Satukan Persepsi Disdikbud Gelar Lokakarya Pakaian Adat Mentawai

Satukan Persepsi Disdikbud Gelar Lokakarya Pakaian Adat Mentawai Pakaian adat di Siberut Hulu. (Foto: Rus/Mentawaikita.com)

TUAPEIJAT- Mentawai perlu didalami dan disepakati apa-apa saja pakaian adat Mentawai yang digunakan saat acara, atau penyambutan, menurutnya terkadang saat ada penyambutan pakaian adat Mentawai tidak sesuai atau merasa sungkan karena takut disorot dengan pakaian adat Mentawai yang dipakai, Hal itu dikatakan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kepulauan Mentawai, Oreste Sakeru saat acara lokakarya dan pendataan pakaian adat Mentawai, Selasa (5/11/2019).

“Setiap ada penampilan penyambutan atau apa saja kegiatan, kita kadang-kadang ragu-ragu karena takut disorot, apakah pas, apakah tidak layak, maka berdasarkan itu, kita Dinas terkait mau mencoba dalam pertemuan ini sepakat menentukan kalau acara penyambutan tamu, yang kita pakai seperti ini,” ungkapnya.

Selanjutnya, kegiatan ini diselenggarakan oleh pihak terkait bertujuan untuk menjawab asumsi-asumsi masyarakat, menurutnya ada keragu-raguan terhadap pakaian adat Mentawai, sebab saat ini banyak bentuk atau model yang sering dipakai saat acara-acara resmi baik pemerintah Kabupaten maupun Kecamatan.

“Kegiatan ini kita dapat memperoleh data, dan kesepakatan bersama mengenai beberapa pakaian adat Mentawai baik jenis-jenisnya, bentuknya, lalu kapan atau momen apa saja yang bisa kita pakai,” ujarnya.

Oreste menyebutkan tato sikerei sudah ditetapkan sebagai warisan budaya tidak benda secara Nasional pada tahun lalu, termasuk tahun ini warisan budaya tidak benda lainnya adalah sikerei, ia menjelaskan warisan budaya itu ditetapkan secara Nasional milik Kabupaten Kepulauan Mentawai.

“Tahun depan kita juga kita dari Dinas terkait akan ke Simatalu rencananya akan tinggal berbulan-bulan bersama pimpinan daerah untuk mencari titik nol asal-usul Mentawai, Simatalu itu banyak, tapi Simatalu yang mana, kan ada Lubaga, ada Simalibbeg, kita akan cari, sudah ada gambaran yang kita dapat, lalu kita coba cari itu, rencananya akan kita bangun tugu Sipeu (bahasa Mentawai) sebagai pusat asal usul budaya orang Mentawai, karena Sipeu itu cerita asal Mentawai,” katanya. 

Sementara Wakil Bupati Kabupaten Kepulauan Mentawai, Kortanius Sabeleake mengatakan orang Mentawai sendiri tidak mencintai budayanya. Dengan acara ini bisa mencintai budaya Mentawai.

“Zaman kami dulu masih sekolah kalau pergi ke Padang malu pakai bahasa Mentawai, kenapa? Malu disebut orang Mentawai itu makan sagu, makan keladi, ubi, psikologi terhadap tindasan budaya Mentawai itulah yang membuat orang Mentawai malu atas budayanya sendiri, kita sendiri tidak mencintai budaya kita,” katanya.

Melihat tradisi orang Mentawai biasanya jika masyarakat Mentawai membuka kebun atau ladang, harus meminta permisi terlebih dahulu, meminta izin, karena menurut Kortanius, tumbuhan atau rumput juga adalah makluk hidup, sebab orang Mentawai segala sesuatu yang hidup selalu dihargai.

“Orang Mentawai itu kalau buka kebun, permisi dia ke hutan, permisi dia kepada tanaman atau tumbuhan, karena ada pemahaman orang Mentawai kayu itu, tumbuhan itu hidup sudah ribuan tahun, ratusan tahun, kalau kita menanam pisang supaya kita hidup, kita harus minta permisi, begitu dalam pemahaman nilai budaya Mentawai,” ungkapnya.

Lebih lanjut dia sampakan budaya Mentawai saat ini tidak seperti dulu, jangan untuk meminta izin atau permisi kepada alam, berdoa saja terkadang kata Kortanius tidak pernah bahkan malas, bahkan Pemerintah berharap agar budaya Mentawai dikaji lebih dalam oleh Dinas terkait.

BACA JUGA