Pengelolaan Dana Ngawur, Jalan Madobag Rusak Dipakai Sebulan

Pengelolaan Dana Ngawur Jalan Madobag Rusak Dipakai Sebulan Jalan Mangorut ke Rokdok yang mulai rusak (Foto : Hendrik/MentawaiKita.com)

MADOBAG-Warga Desa Madobag, Kecamatan Siberut Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai mengeluhkan jalan yang dibangun dari Mangorut menuju Rogdok sudah rusak padahal baru sebulan dipakai. Kuat dugaan kerusakan itu disebabkan penggunaan material jalan tidak sesuai bestek.

Bruno, warga Madobag mengatakan, beberapa titik jalan yang baru dibuat sebulan lalu telah terkelupas. Kerikil jalan telah menonjol dan bagian lain beton jalan telah retak. 

Menurut Bruno, kerusakan itu disebabkan pembangunan jalan asal jadi

“Kondisi jalan saat ini ada beberapa titik mulai rusak dan kerikil yang menjadi campuran pasir sudah nampak kepermukaan dan mulai terkikis, padahal baru kurang lebih 1 bulan dipakai sudah mulai rusak lagi, jadi baru pemakaian jalan kita kurang puas sebab baru sebentar rusak lagi dan hancur," kata Bruno kepada Mentawaikita.com, Selasa (29/10/2019).

Ia berharap Pemerintah Desa Maobag membangun jalan dengan kualitas bagus agar jalan itu tahan lama sehingga masyarakat tidak sulit pergi ke pusat ibu kecamatan.

Ketua Badan Permusyawaratan Desa Madobag (BPD), Markus Salakkopak, mengatakan beberapa titik jalan Mangorut-Rogdok mulai rusak, namun tidak semuanya jalan rusak.

"Masyarakat pengelola jalan ada 12 kelompok, dan target jalan yang diselesaikan untuk wilayah jalan Mangorut-Rogdok seluas 1.500 meter, namun yang siap baru 1.300 meter, kenapa berkurang karena ada beberapa lokasi yang dibangun polongan dan kondisi jalan yang sedikit memakan ukuran," kata Markus salakkopa.

Meski sebagai ketua BPD, Markus mengaku tak mengetahui jumlah anggaran pembangunan jalan Mangorut-Rogdok. 

“Saya tidak tahu karena data belum diberikan oleh desa berapa anggaran dan besteknya seperti apa kami tidak tahu, dan persoalan ini juga sedang kami evaluasikan dengan desa, sedangkan untuk monitoring itu sudah kami lakukan dan beberapa catatan yang kami temukan dan nanti itu akan dievaluasikan dengan pemerintah desa,” katanya.

Sementara Ketua kelompok Pengelola jalan Mangorut-Rogdok, Antonius Kelei, menyebutkan anggaran pembangunan jalan mengalami pengurangan karena adanya pemotongan pajak dari total dana Rp50 juta tersisa Rp35 juta.

“Jadinya kami hanya mengelola Rp35 juta sisanya itu untuk pajak, awalnya yang baru dibayarkan hanya Rp16,5 juta dan biaya ini mereka (Pemdes Madobag) yang mengatur seperti beli semen dan material lainnya,” jelasnya.

Tersisa anggaran pembangunan yang belum dibayarkan Pemdes Madobag sebanyak Rp18,5 juta sementara pembangunan jalan sepanjang 100 meter sudah selesai.

Menurut Antonius, pihaknya tak bisa dipersalahkan kalau kualitas jalan tidak bagus sebab Pemdes Madobag hanya menyediakan 50 sak semen untuk membangun jalan 100 meter padahal yang dipesan oleh Tim Pelaksana Kegiatan Desa sebanyak 60 sak.

“Karena semen 10 sak tidak diberikan kepada kami terpaksa kami membuat bandingan material semen 1 sak dicampur dengan 2 gerobak kerikil dan 4 gerobak pasir, kami main gerobak bukan karung,” ujarnya.

