Menembus Beratnya Jalur Setapak Pedalaman Siberut Utara Menuju Siberut Barat

Menembus Beratnya Jalur Setapak Pedalaman Siberut Utara Menuju Siberut Barat Tim berjalan menyusuri sungai bercelah tebing sempit di Sinindiu, rute jalan setapak dari Bojakan menuju Lubaga yang menjadi akses warga dari pedalaman SIberut Barat ke Siberut Utara atau sebaliknya. (Foto: Patrisius/Mentawaikita.com)

MENTAWAI-Selama lebih kurang 10 hari, saya bersama rekan fotografer Mentawaikita.com, Patrisius Sanene mencoba menjajaki rute pedalaman Siberut Utara menuju Siberut Barat, untuk melihat dari dekat kehidupan masyarakat sepanjang jalur yang sebagian besar masuk dalam kawasan Taman Nasional Siberut.

Perjalanan kami awali dari Sikabaluan menuju Bojakan menggunakan ojek motor dan pompong, sejenis perahu bermesin kecil, biasanya digunakan untuk mengarungi sungai yang dangkal. Dari Dusun Bojakan menuju Dusun Lubaga ditempuh dengan jalan kaki dengan kondisi jalan setapak dan hutan lebat. Kadang melipir di pinggir dan punggungan bukit dengan tanjakan dan turunan tajam. Terkadang melewati titian kayu panjang. Sesekali, jalur juga melewati sungai.

Di sebuah pondok persinggahan di Sinindiu, hutan di pertengahan antara Bojakan dan Lubaga, kami bertemu Gorougou Sabambam bersama istrinya, Baoik Sakerebau yang tengah bermalam di sana. Kaki Gorougou tampak bengkak. Ternyata mereka sudah dua hari mereka bermalam di sana lantaran Gorougou tengah sakit setelah kaki kanannya digigit ular saat mencari rotan liar di hutan. Tubuhnya mendemam dan sulit pulang ke Lubaga.

“Kami sudah kasih kabar pada pihak keluarga lewat orang yang lewat kemaren. Mudah-mudahan pihak keluarga cepat datang karena kaki suami saya sudah membengkak,” kata Baoik pada Mentawaikita.com, Kamis (26/9/2019).

Selama dua hari itu, Baoik membalurkan sejumlah daun yang berkhasiat sebagai penawar racun ke luka bekas gigitan ular di kaki suaminya. Sedangkan untuk makanan selama menunggu keluarga, Baoik memanaskan sagu dan ikan yang mereka bawa dari Lubaga yang dimasak dalam bambu. “Suami saya mendemam. Mau pulang tidak bisa karena tidak bisa jalan. Mau tinggalkan dia sendiri untuk memanggil bantuan nanti terjadi apa-apa tidak ada yang tahu,” katanya.

Dijelaskan Baoik, bila pihak keluarga datang menjemput solusi satu-satunya untuk membawa suaminya ke Dusun Lubaga hanya dengan ditandu melewati jalur jalan setapak yang biasa dilalui masyarakat Bojakan. “Ini satu-satunya jalur yang ada. Orang mau jemput barang dagangan ke Sikabaluan (pusat Kecamatan Siberut Utara), mau libur sekolah atau ada urusan ke pusat desa mesti melewati jalur ini,” katanya.

Kamis malam sekira pukul 19.20 WIB, keluarga Gorougou datang. Namun karena sudah malam, mereka mesti menunggu esok pagi untuk bergerak menuju Dusun Lubaga. Pertemuan dengan Gorogou dan Baoik sungguh menyentuh perasaan, betapa masyarakat yang bermukim di hulu Siberut Utara ini belum tersentuh pembangunan terutama infrastruktur jalan. Sehari-hari mereka hidup dalam keterbatasan akses transportasi.

Kondisi ini tak hanya dirasakan warga yang bermukim di jalur Dusun Bai’-Lubaga-Bojakan-Sotboyak Kecamatan Siberut Utara, namun juga jalur Simalibbeg-Kulumen/Lakoen-Masaba-Limau Desa Simatalu Kecamatan Siberut Barat menuju Sirisurak-Simoilaklak-Saibi Kecamatan Siberut Tengah.

Daud Siribere, warga Dusun Masaba Desa Sitamalu yang kami temui Rabu, 2 Oktober 2019 mesti berjuang keras melewati jalur tersebut demi melihat anaknya, Maria Juwita Siribere (8 bulan) yang tengah dirawat di Puskesmas Simatalu karena sesak napas akibat batuk. “Saya dapat kabar dari keluarga kalau anak saya dirujuk ke puskesmas. Kebetulan saya baru sampai di Saibi sehabis pencairan anggaran pembangunan gereja dari Tuapeijat. Di Simalibbeg juga ada jaringan telpon jadi bisa dapat kabar,” katanya Kamis (3/10/2019).

