Kerap Tenggelam, Dishub Mentawai Minta 2 Bus Air untuk Siswa kepada Menhub

Kerap Tenggelam Dishub Mentawai Minta  2 Bus Air untuk Siswa kepada Menhub Perahu yang ditumpangi siswa di Sikakap tenggelam (Foto : Supri/MentawaiKita.com)

SIKAKAP—Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Kepulauan Mentawai meminta 2 unit bus air kepada Direktorat Jenderal Perhubungan Darat  (Dirjendat) Kementerian Perhubungan RI untuk digunakan siswa-siswi yang berada di Pulau Pagai Utara dan Selatan sebab selama ini angkutan yang mereka gunakan kerap tenggelam.

Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Kepulauan Mentawai, Edi Sukarni, mengatakan dirinya beberapa kali mendapat informasi bahwa speed boat yang dipakai siswa menyeberangi selat Sikakap dari Pagai Utara ke Pagai Selatan atau sebaliknya sering terbalik dan karam. Dampak kecelakaan itu menyebabkan baju dan buku siswa basah, meski belum sampai merenggut nyawa orang.

“Terus terang saya sangat prihatin sekali mendengar beberapa kali boat yang mengangkut anak sekolah waktu penyeberangan di selat Sikakap terbenam akibatnya pakaian dan buku menjadi basah, sebelum ada korban jiwa dalam waktu dekat ini kita akan usulkan 2 unit bus air untuk anak sekolah di Desa Sikakap," kata Edi Sukarni kepada MentawaiKita.com, Jumat (11/10/2019).

Edi Sukarni, menyebutkan saat ini Pemkab Mentawai sudah menyediakan satu unit kapal LCT Teluk Katurei untuk penyeberangan anak sekolah tapi tidak semua anak sekolah yang bisa menikmatinya sebab kapal itu berlabuh di Polaga, Dusun Seay Baru. 

Jika naik kapal itu, lanjut dia, siswa SMAN 1 PUS dari Pulau Pagai Utara terpaksa berjalan kaki sekitar 1 km lebih menuju sekolah. Itulah yang menjadi dasar mereka (siswa) masih menggunakan jasa angkutan laut lain seperti speed boat.

“Beberapa kali terjadi speed boat pelajar terbenam itu disebabkan karena kemungkinan muatan berlebih misalnya muatan 1 boat hanya 10 orang tapi diisi 15 orang penyeberangan risiko tinggi, harapan saya semoga saja usulan ini nanti dapat dikabulkan oleh Dirjendat Kementerian Perhubungan nantinya sebelum jatuh korban para generasi penerus kita,” katanya.

Kepala Desa Sikakap, San Andi Iklas, mengaku prihatin sebab ada kasus kecelakaan laut  yang mengangkut siswa. 

“Terbenamnya speed boat itu disebabkan muatan yang berlebih sebelum terjadi korban jiwa kita mengimbau kepada para operator agar jangan mengisi penumpang itu berlebihan apa lagi sekarang ini musim angin kencang akibatnya gelombang air laut menjadi besar," katanya.

Inka Taruni, pelajar SMAN 1 PUS, salah salah satu korban speed boat terbenam, mengatakan waktu pulang sekolah Senin 23 Agustus boat yang ditumpanginya bersama teman-teman terbenam.

“Untung saja sebelum boat itu terbenam seluruhnya, datang bantuan speed boat lainnya, waktu itu air di dalam perahu sudah sampai ke atas lutut, saya tidak bisa berenang, sebelum terbenam saya tarik tangan kawan yang sudah berada di boat bantuan yang membantu kami, tangannya saya tarik dan akhirnya saya bisa naik ke perahu itu yang membantu kami," katanya.

Sahinir, Guru SDN21 Makalo yang juga menjadi korban kecelakaan boat angkutan sekolah mengaku dirinya menolong  enam siswa untuk naik ke perahu yang membantu sebelum tenggelam.

“Waktu speed boat terbenam itu saya berada di atas, dan sempat menolong enam orang siswa SMAN 1 PUS  naik ke atas speed boat yang datang untuk menolong,” katanya. 


BACA JUGA