Dalam Dua Bulan, 60 Hektar Lahan Terbakar di Pagai

Dalam Dua Bulan 60 Hektar Lahan Terbakar di Pagai Mobil Damkar Kecamatan Sikakap sedang mengisi air di kolam milik Man Hulu di Dusun Mabola Desa Sikakap, Mentawai. (Foto: Supri/Mentawaikita.com)

SIKAKAP—Seluas 60 hektar hutan dan lahan masyarakat di Pulau Pagai Utara Selatan Kepulauan Mentawai terbakar dalam kurun waktu dua bulan. Kebakaran dipicu kemarau dan perilaku masyarakat membakar ladang saat pembersihan.

"Musim kemarau panjang dan kebiasaan masyarakat membakar bekas bersihan rumput di ladangnya, hal ini penyebab utama terjadinya kebakaran lahan dan perladangan masyarakat, perkiraan kita tim Damkar sejak September sampai awal November ini sudah ada lebih kurang 60 hektar lahan dan perladangan masyarakat yang terbakar," kata Rahmat Hidayat, Danru Damkar Kecamatan Sikakap, Senin (4/11/2019).

Dia menyebut, dari hitungannya sudah ada sekitar 7 kali kebakaran lahan yang terjadi di Kecamatan Sikakap, dua kali di Kecamatan Pagai Utara,  dan satu kali di Pagai Selatan. 

“Di Desa Matobe Kecamatan Sikakap sudah empat kali terjadi kebakaran lahan dan perladangan masyarakat yakni Dusun Makilat dan Dusun Tak Monga, luas lahan yang terbakar diprediksi lebih kurang 20 hektar, Dusun Cempungan dan Dusun Panatarat yang apinya sampai sekarang diperkirakan masih hidup mengarah ke pantai lahan yang terbakar di sana lebih kurang 30 hektar, perladangan masyarakat di belakang SMKN 3 Mentawai Dusun Panatarat, Desa Sikakap dua kali yakni di Dusun Sikakap Barat, Dusun HVA, Desa Taikako 1 kalai di Dusun Sikautek,” katanya. 

Dari 7 kebakaran tersebut, ada 2 titik yang skalanya besar yakni kebakaran lahan di Dusun Panatarat dan Dusun Cempungan serta kebakaran lahan di Dusun Makilat dan Tak Mongga, Desa Matobe.

Lahan yang terbakar itu pada umumnya perladangan masyarakat seperti cengkeh, jengkol, petai, pisang bahkan ada juga tanaman sawit. "Berapa besar kerugian masyarakat akibat kebakaran lahan perladangan itu kami tidak tahu sebab kami fokus ke pemadaman api saja," katanya.

Herman (52), warga Dusun Cempungan mengatakan, sekarang ini api bisa dikatakan masih hidup di lahan yang terbakar di Dusun Cempungan dengan bukti asap masih ada, tapi sudah mengarah ke pantai, katanya. 

Sementara Kapten INF Putra Damanik mengatakan, Muspika Kecamatan Sikakap menegaskan kepada masyarakat agar jangan membersihkan lahan perladangan dengan cara membakar, karena bisa tersandung hukum.

“Kebakaran yang terjadi sekarang ini semuanya ulah masyarakat, dimana setelah melakukan pembersihan lahan masyarakat langsung membakar rumput yang telah dipotong tadi, memang api sudah dimatikan tapi setelah ditinggalkan sisa-sisa api kebakaran tersebut kembali hidup akibat ditiup angin, karena sekarang musim kemarau sedikit saja ada percikan api makan langsung api tersebut menyebar, lihatlah sekarang di Dusun Cempungan, Desa Matobe, lahan yang terbakar itu masih hidup juga apinya,” katanya.

Sesuai dengan Undang-Undang No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan Pasal 78 Ayat 3 sanksi bagi pelaku kebakaran hutan atau lahan akan dikenai kurungan 15 tahun penjara dan denda Rp5 miliar. Dan Pasal 78 Ayat 4 berbunyi: bagi pelaku pembakaran hutan atau lahan akan dikenai kurungan 5 tahun penjara dan denda Rp1,5 miliar, katanya.

BACA JUGA