Sinaka, Potensi Tersembunyi di Ujung Pagai Selatan

Sinaka Potensi Tersembunyi di Ujung Pagai Selatan Para perempuan pulang mengolah sawah di Desa Sinaka, Kecamatan Pagai Selatan, Mentawai. (Foto: Bambang/Mentawaikita.com)

SINAKA-Warga Dusun Matobat Desa Sinaka Kecamatan Pagai Selatan Kabupaten Kepulauan Mentawai pernah mengalami masa kejayaan saat hadirnya perusahaan kayu tahun 1995 hingga 2000. Namun kejayaan pudar seiring kayu di lokasi desa mulai habis dan perusahaan pindah beroperasi ke lokasi lain.

 “Tidak ada tuan tanah. Bagi kami masyarakat yang tinggal di Matobat, hutan adalah milik kita bersama sehingga fee kayu yang diperoleh dari perusahaan kayu atas kayu yang mereka ambil dibagi rata untuk semua masyarakat,” kata Parmenas Saogo, Kepala Dusun Matobat.

Parmenas salah seorang dari masyarakat Matobat yang memiliki peran penting saat masa kejayaan itu. Ia bahkan menjadi orang kepercayaan pihak perusahaan dalam bernegosiasi dengan masyarakat sekaligus sebagai perpanjangan tangan untuk membayarkan uang kayu kepada masyarakat. Oleh masyarakat, Parmenas menjadi orang yang mengambil peran untuk melakukan posisi tawar pada pihak perusahaan.

“Miliaran uang yang saya bawa untuk dibagikan kepada masyarakat. Pembagiannya sama rata karena tidak ada tuan tanah dan tidak ada yang pendatang sehingga semua menikmati,” katanya.

Hasil dari uang kayu inilah yang digunakan masyarakat untuk membangun rumah. Mulai dari atap seng, semen, keramik lantai hingga bahan bangunan dipesan masyarakat melalui perusahaan kayu dan diterima masyarakat di lokasi masing-masing. “Masyarakat menerima bahan bangunan di depan rumahnya masing-masing. Masyarakat tinggal membuat rumahnya lagi,” katanya.

Namun kejayaan itu hanya berlangsung singkat saja, sampai tahun 2000. Perusahaan kayu hanya menawarkan keuntungan sesaat, begitu kayu habis dan operasional terhenti di lokasi itu, ekonomi masyarakat menjadi lumpuh dan masyarakat seakan memulai hidup dari awal, berladang dan melaut. Berladang pisang, pinang, sagu, durian, kelapa, kakao dan menjadi pelaut untuk mencari ikan, teripang, udang lobster dan udang kelong.

Awal November lalu, saya berkesempatan berkunjung ke Sinaka. Dari 11 dusun yang ada di Desa Sinaka, hanya enam dusun yang bisa saya sambangi. Itupun waktunya sangat singkat. Diantaranya di Matobat, Bubuget, Aban Baga, Boriai, Kosai Baru dan Kosai Bagatsagai. Sementara Sinaka atau Koritbuah, Matotonan, Mangka Ulu, Mangka Baga dan Mabolak tak sempat saya datangi.

Untuk menuju pusat pemerintah Desa Sinaka, saat ini sudah bisa ditempuh melalui jalur darat dengan terbukanya jalur trans Mentawai Pagai Selatan. Sebelumnya, desa yang ada paling ujung pulau Pagai Selatan ini hanya dapat ditempuh melalui jalur laut, 3-4 jam dari Sikakap. Jalur darat mulai terbuka setelah kejadian gempa dan tsunami Mentawai 2010, dimana desa dan dusun yang ada dipesisir pantai dievakuasi dan dipindahkan pemukimannya ke arah bukit.

Kecamatan Pagai Selatan sebenarnya tak asing bagi saya, namun Desa Sinaka belum pernah saya datangi sama sekali. Yang paling jauh yang saya sambangi yaitu Desa Bulasat, desa yang bersebelahan dengan Sinaka. Ketika ditawarkan untuk ke Sinaka, kesempatan ini tidak saya sia-siakan meski saya baru beberapa hari pulang mengelilingi setengah Pulau Siberut, Sikabaluan-Monganpoula-Sotboyak-Bojakan-Lubaga-Suruan-Simalibbeg-Bojo-Limu-Saikoat-Betaet-Sute’uleu-Sakaladhat-Sigapokna-Sikabaluan.

4,5 jam perjalanan mengarungi lautan dari pelabuhan Muara Padang menuju Pelabuhan Sikakap dengan Mv. Mentawai Fast, sebuah perjalanan yang sedikit menjenuhkan karena penumpang pada saat itu sepi dan tidak ada teman untuk mengobrol.