Pada saat pengangkatan pengelola kelompok ini, kata Antonius, hanya main tunjuk oleh Kepala Desa Madobag, Robertus Sakulok. Setelah diangkat tidak ada kontrak kerja yang ditandatangani dan tidak ada penjelasan jumlah pemotongan pajak. Ukuran jalan baru diberitahu saat sudah kerja di lapangan.

"Termasuk juga bukti pembayaran kuitansi tidak ada sama kami, kami hanya menandatangani lalu kuitansinya ditangan TPK, jadi bukti sama kami tidak ada, mereka anggap kami kerja harian, Rancangan Anggaran Biaya jalan juga kami tidak tahu,” katanya.

Menanggapi hal itu, Kepala Desa Madobag, Robertus Sakulok, mengatakan jalan penghubung yang dibangun di Mangorut menuju Rogdok dengan anggaran senilai Rp300 juta lebih. Pengelola pekerjaan jalan itu sebanyak 15 pengelola kelompok pekerja namun yang baru siap dibangun  baru 12 kelompok,  3 kelompok lagi akan bekerja untuk dana tahap ketiga.

"Jadi untuk pembangunan jalan yang baru siap dibangun itu baru 12 paket, 3 paket lagi akan dicairkan tahap ketiga ini namun anggaran belum cair, yang dibangun jalan juga, kalau anggaran sudah cair akan kita kerjakan," kata Robertus.

Dana pertama, kata Robertus, telah dibayarkan Rp16,5 juta dan sisa yang belum dibayarkan sebanyak Rp12 juta. Ia menjelaskan sebenarnya dana pembangunan untuk satu paket jalan sebanyak Rp50 juta namun karena ada pemotongan Pajak Penghasilan (PPh), kemudian biaya perencanaan dan honot TPK, ditambah biaya pembuatan plang sehingga dana yang dikelola tinggal Rp35 juta.

Ada selisih jumlah dana yang tersisa yang disebutkan antar Robertus dan Antonius. Robertus menyebutkan sisa dana Rp12 juta sementara Antonius mengklaim sisa dana sebanyak Rp18,5 juta.

"Untuk plang jalan memang belum ada karena masih menunggu turun anggaran tahap ketiga ini karena berdasarkan perbup baru plangnya difoto, sebenarnya jalan itu belum bisa dibuka namun karena kebutuhan masyarakat jadinya cepat kita buka,” katanya.

Robertus mengatakan yang mengatur pembelian material semen adalah TPK dan tiap kelompok mendapat 60 sak. Namun dari informasi yang didapat dari TPK hanya 50 sak semen yang habis. Sisanya 10 sak diambil kembali oleh penyedia semen dengan alasan semen tak terpakai.

Namun MentawaiKita.com yang melakukan konfirmasi ulang terkait RAB jalan kepada kepala desa Madobag belum mendapat jawaban.

Tim Pengelola Kegiatan Desa (TPK) Madobak, Benediktus, mengaku tidak tahu jumlah keseluruhan anggaran pembangunan jalan. Ia membenarkan belum semua dana yang dibayarkan.

“Jika jalan rusak yang bertanggungjawab itu ketua kelompok yang mengerjakan di lapangan dan dananya pasti dipotong,” kata Benediktus.

Kontrak pembangunan jalan sendiri terhitung selama 3 bulan.

Kepala Gudang PT. Pasoka Sumber Karya, Erick Chandra, yang menjadi penyedia semen mengatakan semen yang dikeluarkan untuk Desa Madobak sebanyak 670 sak yang diangkut oleh mobil Bumdes. Harga tiap sak Rp73 ribu.

"Waktu pengambilan semen yang dikeluarkan sesuai dengan permintaan pemerintah desa itulah yang kami keluarkan, soal 10 sak yang katanya kami tarik itu saya kurang tahu, karena yang dilansir sebanyak 670 sak itulah yang dibawa ke mobil," kata Erick.

