Kemarau, Pompong di Madobag Tak Lagi Beroperasi

Kemarau Pompong di Madobag Tak Lagi Beroperasi Debit air Sungai Bojakan yang berkurang membuat pompong susah lewat. Hampir semua sungai di Mentawai kering karena kemarau dan susah dilalui perahu mesin. (Foto: dokumentasi Mentawaikita.com)

MADOBAG-Musim kemarau sejak enam bulan ini membuat debit air Sungai Rereiket Desa Madobag menyusut sehingga pompong, salah satu alat transportasi warga yang bermukim di sepanjang aliran sungai tak lagi beroperasi.

Operator pompong Daniel mengatakan, musim kemarau panjang di Mentawai tidak hanya air bersih yang sulit, tetapi juga beberapa aktivitas masyarakat di sungai seperti mesin pompong tidak lagi beroperasi sebab air sungai sudah dangkal.

"Air sungai Rereiket sudah kering, dangkalnya mencapai 30 cm dan airya mengalir di samping sungai sedangkan di bagian lainnya air sudah kering dan sudah tumbuh rumput liar sehingga hewan warga sudah masuk kampung," kata Daniel, Rabu (13/11/2019).

Tiga bulan terakhir perahu pompong masih jalan, setelah itu pompong tidak lagi jalan, dan lama kelamaan air sungai mengering sehingga perahu sulit untuk membawa beban, namun saat ini perahu yang tidak punya beban saja tidak bisa lewat.

Saat ini ada proyek melangsir semen dan material namun karena musim kemarau material semen dan yang lainnya diangkut dengan roda dua maupun becak karena jalan sudah kering sehingga pengendara tidak kesulitan membawa beban berat.

"Semua pompong dari daerah Rereiket sudah tidak beroperasi lagi dan kalau ada tender pasti kami tak akan berani mengambil sebab kondisi air yang tidak memungkinkan, dan ini kami pun menganggur terpaksa kerja apa yang ada saja di proyek, kecuali kami punya roda dua bisa melangsir semen dan material lainnya. Saat inipun kita belum tahu kapan hujan turun," katanya.  

Musim kemarau panjang juga membuat warga Desa Madobag Kecamatan Siberut Selatan Kabupaten Kepulauan Mentawai kesulitan mencari air bersih pasalnya sungai di perkampungan mulai surut dan kering.

Warga Madobag Rafael (38) mengatakan, semenjak musim kemarau melanda daerah Mentawai kurang lebih lima bulan ini membuat warga sekitar Madobag dan semua aliran sungai Rereiket mengalami kekeringan dan kesulitan mencari air.

"Selama 4 bulan ini ini semua warga Madobag dan sekitarnya mengambil air di sungai Sibuklu, Malabbaet dan Kulukubuk, semua aktivitas baik itu mencuci pakaian, mencuci piring, air minum maupun kebutuhan air bersih semua warga terpaksa harus keluar rumah untuk mengambil air maupun mencuci piring," kata Rafael kepada Mentawaikita.com Senin (11/11/2019).

Sungai yang mereka ambil sekarang juga sudah surut dan air mulai berkurang namun kualitas air sangat bersih dan jernih sebab airnya dari pegunungan yang hutanya masih lebat, walaupun debit air berkurang namun airnya masih tetap mengalir.

Warga lainnya juga Susanna, untuk mengambil air minum, maupun cuci piring dan pakaian mereka harus berjalan ke sungai dekat kampung yang jaraknya sekira satu kilometer dari perkampungan dan harus membawa gerobak dorong untuk membawa kain maupun peralatan dapur.

"Semua warga mengambil air di sungai dekat perkampungan dan sumur yang ada di kampung sudah kering semua, dan Pamsimas yang baru dibangun pun tidak mengalir lagi, kecuali di daerah Kulukubuk air nya masih mengalir karena sungai besar dan debit airnya masih kencang," katanya. 


BACA JUGA