Asap Kebakaran di Puro Sudah Sudah Masuk ke Pemukiman

Asap Kebakaran di Puro Sudah Sudah Masuk ke Pemukiman Warga membuat parit agar api tidak menjalar ke ladang yang lain. (Fot0: Hendri/Mentawaikita.com)

MUARA SIBERUT-Sampai hari ini kebakaran masih terus terjadi di Dusun Puro, Desa Muara Siberut, Kecamatan Siberut Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. 

Eliasar warga Puro mengatakan kebakaran lahan di Puro masih terjadi yang membakar ladang sagu masyarakat dan tanaman pinang lainnya, pantauan masyarakat masih ada beberapa titik api yang belum padam, sehingga saat angin kencang api membesar dan mengakibatkan asap di Puro.

"Kita sangat menyesalkan atas tindakan pemilik lahan yang membakar ladang dengan cara membakar, dulu orang Mentawai tidak pernah membakar ladang sekarang, ingin supaya ladangnya cepat bersih dilakukannlah dengan cara membakar akhirnya bukan satu lahan yang terbakar namun semua lahan terbakar, sampai sekarang ini api masih tetap ada, dan dibiarkan begitu saja, ada beberapa pemilik sagu melihat sagunya dan ikut sedikit-sedikit memadamkan api,” kata Eliasar, Senin (4/11/2019) 

Kebakaran lahan yang terjadi beberapa bulan terakhir ini di Kecamatan Siberut kebanyakan disengaja oleh pemilik lahan dengan target lahan bisa bersih tanpa dirambah.

Camat Siberut Selatan Hijon mengatakan, luas lahan yang sudah terbakar di Kecamatan Siberut Selatan ada 70 hektar yang membakar perladangan masyarakat maupun hutan yang dibakar dengan cara disengaja dengan target lahan yang dimilki bisa cepat bersih.

Ada beberapa lokasi kebakaran seperti di daerah Majobulu, arah jalan Maileppet-Saliguma, Puro, dan perladangan di bukit bagian seberang Muara Siberut, dan kebanyakan yang terbakar perladangan. "Awalnya masyarakat atau pemilik lahan membakar ladangnya lalu pergi tanpa menjaganya sehingga api membesar dan mengakibatkan kebakaran dan menyebar keberapa tempat. Memang kebanyakan lahan dibakar dengan sengaja,"kata Hijon.

Orang mentawai secara tradisi tidak ada namanya membersihkan lahan dengan cara membakar namun, kayu ditebang atau dibersihkan lalu dibiarkan begitu saja, karena memang hutan tidak boleh dibersihkan dengan cara membakar. “Ada kepercayaan orang Mentawai semua di hutan mempunyai kehidupan dan penghuni, membuka lahan saja harus ada ritualnya. Makanya dengan cara tradisi yang diajarkan kita harus pelihara dan ikuti agar kebakaran tidak terjadi lagi di Siberut,” ungkapnya.

Anggora Damkar Siberut Selatan Fransiskus, untuk lokasi kebakaran di Siberut ada beberapa tempat yakni, Majobulu, Puro, arah aliguma, dan seberang Muara Siberut daerah (Sirua Leleu). “Arah Majobulu dan Saliguma mobil Damkar masuk lokasi, sedangkan arah Puro dan lainnya tidak bisa diatasi Damkar karena lokasinya jauh, kalau di Puro itu dibantu oleh masyarakat dengan cara manual,” katanya.




BACA JUGA