Guru SD di Mentawai Bersihkan Jalan Demi Bisa Mengajar

Guru SD di Mentawai Bersihkan Jalan Demi Bisa Mengajar Guru SDN 19 Katurei, Siberut Barat Daya membersihkan jalan yang bersemak agar bisa dilalui ke sekolah lebih cepat. (Foto Dok Fb Memet, salah satu guru di SDN 19 Katurei)

TUAPEIJAT-Agar bisa tiba di sekolah dan mengajar tepat waktu, beberapa guru yang mengajar di SDN 19 Katurei yang tinggal di sekitar Desa Muara Siberut Kecamatan Siberut Selatan Kepulauan Mentawai secara swadaya membersihkan jalan yang sudah bersemak mulai dari ujung jembatan Puro I menuju sekolah di Dusun Tiop Kecamatan Siberut Barat Daya dengan jarak sekira 2 kilometer.

Jalan tersebut sebelumnya memang pernah dibangun melalui Program Pembangunan Desa (P2D), namun kondisi jalannya sudah banyak yang berlubang dan rusak karena usia dan kualitas jalan yang tidak kuat.

Berapa tahun terakhir  jalan yang berada di seberang Dusun Puro I, Desa Muara Siberut baru selesai dibangun menjadi akses utama dan cukup menghemat waktu menuju tempat mengajar dibanding jalur sungai kecil (Bandar Monaci) menggunakan perahu mesin atau pompong dari Puro I menuju Tiop-Sasarau begitu sebaliknya.

Salah seorang guru tenaga kontrak SDN 19 Katurei, Trilinda menceritakan perjuangan menuju sekolah tempat dia mengajar di SDN 19 Katurei, sebelumnya harus menyeberang sungai menggunakan rakit sekaligus sepeda motornya karena belum ada pembangunan jembatan pada waktu itu.

Dan pada saat itu jalan masih bisa dilalui dan belum begitu parah seperti saat ini, kini jembatan yang sudah dibangun, justru jalannya yang tidak bisa dilewati karena ada beberapa polongan atau gorong-gorong yang dibangun terputus.

Dengan swadaya beberapa rekannya yang lain yang sama mengajar di SDN 19 Katurei harus mencari alternatif untuk menggunakan papan dan kayu agar bisa melewati polongan yang sudah terputus.

Menggunakan perahu mesin atau pompong menuju tempat mengajar banyak menyita waktu, dan harus berangkat lebih awal mengejar pasang naik. “Kalau darat sekitar 30 menit, kalau naik pompong sekitar 45 menit,” kata Trilinda.

“Kalau naik pompong kita harus perhitungkan waktu, karena kalau pasang kering Bandar Monaci tidak bisa dilewati, kalau terjebak tentu tidak bisa pergi mengajar harus menunggu pasang naik, begitu juga kalau pulang mengajar, balik ke rumah harus melihat kondisi pasang,” katanya Trilinda pada Rabu, (21/8).

Belum lagi naik pompong risiko lain bisa basah. “Kalau berangkat harus pakai baju harian dulu, sampai di sekolah baru pakai baju dinas,” katanya.

Dengan kondisi tersebut muncul inisiatif tiga guru yang mengajar di SDN 19 Katurei memberanikan diri untuk membersihkan jalan yang sudah bersemak, ada juga beberapa masyarakat lain membantu tetapi hanya beberapa orang saja.

Pembersihan jalan dilakukan selama kurang dari dua minggu oleh tiga guru tersebut, dilakukan setelah pulang sekolah atau selesai mengajar siang hingga sore, pernah juga minta izin ke sekolah demi membersihkan jalan. Kini jalan tersebut sudah bisa dilalui tanpa terhalang semak, bahkan masyarakat sudah memilih jalur darat sejak jalan tersebut dibersihkan oleh beberapa guru yang mengajar di SDN 19 Katurei.

Informasi yang diperoleh dari Kepala Dusun Puro II, Heronimus Tatebburuk,  jalan tersebut sudah menjadi jalan provinsi, sehingga pada Musrembangdes 2019 tidak diusulkan, dan masih di tahun ini pihak Dinas PU Provinsi sudah pernah melakukan pengukuran jalan tersebut.

“Kalau dari wilayah administrasi jalan tersebut ada sebagian masuk di wilayah Puro I, Desa Muara Siberut juga ada wilayah Dusun Tiop, Desa Katurei, dan anggaran pembangunan jalan ini tidak ada dalam pengusulan Musrembang kemaren,” kata Heronimus dihubungi pada Rabu, (21/8).

Yang dapat dilakukan sekarang agar jalan tersebut tidak bersemak,  harus menggerakkan masyarakat untuk goro bersama. “Saya pikir itu bisa dilakukan tinggal koordinasi saja dengan pihak dusun yang lain, karena yang jalan juga kan bukan hanya guru tetapi juga semua masyarakat, sekarang saja sejak jalan ini dibersihkan, sudah banyak yang lewat,” katanya. 

BACA JUGA