Sehabis bersantap siang di salah satu rumah makan di Sikakap, saya meminta Nirman Samaloisa untuk mengatur kelanjutan perjalanan kami. Nirman merupakan staf Desa Sinaka yang menjemput saya di pelabuhan Sikakap menuju Desa Sinaka pada, Jumat, 1 November 2019.

Saat menyeberang dari Sikakap menuju Polaga, menggunakan perahu bermesin tempel 15 PK mengingatkan saya pada pasca gempa dan tsunami 2010 Mentawai. Pada waktu itu, jalur penyeberangan ini rutin saya lewati saat mendapat tugas liputan dari redaksi, sekaligus membantu pendistribusian bantuan kemanusiaan yang digalang Lumbung Derma.

Sembilan tahun telah berlalu, transportasi penyeberangan Sikakap-Polaga yang menggunakan sayap penyeimbang dari bambu masih tak berubah. Jam sibuknya penyeberangannya lebih banyak pada jam pagi, siang dan sore yaitu jam masuk dan pulang anak sekolah.

Dari Polaga, kami melanjutkan perjalanan dengan mengendarai sepeda motor trail. Sepeda motor yang cocok untuk kondisi jalan trans Mentawai jalur Pagai Selatan yang pada umumnya baru tahap pembukaan badan jalan hingga pengerasan. Pekatnya debu yang beterbangan akibat musim kemarau yang panjang membuat nafas sesak dan mata pedih. Kondisi badan jalan yang berkerikil kecil membuat mawas diri karena rawan kecelakaan. Namun, medan yang begini sudah jalur yang biasa dilewati Nirman.

“Satu setengah jam itu sudah termasuk lambat,” kata Nirman, setelah melihat arlojinya saat kami sampai di rumahnya, di Dusun Matobat. Bagi saya, satu setengah jam merupakan waktu yang tercepat karena kondisi jalan trans Mentawai Pagai Selatan yang baru tahap pembukaan dan pengerasan ditambah jalan desa yang tertutupi rumput. Untuk pengendara lainnya, dari Polaga ke Sinaka mereka habiskan 3-5 jam perjalanan. Jaraknya sekira 90 km.

Tiba di Matobat, saya berjumpa staf Yayasan Citra Mandiri Mentawai yang tengah  memfasilitasi pemetaan dan desain pengelolaan ekowisata air terjun Simatobat. Kepala Desa, Tarsan Samaloisa meminta saya beristirahat malam agar keesokan harinya dapat memulai aktifitas yang direncanakan.

Pagi, ditemani Regen Sidarius, staf YCM Mentawai, saya mengelilingi Dusun Matobat yang jadi pusat pemerintah desa. Saya awalnya heran, mengapa pusat desa tidak di Dusun Sinaka. Ternyata pemindahan pusat pemerintah desa sudah terjadi yang ketiga kalinya hingga saat ini berada di Matobat. Awalnya di Dusun Sinaka, lalu pindah ke Dusun Boriai dan saat ini berada di Dusun Matobat.

“Ceritanya panjang hingga saya nekat pindahkan kantor di Matobat. Untuk membangun kantor ini banyak swadaya masyarakat,” kata Tarsan Samaloisa.

Satu hari itu saya menggali informasi tentang sejarah migrasi warga Dusun Matobat baik dari masyarakat, tokoh masyarakat dan pihak pemerintah. Matobat artinya daun sagu. Dimana dulu ada pondok yang beratapkan daun sagu. Yang pertama membuka perkampungan Matobat yaitu suku Samaloisa dan Sabelau. Setelah tinggal beberapa lama, akhirnya dua suku ini pindah dan kembali datang suku lain untuk menghuninya yaitu Suku Sapalakkai dari Taikako.

“Tidak ada istilah tuan tanah di sini. Yang ada hanya Sibakkat laggai, yaitu orang yang membuka kampung. Untuk kepemilikan tanah itu sifatnya umum dan milik bersama,” kata Parmenas, kepala Dusun Matobat.

Parmenas banyak memberikan informasi baik tentang sejarah dusun, cerita tentang perusahaan kayu hingga cerita jenaka soal perjuangan salah seorang dari kaum suku Samaloisa yang memperjuangkan cintanya. Dimana salah seorang dari kaum Samaloisa tersebut nekat membuat jalan setapak dan menyeberang sungai untuk bertemu sang pujaan hati. Lokasi tempat berenangnya saat ini dikenal dengan nama Purangoijat.