Ia mengaku tak tahu informasi lain di tingkat desa, “karena sebatas inilah setahu saya dan soal jumlah adanya pengurangan semen di lapangan saya kurang tahu, terkait tuduhan kepala desa ke kami itu tidak benar,” katanya.

Kepala Seksi Kesejahteraan Masyarakat Kecamatan Siberut Selatan, Elizati Zebua, mengatakan pembangunan jalan Mangorut-Rogdok sudah selesai dibangun. Namun setelah dilakukan pengecekan oleh tim kecaman maka ada tiga catatan yang perlu dilakukan yakni yakni plang tidak ada, ketebalan jalan kurang dan adukan semen yang kurang dan tidak sesuai dengan standar. Kalau untuk standar bandingannya 1 sak semen, 3 karung kerikil, 5 karung pasir itu bandingannya.

"Untuk anggaran jalan saya belum tahu karena sampai saat ini RAB belum diserahkan ke saya pada saat monitoring saya cari data di BPD juga tidak ada, yang seharusnya data itu sudah diserahkan ke kecamatan karena 4 desa lain sudah menyerahkan tinggal Desa Madobag yang belum menyerahkan, sudah beberapa kali dikasih tahu bahkan disurati juga belum ada tindakan sampai sekarang, untuk Surat Pertanggungjawaban (SPj)saja tahap kedua ini belum selesai dan belum diserahkan desa padahal bulan 12 ini terakhir," kata Elifati Zebua.

Menurut Elifati pengenaan pajak terhadap pekerjaan itu tidak masuk akal, sebab barang yang kena pajak hanya material pabrikan seperti semen dan jumlahnya tidak seberapa. Namun jika pajak 1 kelompok mencapai Rp15 juta itu tidak ada dasarnya, sebab pajak material seperti pasir dan kerikil tidak dibayarkan kecuali pulajuk mone (ganti rugi) kepada pemilik tanah dan itu juga jumlahnya tidak sebanyak itu.

“Material lokal seperti pasir dan kerikil itu tidak dipajak lagi kecuali pulajuk kepada pemilik tanah itu wajar, namun tidak dibunyikan pajak itu dalam pelaporan, pajak kok sampai Rp15 juta 1 organisasi yang benar aja," katanya.

Elifati juga menyoroti alasan pengurangan semen dari 60 sak menjadi 50 sak. Namun Elifati belum mau berkomentar banyak sebab belum memiliki RAB jalan itu.

“Yang lucunya kepada Tim Pengelola Kegiatan Desa juga tidak memiliki RAB, lalu jalan dikerjakan dasarnya apa, masa pembangunan ada tidak ada rencana kerjanya, terus PPTK bilang ada sama kepala desa, dan bendaharanya karena yang mengendalikan mereka PPTK desa hanya diperintah dan bekerja,” katanya

Pendamping Desa Madobag, Eliasar, menyebutkan dana pembangunan jalan Mangorut-Rogdok sebanyak 12 paket sebanyak Rp800 juta termasuk PPN 10 persen, PPA 1,5 persen. Jumlah dana tersebut tidak singkron dengan apa yang disebutkan Kepala Desa Madobak, Robertus yang hanya menyebutkan dananya sekitar Rp300 juta lebih. 

“Untuk total anggaran keseluruhan saya tidak tahu karena di tangan saya sebagai pendamping tidak diserahkan RAB yang seharusnya ada di tangan saya sebagai pendamping, saat pembahasan anggaran saja saya tidak diberi tahu makanya saat saya ke lapangan pekerjaan sudah dimulai,"katanya.

Untuk pembagian pengelolaan jalan Mangorut-Rogdok dikelola 2 tahap, dengan panjang jalan yang dibuat dalam satu organisasi 100 meter, lebar 2 meter, dan proyek ini akan dikelola secara suakelola lebih banyak melibatkan masyarakat lokal. 


BACA JUGA