya kapasitas kecil dan sebentar tapi itu merupakan rahmat bagi kita yang diberikan Tuhan," katanya.

Sahinir (45), mengatakan sejak air PDAM mati sekitar 3 bulan lalu, ia harus mengangkut 12 jeriken air ukuran 35 liter setiap hari untuk kebutuhan keluarga. “Kalau air tidak diangkut tentu saya dan keluarga tidak mandi, air diambil di Dusun Mabolak arah ke sana PDAM masih hidup airnya,” katanya.

Sebagian lagi warga mengalirkan air dari gunung menggunakan selang ke rumahnya seperti dilakukan Nirhan (46). “Sekarang ini air yang masih mengalir, air gunung yang disalurkan dengan menggunakan selang plastic dan ditampung sementara PDAM arah ke Dusun Sikakap Timur, dan Dusun Sikakap Tengah sudah mati,” katanya.

Setiap hari Nirhan harus mengangkut sedikitnya 6 jeriken air isi 35 liter. Jika terlalu capek ia terpaksa membeli air. “Harga 1 drum Rp10 ribu,” katanya.

BACA JUGA