Nasib Puluhan Warga Pulitcoman yang Diusir Karena Tudingan Isu Santet

Nasib Puluhan Warga Pulitcoman yang Diusir Karena Tudingan Isu Santet Lokasi tempat penampungan warga Pulitcoman Kecamatan Siberut Barat di TPI Tuapeijat, Sipora Utara, Mentawai. (Foto: Patrisius/Mentawaikita.com)

TUAPEIJAT-Tempat Pelelangan Ikan (TPI) di Kilometer 1 Sipora Utara Kabupaten Kepulauan Mentawai seperti tak biasa. Di lokasi itu, tampak sejumlah petugas keamanan dari Polri dan TNI berjaga-jaga, Rabu (23/10/2019) pagi.

Di sana ada 32 orang usia dewasa dan anak-anak asal Pulitcoman Kecamatan Siberut Barat yang mengungsi karena telah diusir warga kampungnya karena dituduh telah melakukan santet.

Kedatangan mereka ke Tuapeijat merupakan inisiatif Pemda Mentawai untuk menjamin dan memberikan rasa aman kepada warganya, karena warga di kampungnya sudah tak lagi menerima kehadiran mereka di Pulitcoman.

Bahkan di lokasi tersebut, salah satu ruang dengan dinding terbuka telah disekat atau diberi pembatas papan jenis triplek dibagi menjadi beberapa kamar sebagai tempat istirahat yang difasilitasi Pemda Mentawai melalui oleh Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Kabupaten Kepulauan Mentawai.

Selain itu, juga disediakan dapur umum untuk menyediakan makanan dan minuman pengungsi, serta pos pelayanan medis dari Puskesmas Mapaddegat. Data tim medis yang melakukan pemeriksaan kesehatan, setelah tiba dari Pulitcoman ada empat pasien yang dirujuk untuk dirawat di RSUD Mentawai karena sakit sejak masih di daerah asalnya.

Kehadiran pengungsi dari Pulitcoman itu membuat sebagian pedagang ikan protes. Alasannya lokasi yang menjadi tempat penampungan sementara warga Pulitcoman tersebut dinilai tidak tepat karena merupakan akses publik. “Tentu saja sebagai manusia kita khawatir, siapa yang akan bertanggung jawab jika dikemudian hari terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan kembali,” kata Bujang Samoiri, salah satu pedagang di TPI Tuapeijat.

Tak hanya itu, kehadiran warga Pulitcoman yang berlokasi dekat dengan TPI, kata Bujang telah mengakibatkan menurunnya minat pembeli sehingga omset penjualan ikan menurun di TPI tersebut. “Bagaimana tidak sepi, pembeli pastilah mereka khawatir kalau ke sini lokasi penampungan dekat dengan jalan yang menjadi akses ke sini, kita berharap mereka dipindahkan dan mencari tempat lainlah yang tepat, jangan dekat penjualan ikan,” kata Bujang.

Diperoleh informasi bahwa ternyata para pedagang ikan tersebut sehari sebelumnya telah melakukan aksi mogok tidak menjual ikan di TPI, sebagian pedagang menjual ikan dekat rumah karena khawatir sepi pembeli jika masih berdagang di TPI dengan kondisi saat ini.

Aksi mogok pedagang ikan masih terjadi meski masih ada sejumlah pedagang ikan memilih tetap berdagang, salah satunya Efendi (50) pedagang ikan di TPI bersama dengan beberapa pedagang lain memilih kembali berjualan ikan.

“Ini soal kekhawatiran kita saja, itu hal wajar terjadi tentu melihat hal itu juga kita harus bijak mengambil sikap, tidak mungkin juga mereka ketika melihat kita di sini langsung santet,” kata Efendi saat berbincang di tempat dia menjual ikan di TPI pada Rabu, (23/10).

Di lokasi tersebut Sekda bersama rombongan Forkopimda, Camat, Kepala Desa tiba meninjau lokasi dan keadaan warga di penampugan sementara, dari keterangan yang diterima langsung dari Sekda di lokasi, Pemda Mentawai akan memfasitasi dan membimbing masyarakat tersebut dengan melakukan evaluasi, mediasi dengan mereka sehingga dengan harapan mereka bisa kembali ke asalnya di Pulitcoman.

“Penampungan ini sifatnya hanya sementara sekira 2-3 bulan, kita akan evaluasi, selama ini memang ada penolakan tugas kitalah memberikan bimbingan kepada mereka, peran tokoh agama, tokoh masyarakat diperlukan untuk meluruskan apa yang telah terjadi, kita akan melakukan mediasi sehingga ke depannya mereka bisa kembali lagi ke asalnya, mereka juga tidak ingin tinggal di Tuapeijat, justru ingin kembali ke kampungnya,” kata Sekda saat memantau kondisi di TPI.

Kepada mereka juga akan diberikan trauma healing atau pemulihan trauma, karena sebagian warga yang diungsikan ke Tuapeijat tersebut ada anak-anak usia sekolah. Dan anak-anak yang ikut dan menjadi korban pengusiran karena tudingan isu santet tersebut akan dipindahkan di sekolah di Tuapeijat di SDN 16 Tuapeijat, Kilometer. Anak usia sekolah ada 14 orang yang terdiri anak usia SD 10 orang dan 4 orang adalah usia TK dan PAUD.

BACA JUGA