Lima Siswa SLTA di Siberut Selatan Lecehkan Anak di Bawah Umur

Lima Siswa SLTA di Siberut Selatan Lecehkan Anak di Bawah Umur Korban sedang duduk di rumahnya. (Foto: Hendri/Mentawaikita.com)

MAILEPPET--Lima siswa SLTA di Siberut Selatan melecehkan J, seorang bocah berusia enam tahun asal Desa Maileppet Kabupaten Kepulauan Mentawai dengan memukuli, dan membuka celana korban di atas bukit yang berdekatan dengan sekolah.

Menurut korban, awal kejadian ada sekira lima murid SLTA di Siberut Selatan datang ke rumahnya yang berada di bukit. Saat bertemu, korban dipukuli lalu disuruh membuka celana. “Kemudian alat vital saya dipaksa dibuka dan dipegang-pegang, saya dikasari,” tuturnya kepada Mentawaikita.com, Senin, 25 November lalu.

Korban mengaku menangis di lokasi kejadian karena ditendang dan dipukul. “Saat saya menangis tidak ada orang yang mendengar,” kata korban. 

Mentawaikita.com terus menggali informasi dari korban namun korban tidak lagi menjawab karena korban juga menderita keterbelakangan mental.

Sementara ES, ibu korban mengaku tak tahu kejadian itu. “Saya tidak tahu sama sekali, sebab selama ini anak saya pulang tidak diberi tahu bahwa dirinya dipukul, selain itu anak saya tidak bisa bicara dengan jelas dan serius, dia hanya mengangguk saja dan menjawab begitu saja,” ujar ES.

ES berencana menuntut namun tidak tahu bagaimana caranya. “Anak saya dipukul dan dilecehkan walaupun semua orang tahu anak saya ini terbelakang mental namun dia itu anak saya dan manusia, jangan diperlakukan seperti hewan," kata ES. 

Saat ini ayah korban juga tidak ada di rumah, ayah korban sedang bekerja di Padang di sebuah kebun sawit dan sudah 6 bulan kepergiannya merantau.  “Sudah enam bulan ayahnya pergi,  di rumah kami makan saja sulit dan harus mencari nafkah sendiri dan dua orang anak saya sedang sekolah makanya korban memang kurang terurus, dia pergi begitu saja, saya memang kasihan namun bagaimana mau dilarang tidak bisa, sebab dia tidak bisa bicara lancar,” katanya.

Salah seorang guru SLTA  tempat para pelaku sekolah, mengakui kejadian itu, siswanya  sebanyak 5 orang melakukan penganiayaan dan pelecehan kepada salah seorang anak di bawah umur yang tinggal di bukit pengungsian. 

"Kejadian ini sudah terjadi sejak 3 minggu lalu saat jam istirahat, informasi yang saya dengar korban diajak ke bukit bersama dengan 5 siswa, saat di atas bukit korban diberi tontonan film dewasa sehingga pada saat menonton korban memainkan alat vitalnya, saat itu juga para pelaku menginjak alat kelamin korban, memang korban ini mengalami keteberlakangan mental, sehingga apa saja yang dibilang dituruti," katanya.

Setelah mendengar kabar saat itu anak-anak dipanggil oleh pihak sekolah untuk memastikan apa saja yang diperbuat terhadap anak tersebut dan mereka mengaku perbuatan apa yang mereka lakukan terhadap anak tersebut, Mereka praktikkan ada yang mengambil video dari kelima pelaku itu, semua pelaku masih duduk di kelas 10.

"Setelah diselidiki sekolah, ketemu satu video di ponsel pelaku bahwa aksi yang mereka lakukan tidak manusiawi dan video itu disimpan pihak sekolah, awalnya sekolah masih memberi hukuman aturan sekolah namun ketika itu tidak dijalankan sekolah memutuskan mereka diberhentikan dari sekolah dari pada membuat nama sekolah tercemar," katanya.

Setelah mereka dikeluarkan di sekolah di media sosial juga, guru tersebut dicaci oleh pelaku bahkan dituduh mengeluarkan mereka di sekolah padahal itu kebijakan kepala sekolah. “Itu tidak masuk akal, kabarnya diantara mereka ada yang pindah di sekolah lain yang ada di namun surat pindah mereka belum ada yang berikan,” katanya.

Menanggapi hal tersebut, Kapolsek Siberut Selatan Iptu Edi Surya mengatakan, terkait pelecehan yang dilakukan oleh oknum siswa, dia belum mendapatkan laporan dan belum dapat infomasi, tapi jika memang ini terjadi apa lagi kategori penganiayaan berat sangat disayangkan pihak sekolah menutupinya.

“Ini mempunyai efek terhadap psikologis anak itu sendiri dan adanya kejadian di kemudian hari. Namun jika masalah ini kategori ringan tidak apa-apa dan bisa diselesaikan secara kekeluargaan, yang jelas hingga saat ini belum ada laporan ke pihak kepolisian sehingga kami tidak tahu apa lagi kejadian ini sudah tiga minggu lalu," katanya. (r)

BACA JUGA