Disparpora Mentawai Bangun Fasilitas Wisata di Air Terjun Kulukubuk

Disparpora Mentawai Bangun Fasilitas Wisata di Air Terjun Kulukubuk Air terjun Kulukubuk di Desa Madobag yang indah. Saat ini sedang dibangun fasilitas wisata di lokasi tersebut. (Foto: Rus/Mentawaikita.com)

TUAPEIJAT- Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Kepulauan Mentawai sedang mengembangkan infrastruktur wisata di kawasan Air Terjun Kulukubuk, Desa Madobag, Siberut Selatan. Kepala Disparpora Mentawai Joni Anwar mengatakan, saat ini sedang dibangun panggung kesenian, gazebo dan jalur trekking menuju air terjun.

Sementara pembangunan kawasan wisata di Desa Muntei akan direncanakan tahun depan. Sedang di Katiet sedang dibangun homestay dari Kementerian Desa, yang nantinya dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) sedangkan pajaknya masuk ke kas Pemerintah Daerah. “Pengelolanya khusus homestay di Katiet itu Bumdes, tapi terkait pajaknya masuk ke Pemda,  tapi kalau untuk pembangunan homestay di Katiet itu dipegang oleh Bappeda,” katanya saat ditemui di ruang kerjanya, Senin, (7/10/2019).

Mentawai, jelas Joni, saat ini tengah mengembangkan pariwisata alam dan budaya melalui program 3M, 1K (Madobag, Muntei dan Mapaddegat, serta Katiet).

“Dimana di Mapaddegat ini kita akan kembangkan wisata domestik, sedangkan di Muntei yaitu budaya sementara Madobag adalah alam, ini yang menjadi perhatian kita, kalau surfing (selancar) dia nanti lama-lama kan hilang, bahkan sudah menjadi kebutuhan umumlah itu,” kata Kepala Disparpora Mentawai, Joni Anwar

Lebih lanjut ia sampaikan, bahwa pihaknya ke depan yang lebih mengembangkan pariwisata yang terintegrasi, saat ini juga Dinas terkait mendapat Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk peningkatan mutu pariwisata baik fisik maupun non fisik, seperti non fisik yaitu melalui pelatihan-pelatiahn kepariwisataan kepada masyarakat penjaga pantai, pelatihan homestay serta pembinaan pembuatan kuliner.

“Artinya dengan pelatihan-pelatihan tersebut masyarakat bisa menjadi pengelola atau pelaku wisata, jadi tidak hanya sekedar investor yang kita harapkan, tapi masyarakat juga bisa terlibat, dia tidak lagi sebagai objek tetapi juga sebagai subjeknya (pelaku), nah dengan ini masyarakat bisa memberdayakan satu kamar saja sudah cukup untuk disewakan kepada wisatawan, karena tidak ada homestay di kampung-kampung, termasuk sanitasi serta kebersihan,” ungkapnya.

Kemudian pelatihan kuliner dimana Disparpora membina masyarakat dengan mendatangkan chef profesional untuk melatih masyarakat, dengan tujuan bagaimana masyarakat membuat produk kuliner dengan bahan-bahan lokal, seperti ubi, pisang, sagu dan keladi.

Pengembangan pariwisata terintegrasi, kata Joni Anwar untuk menyiapkan n jika suatu saat peraturan tentang kepemilikan wilayah yang berkaitan dengan perekonomian pariwisata, baik di atas laut maupun di dasar laut, bukan tidak mungkin akan dialihkan ke pemerintahan provinsi.

“Setiap orang yang melakukan kegiatan di atas permukaan air, ataupun di bawah permukaan air termasuk snorkeling, diving, itu menjadi pembinaan provinsi, sejalan dengan perkembangan regulasi seperti itu kita lakukan pengembangan kawasan-kawasan itu, kalau itu nanti masuk ke pemerintahan provinsi itu akan hilang, PADnya akan dikelola pihak provinsi lagi, jadi kita berbuat apa, nah dari sekarang ini kita siapkan wista alam, budaya selain surfing, kalau tidak dari sekarang kita siap, bagaimana,” katanya.

BACA JUGA