Setelah mendapat informasi kalau anaknya sedang dirawat di Puskesmas Simatalu, Rabu (2/10/2019) sekitar pukul 17.30 WIB, Daud mulai berjalan kaki dari Sirisurak menuju Limau hingga Masaba menggunakan jalur setapak. Dari Saibi menuju Sirisurak, Daud menggunakan jasa ojek. “Saya mulai jalan itu dari Sirisurak menuju Limau hingga Masaba,” katanya.

Dengan senter sebagai penerangan, Daud menerobos hutan lebat dan menapaki jalur setapak yang ada punggung bukit. Dia baru sampai di rumahnya di Dusun Masaba pada pukul 02.30 WIB dini hari. “Tanpa istirahat saya langsung siapkan pompong dengan pikiran untuk cepat sampai di Simalibbeg. Ternyata saya salah karena kondisi air sangat dangkal,” katanya.

Dari Masaba sekitar pukul 03.00 WIB. Ia tiba di Simalibbeg sekitar pukul 10.15 WIB karena lebih banyak mendorong sampan pada jalur-jalur yang sangat dangkal. “Dari Masaba menuju Simalibbeg belum jelas jalur setapaknya karena selama ini masyarakat hanya mengandalkan jalur sungai,” katanya.

Biasanya dalam kondisi debit air sungai yang normal untuk dilewati pompong, jarak antara Simalibbeg dengan Masaba dapat ditempuh tiga jam perjalanan.

Perjuangan yang luar biasa juga dilalui istri Daud, Linarti Siritoitet saat membawa Maria dirujuk dari Polindes Masaba menuju Puskesmas Simatalu. Mereka berangkat dari Masaba sekitar pukul 08.00 WIB dan tiba di Simalibbeg pada sekitar pukul 19.00 WIB. “Karena kami banyak dan sering mendorong. Kalau datang berdua dengan anak tidak mungkin juga. Makanya bawa saudara dan orang yang bantu bawa pompong,” katanya.

Pondok singgah di Sinindiu menjadi tempat bermalam warga yang melintasi rute pedalaman tersebut. Pondok itu dibangun pemerintah desa melalui dana desa pada 2017, dengan ukuran bangunan 7m x 9 m dengan berlantai dan berdindingkan papan dan beratapkan seng. “Bebarapa bagian dinding sudah lepas karena dirusak oknum masyarakat. Sengnya saja mereka tebas pakai parang,” kata Silvester, Sekretaris Desa Bojakan.

Tujuan pembangunan pondok singgah, dikatakan Silvester, membantu masyarakat yang kemalaman saat menempuh perjalanan dari Bojakan ke Lubaga. Biasanya yang melintas adalah warga yang berdagang dan membeli barang di Sikabaluan (pusat Kecamatan Siberut Tengah), guru dan masyarakat.

Sementara untuk membangun jalan dari Bojakan menuju Lubaga dan Bai’, menurut Jambar, staf Pemerintah Desa Bojakan, pihaknya belum berani mengingat kondisi medan yang sulit dan akses mobililasi material yang susah yang membutuhkan biaya yang sangat besar. “Target kepala desa hingga berakhir masa periodenya pada 2021, hanya rampung pembangunan jalan rabat beton lingkar dusun,” katanya.

Pada 2017, pernah dibuka akses jalan di jalur Lubaga-Sinindiu dengan pembersihan dan penebangan pohon pada jalur setapak, pemasangan kayu sebagai pijakan pada jalur yang licin serta pemasangan titian. “Namun sekarang sudah rusak karena sering dilewati masyarakat. Pohon sudah mulai tumbuh dan menutupi jalur yang pernah dibuka,” katanya.

Sementara di Siberut Barat, Jop Sirirui, Camat Siberut Barat mengatakan, jalur darat yang sudah ada meliputi jalur pantai, mulai dari arah Muara Simalegi-Sakaladhat-Sutekuleu-Betaet Desa Simalegi hingga Saikoat-Limu-Bojo-Simalibbeg Desa Simatalu.

“Untuk ke Dusun Muara dan Simalegi Tengah terhubung pada tahun depan. Begitu juga dari Simalibbeg menuju Paipajet akan terhubung pada tahun depan melalui dana desa dan dana pembangunan yang dikelola kecamatan,” katanya.

Untuk jalur sungai Simatalu, dikatakan Jop, pola pembangunan yang dilakukan pemerintah Desa Simatalu sudah baik mengingat luas wilayah desa yang sangat luas. Dimana wilayah III yang meliputi jalur Simalibbeg-Kulumen/Lakoen-Masaba-Limau akan dibangun pada 2021.

“Artinya pada pola pembangunan selama periode kepala desa sekarang satu wilayah itu akan mendapat dua kali fokus pembangunan. Kita berharap ini dapat menghubungkan dan memudahkan akses masyarakat di wilayah Desa Simatalu baik jalur pantai dan jalur sungai,” katanya.

BACA JUGA