Atasi Kebakaran Hutan, Kalaksa BPBD Mentawai Minta Tingkatkan Pengawasan Dusun

Atasi Kebakaran Hutan Kalaksa BPBD Mentawai Minta Tingkatkan Pengawasan Dusun Lahan terbakar di Majobulu, Puro, Kecamatan Siberut Utara, Mentawai. (Foto: Askurnis/Mentawaikita.com)

TUAPEIJAT--Kebakaran hutan di Kabupaten Kepulauan Mentawai sudah sering terjadi, meski tidak ada korban jiwa, namun kerugian masyarakat terhadap kebakaran lahan tidak sedikit, padahal di Mentawai tradisi membersihkan lahan dengan membakar tidak ada.

"Faktor utama penyebab kebakaran hutan itu adalah manusia, kalau penyebab alam tidak mungkin karena tidak ada petir atau penyebab kebakaran lainnya, berarti ini adalah penyebabnya manusia apa itu, masyarakat melihat kondisi kering, karena mereka beranggapan lebih cepat membersihkan lahan dengan membakar, tanpa mempertimbangkan dampaknya, ini tanggung jawab kita bersama." kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kepulauan Mentawai, Novriadi, Selasa, (12/11/2019) saat ditemui di ruang kerjanya.

Salah satu tindakan yang sering terjadi yaitu masyarakat membakar sampah lalu ditinggal atau membakar rumput yang sudah dibersihkan tanpa ada pengawasan oleh masyarakat itu sendiri. "Dengan lahan yang kering, tanah kering, sehingga memudahkan terjadinya pembakaran. Kemudian membuang puntung rokok sembarangan, termasuk juga sengaja dibakar," kata Novriadi.

Ia menyebutkan pihaknya sudah sering melakukan penanganan, termasuk penyuluhan kepada masyarakat, namun ia akui memang belum semua daerah yang dilakukan penyuluhan karena kondisi geografis dan juga transportasi menuju ke desa atau Kecamatan.

"Sosialisasi sudah, ke Siberut Utara sudah, Sikakap juga sudah kita lakukan namun memang di Siberut belum kita lakukan, di Tuapeijat ini kita bekerja sama dengan TNI dan Polri, kita juga sudah menghadirkan tokoh masyarakat, Kepala Desa, Dusun sudah, bahkan ada Desa yang membuat pernyataan, namun itu juga belum menyadarkan masyarakat," ungkapnya.

Selanjutnya untuk kebakaran hutan saat ini ungkap Novriadi tergantung pada kesadaran masyarakat, menurutnya jika masyarakat itu tidak sadar maka kebakaran hutan selalu ada, mestinya masyarakat harus melihat kondisi cuaca yang sedang kemarau, sehingga tidak melakukan pembakaran sembarangan, baik sampah atau membakar rumput kering yang dibersihkan oleh masyarakat.

"Dengan kondisi seperti ini kalau membakar rumput atau bekas yang dibersihkan, kalau sudah terbakar maka tidak bisa lagi dikendalikan. Maka dari itu aparat desa jangan bergantung pada Pemerintah Kabupaten, sebab kita disini tidak terkontrol, kalau terjadi kebakaran kita tidak bisa kesana, tidak sempat, biaya juga untuk ke sana sudah berapa, jadi untuk dusun, desa, dan kecamatan harus ikut mengawasi masyarakatnya," ujarnya.

Menurut Novriadi, yang paling gampang melakukan patroli adalah di tingkat dusun, karena wilayahnya lebih kecil dan bisa terjangkau, dan efektif dibanding terjadi kebakaran hanya mengharapkan pihak pemkab saja tidak terkontrol. "Jadi pengawasannya itu mestinya dari bawah," katanya.

BACA JUGA