Potensi perikanan membuat saya kagum. Saat berada di lokasi tambahan perahu, terlihat ibu-ibu membersihkan ikan dan mengumpulkan udang kelong hasil tangkapan nelayan. Potensi yang luar biasa.

“Rasanya tak lengkap kalau makan mie tanpa pakai udang kelong,” kata Nirman, sekuriti Desa Sinaka saat Ela Hartati Berisigep, staf keuangan menghidangkan mie rebus dibumbui udang kelong.

Di kantor desa, saya melihat semua tertata rapi. Di beberapa dinding bagian dalam terpasang struktur Desa Sinaka, tugas dan fungsi hingga moto kerja. Jangan tanya kesibukan bagian dapur desa. Kami bak raja. Baru sampai di kantor desa sudah disuguhi kopi hitam manis. Namanya juga kopi hitam manis, ya rasanya sangat manis. Dua hingga tiga kali tambah air panas rasanya masih terasa manis. Ini mungkin rahasia kenapa gadis-gadis Mentawai terlihat manis karena setiap minuman yang mereka buat selalu terasa sangat manis. Namun, selama di sana tak pernah keluar masakan atau gorengan dari bahan pangan lokal. Misalnya goreng pisang, keladi, ubi atau lainnya.

Saat ini, suku yang tinggal di Matobat ada Suku Sapalakkai, Samaloisa, Saleleubaja, Saogo, Sabelau, Samangilailai dan Berisigep dengan jumlah penduduk 94 kepala keluarga yang terdiri dari 194 orang laki-laki dan 163 orang perempuan. Dari 357 jiwa yang ada di Dusun Matobat, pekerjaan masyarakat pada umumnya petani dan selebihnya nelayan tradisional.

Saat mau ke Boriai, salah satu dusun yang terletak di daerah pesisir, kami menggunakan rakit penyeberangan. Saya melihat bagaimana cara pemasangan tali penahan dan tali sebagai penarik, pemasangan drum untuk mengapungkan papan tempat berpijak atau tempat menaikkan sepeda motor. Jarak antara Dusun Matobat dengan Boriai cukup jauh. Namun jalan antar dusun ini sudah dirabat beton dengan baik dan kuat karena dasar pembangunan rabat beton ini di atas badan jalan buatan perusahaan kayu Minas Pagai Lumber.

Di Boriai mata pencaharian masyarakat pada umumnya nelayan. Saat ke sana, kebetulan sedang surut air laut saya melihat sebuah sampan nelayan sedang tertambat di tambatan perahu yang terbuat dari beton. Saya juga melihat lokasi rencana pembangunan dermaga pelabuhan laut yang sudah diplot seluas 2 hektar dan sudah ada patok yang dipasang Dinas Perhubungan Provinsi Sumatera Barat. Wakil Gubernur Sumatera Barat, Nasrul Abit sudah mengunjungi lokasi tersebut.

Masyarakat yang di Dusun Boriai sebanyak 43 kepala keluarga yang terdiri dari 85 orang laki-laki dan 77 orang perempuan. Dari 162 jiwa yang ada di Boriai, 25 orang bekerja sebagai nelayan tradisional dengan memanfaatkan potensi perikanan di depan dusun.

Di Kosai Baru atau dulunya disebut Tonggak, kami bertemu dengan Mesta Samaloisa, bapak dari Mespin Samaloisa. Menggali informasi sambil duduk di halaman rumah dengan hidangan buah kuini dan teh manis menambah akrabnya sauna cerita dari mulai terbentuknya kampung Kosai Baru, cerita Leleu Pasuranan hingga kondisi Kosai Baru saat ini.

Masyarakat Kosai Baru dan Kosai Bagat Sagai sebelumnya merupakan satu tempat wilayah. Namun karena kejadian muntaber yang melanda warga di kampung Kosai membuat mereka pindah dan memecahkan diri, ada yang membuat perkampungan baru yang disebut Kosai Baru dan ada yang membuat perkampungan dengan nama Kosai Bagat Sagai. Pada kejadian muntaber mewabah di kampung Kosai, sekira 22 orang meninggal dunia karena minimnya layanan tenaga kesehatan di wilayah Kecamatan Pagai Utara-Selatan pada saat itu. Dusun Kosai Baru merupakan dusun yang jumlah penduduknya terkecil di wilayah Desa Sinaka, 15 kepala keluarga yang mendiami dusun tersebut, atau 30 orang laki-laki dan 34 orang perempuan.

