Stok Cabai di Pasar Siberut Utara Habis Karena Kapal Belum Datang

Stok Cabai di Pasar Siberut Utara Habis Karena Kapal Belum Datang Ilustrasi cabai. (Dokumentasi Mentawaikita.com)

SIKABALUAN-Belum masuknya kapal KMP. Gambolo dari Padang ke Pelabuhan Pokai Desa Muara Sikabaluan Kecamatan Siberut Utara Kabupaten Kepulauan Mentawai yang mengangkut kebutuhan pokok masyarakat wilayah Kecamatan Siberut Utara membuat kebutuhan pokok menjadi langka. Misalnya cabai.

"Sudah habis sejak tiga hari lalu. Mesti tunggu jadwal kapal lagi," kata Darmawati, salah seorang pedagang pokok di pasar Sikabaluan pada Mentawaikita.com, Jumat (23/8/2019).

Lebihlanjut dikatakannya, biasanya ketika stok kebutuhan pokok habis menjelang masuk kapal barang, kebutuhan yang bisa dikirim lewat Mv. Mentawai Fast akan dipesan. Namun karena musim badai dan biaya yang mahal membuat kebutuhan pokok masyarakat tidak dipesan hingga masuknya KMP. Gambolo pada hari Minggu.

"Harga cabai di Padang mahal. Kalau dikirim lewat kapal cepat biaya mahal dan harga jualnya akan makin mahal," katanya.

Harga jual cabai merah menjelang kelangkaan mencapai Rp100 ribu per kg dari harga Rp75 ribu per kg.

"Tidak ada lagi. Sudah kita cari-cari disemua pedagang tapi tidak ada," kata Mina (28), salah seorang pembeli.

Lebihlanjut dikatakan Mina, saat ini di Sikabaluan tidak lagi enak makan kalau tidak ada sambal atau tidak ada rasa pedas didalam masakan. "Meski tidak ada ikan, kalau ada cabe sudah aman," katanya.

Hal yang sama dikatakan Nando, salah seorang pelajar di Sikabaluan.

"Setidaknya dengan adanya cabe membantu kami kenyang kalau hanya makan nasi tanpa ikan. Tapi karena tidak ada cabe juga membuat bingung. Paling tidak saat ini pakai cabe hijau atau cabe rawit yang diminta sama teman-teman," katanya.

Selain itu, harga telur ayam buras di Sikabaluan memgalami kenaikan dari Rp10 ribu enam butir, saat ini Rp10 ribu hanya dapat lima butir. Selain itu ketersediaan telur mengalami kelangkaan.

"Tidak ada lagi. Kemaren habis diborong sama ibu-ibu karena mereka tahu kalau persediaan telur mulai habis", kata Alwi, salah seorang pedagang Sikabaluan pada Mentawaikita.com, Kamis ( 22/8/2019).

Lebihlanjut dikatakan Alwi, harga akan kembali normal saat kapal barang masuk atau ketika harga di Padang tidak mengalami kenaikkan. "Kalau tidak ada kenaikan harga maka akan kembali normal, Rp10 ribu akan dapat enam butir", katanya.

Dian, warga setempat mengatakan karena tidak adanya telur di Sikabaluan selama musim badai membuatnya bersama teman-teman satu kos makan sayur setiap hari. "Kalau musim ikan biasanya kita patungan beli ikan. Karena musim badai dan telur juga tidak ada sehingga kita bertahan saja dengan makan sayur yang dicampur dengan mie," katanya.

BACA JUGA