Mentawai Terima Dua Penghargaan Aksara Tingkat Nasional

Mentawai Terima Dua Penghargaan Aksara Tingkat Nasional Bupati Kepulauan Mentawai YudasSabaggalet (baju kemeja merah) menerima penghargaan dalam rangka Hari Aksara Internasional tingkat nasional dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Muhadjir Effendy.(Foto: Suntoro/Mentawaikita.com)

MAKASSAR- - Kabupaten Kepulauan Mentawai kembali menerima penghargaan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam rangka Hari Aksara Internasional tingkat nasional,  Sabtu, (7/9/2019) di lapangan Karebosi, Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan. Bupati Mentawai Yudas Sabaggalet menerima langsung penghargaan tersebut.

Sebelumya, Mentawai sudah pernah menerima penghargaan yang sama namun tingkat pratama atau pertama pada 2015 di Karawang, Provinsi Jawa Barat, dan kali ini Mentawai menerima penghargaan tingkat madya.

Selain itu, Teu Paluilui, tokoh adat Simatalu, Siberut Barat mendapat penghargaan Tokoh Adat Pendukung Pendidikan Keaksaraan pada Komunitas Adat Terpencil atau khusus, penerimaan hadiah diwakili Irianto (Ketua PKBM Karonanta Siberut Barat).

"Kita menerima ini merupakan penilaian oleh pihak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Republik Indonesia dimana Mentawai ada peningkatan keaksaraan, sebelumnya masyarakat kita yang tidak bisa membaca sama sekali, bisa membaca, namun mereka bukan sekolah formal," kata Yudas Sabaggalet.

Ketua Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Karonanta Kecamatan Siberut Barat, Irianto  mengatakan saat ini PKBM Karonanta memiliki siswa buta aksara sebanyak 302 dari paket A, B, dan paket C. Kemudian di Dusun Suruan, Desa Simalegi, Kecamatan Siberut Barat ada 100 peserta didik aksara, sedangkan yang sudah tamat paket C, sebanyak 80 orang.

Sementara guru tutornya yang mengajar paket A sebanyak 6 orang, guru paket B sebanyak 7, dan guru paket C sebanyak 7 orang. Sedangkan guru tutor di Dusun Suruan ada 10 orang yang dibagi menjadi 10 kelompok, dimana satu kelompok ada 10 siswa didik dan satu kelompok satu guru tutor.

"Kita ada PKBM ini sejak tahun 2015, yang didanai dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN)  Kemendikbud RI, anggaran yang diserahkan ke kita dipergunakan untuk beli perlengkapan belajar mengajar serta biaya atau gaji pengajar," kata Irianto.

Dilihat dari data pendidikan di Kepulaun Mentawai, siswa yang putus sekolah dan mengulang masih cukup tinggi, dari SD ada 30 siswa, SMP 41, SMA 39, dan SMK 14 siswa. Sedangkan yang mengulang, SD ada 1.097 siswa, SMP sebanyak 98, SMA ada 61 dan SMK ada 3 siswa.

BACA JUGA