Dari cerita Mesta Samaloisa juga, saya mendapatkan cerita tentang Leleu Pasuranan. Pada masa penjajahan Jepang dan Belanda di Indonesia termasuk di Mentawai, Leleu Pasuranan menjadi salah satu lokasi basecamp untuk memantau pergerakan musuh dan tempat untuk membuat laporan. Saat masuknya perusahaan kayu pada tahun 1984, Leleu Pasuranan menjadi jalur lintasan untuk mengeluarkan kayu balok dari RKT menuju logpon. Dan pada saat pelaksanaan program pemetaan wilayah administrasi desa, antara masyarakat Matobat dan Kosai Baru batas wilayah administrasi dusun direncanakan akan diletakkan di Leleu Pasuranan.

“Saya jelas menolak karena bila posisinya disana maka ruang gerak masyarakat dalam bentuk perluasan wilayah, pertanian akan terbatas karena Leleu Pasuranan itu ada di depan kampong kalau kita dari arah Matobat,” katanya.

Dikatakan Mesta Samaloisa, banyak masyarakat yang tahu akan cerita Leleu Pasuranan, namun dimana letak Leleu Pasuranan pada umumnya banyak yang tidak tahu. “Bukitnya itu anda lewati tadi saat menuju ke sini. Dulu ada kayu yang ditandai pada masa penjajah membuat basecamp di sana. Namun sudah ditebang Kamarudin, masyarakat kita di sini,” katanya.

Berbeda halnya dengan di Bubuget dan Aban Baga. Di lingkungan dusun banyak terlihat tanaman coklat, pisang, gaharu, sawah, pinang dan beberapa tanaman lainnya. Suasana kampong lebih hidup karena aktifitas masyarakat. Dibeberapa rumah masyarakat dibagian halaman terjemur pinang, coklat. Di beberapa rumah masyarakat terparkir sepeda motor. Ekonomi masyarakat sedikit hidup di sini. Begitulah saya berpikir.

Bubuget artinya pasir yang hilang dan timbul saat dihantam gelombang laut. Sebelum masyarakat tinggal di Bubuget, awalnya masyarakat tinggal di Labatjau. Namun karena ancama buaya hingga adanya korban masyarakat berpindah dan berpencar. Ada yang pindah ke Maratdat, Bubuget dan Masiniang. Khusus orang yang kini tinggal di Dusun Bubuget migrasi mereka dimulai dari Labatjau lalu ke Maratdat dan Bubuget. Saat berada di Maratdat, masyarakat pindah karena factor ancaman banjir.

Sedangkan masyarakat yang ada di Aban Baga awalnya dari Labatjau ke Maratdat lalu ke Aban Baga. Aban Baga dulunya bernama Malipputbaga atau mata air. Namun karena sering masyarakat bertengkar, salah seorang pendeta akhirnya mengubah nama Malipputbaga menjadi Aban Baga yang artinya hati damai.

“Labatjau itu sekarang dikenal orang dengan nama Labuhan Jauh. Ini karena ditukar namanya oleh pendatang,” katanya. Saya jadi ingat dengan salah satu nama dusun di Desa Sigapokna Kecamatan Siberut Barat yang awalnya Lokbajau yang akhirnya berubah menjadi Labuhan Bajau.

Menerut informasi dari kepala Desa masyarakat di Bubuget dan Aban Baga pola pertanian mereka sudah mulai fokus untuk satu komoditi pada satu lahan yang disediakan. Terlebih masyarakat Aban Baga yang banyak membuka lahan perkebunan mereka di KM 40 Trans Mentawai Pagai Selatan. Ada pala, pinang, pisang dan gaharu.

“Hampir setiap dusun ada lahan persawahan dan perkebunan lainnya. Ini yang mau kita gali datanya dan kita arahkan kemana dengan potensi yang ada tersebut,” kata Tarsan Samaloisa.

Selama di Desa Sinaka, agar kami tidak merasa jenuh, kepala desa membawa kami ke kantor malam hari untuk berkaraoke ria. Kepala desa membawa kami ke ladangnya yang ada di KM 52 untuk bersantai dan menikmati air bersih dan segar karena selama di Matobat kami kesulitan untuk mendapatkan air bersih untuk mandi dan mencuci.

“Saya melihat teman-teman setiap hari saat keluar dari kamar selalu pakai pakaian yang itu-itu saja. Saya berpikir kalau stok pakai sudah habis yang bersih dan mesti dicuci. Makanya saya bawa ke lading,”. Begitulah alasan Tarsan Samaloisa, kepala desa Sinaka yang memimpin desa dua periode tersebut. 

BACA JUGA