Kebakaran Lahan Meluas 20 Hektar di Sikakap Mentawai

Kebakaran Lahan Meluas 20 Hektar di Sikakap Mentawai TNI, polisi, petugas Damkar, dan warga Matobe, Sikakap, Mentawai sedang berusaha memadamkan api di lokasi kebakaran. (Foto: Supri/Mentawaikita.com)

MATOBE--Kebakaran Lahan di Dusun Makilat dan Dusun Tak Monga, Desa Matobe, Kecamatan Sikakap Kabupaten Kepulauan Mentawai telah meluas sekitar 20 hektar. Kebakaran terjadi sejak Jumat (20/9/2019), api diperkirakan bersumber dari areal persawahan warga.

Selama dua hari api masih kecil sehingga warga tak terlalu menghiraukan kebakaran tersebut, Namun pada Minggu (22/9/2019) sekitar pukul 11.00 WIB, warga yang lagi beribadah di Gereja Kristen Protestan Mentawai (GKPM) Desa Matobe terganggu ibadahnya karena asap warna kecoklatan-coklatan sudah begitu banyak bahkan asap tersebut sudah masuk ke Geraja GKPM Matobe.

Melihat hal itu ada beberapa warga terpaksa keluar dari Gereja melihat dari mana sumber asap. "Kebakaran sudah terjadi sejak Jumat (20/9/2019) tapi waktu itu kebakaran hanya sedikit saja, karena kebakaran hanya sedikit sehingga warga tidak begitu menghiraukan, warga mulai resah sejak Minggu karena asap sudah begitu banyak dan api sudah mulai mendekat ke rumah warga, kalau kita lihat sekarang kebakaran sekarang sudah meluas sekitar 20 hektar,"kata Silvanus, Kepala Desa Matobe, Minggu (22/9/2019) di lokasi kebakaran.

Silvanus menyebutkan, di lokasi persawahan masyarakat luasnya ada sekitar 15 hektar lebih ditambah lahan yang terbakar di belakang perkampungan warga Dusun Makilat dan Dusun Tak Monga, sampai pukul 17.21 WIB api masih ada yang hidup dengan bukti masih ada kumparan asap di lokasi beberapa titik pusat kebakaran.

Sebelum mobil damkar datang yang bisa dilakukan masyarakat hanya menyiram dengan mengunakan ember dan alat semprot. "Berkat bantuan dari masyarakat Desa Matobe dan Muspika Kecamatan Sikakap sehingga api tidak sampai ke rumah masyarakat, karena api masih ada yang hidup, nanti malam kita akan ronda untuk menjaga siapa tahu kalau angin kencang tentu api akan besar kembali," katanya.

Jhoni Sida, warga Dusun Tak Monga mengatakan, bersama warga lain berupaya ikut memadamkan api yang sudah besar. “Saya menyiram rumahnya agar tidak dimakan api,” katanya.

Bilsan Salamanang, warga Dusun Tak Monga, mengatakan waktu api membesar yang bisa dilakukan hanya menyiram rumah beberapa warga yang atapnya terbuat dari rumbia dan dindingnya dari kayu, supaya api tidak menyebar ke rumah warga lain. “Waktu pertama besar api asap begitu banyak sehingga untuk bernapas saja sulit sekali, terpaksa harus pakai masker,” katanya.

Peltu Dwi Wahyono, Kamla Sikakap di lokasi kebakaran mengatakan, jika kebakaran tak cepat diatasi maka bisa saja sampai ke pemukiman warga. “Sekarang ini bagi warga yang ingin membuka lahan janganlah lakukan dengan cara membakar, sebab sedikit saja lahan yang terbakar di tambah lagi angin kencang sehingga dengan cepat api akan menyebar,

"Sekarang ini walaupun sudah beberapa kali disiram api dengan menggunakan mobil damkar tapi masih saja hidup api hal ini disebabkan karena luasnya lahan yang terbakar, mobil Damkar tentu hanya bisa sampai sejauh mana selang airnya, kalau sudah melewati panjang selang air tentu tidak bisa lagi, berkat kerjasama masyarakat sehingga api sudah tidak sebesar pertama tadi," katanya.

BACA JUGA