Cegah Stunting, Desa Sikabaluan Tingkatkan Dana Posyandu Kesehatan

Cegah Stunting Desa Sikabaluan Tingkatkan Dana Posyandu Kesehatan Ilustrasi: Sumber Depkes.go.id

SIKABALUAN-Jumlah balita yang kecil di wilayah Dusun Puran Desa Muara Sikabaluan tidak membuat kader kesehatan kesulitan dalam mengumpulkan dana untuk membeli makanan tambahan atau menu penambah gizi saat kegiatan pelaksanaan penimbangan balita dan pemberian vitamin setiap bulan pada minggu kedua di posyandu (Pos pelayanan terpadu) kesehatan dusun.

"Biasa kami rencanakan bersama antara orangtua balita, kader kesehatan dan petugas kesehatan terkait makanan yang akan kami buat nantinya pada bulan depan. Berapa biaya yang kena kami bagi rata," kata Buriati Sabebegen, salah seorang kader posyandu di Dusun Puran Desa Muara Sikabaluan pada Mentawaikita.com, Rabu (7/8/2019).

Lebihlanjut dikatakan Buriati, soal besarnya iuran masing-masing anak tidak menjadi masalah di tengah masyarakat karena selain untuk menambah gizi anak juga sebagai bentuk kebersamaan.

"Kalau kami mau buat sup ayam maka orangtua bawa makanan dari rumah, supnya dibagi rata dan kami makan bersama," katanya.

Selain sup ayam, kadang ada bubur kacang hijau, susu dan menu lainnya yang dapat menambah gizi balita. Untuk iuran pembelian makanan tambahan ini tidak hanya dibayar oleh orangtua balita saja, namun pendamping dan petugas kesehatan ikut membayar.

"Karena kami ikut makan bersama maka kami ikut membayar," katanya.

Sedikit berbeda dengan di Dusun Pokai. Karena jumlah balita mencapai 80 orang, iuran bulanan setiap kegiatan menimbang balita tidak mampu membeli makanan tambahan untuk meningkatkan kebutuhan anak, bantuan dari desa dijadikan sebagai penyokong.

"Dari hasil iuran anak dan bantuan dari desa digunakan untuk membeli kacang hijau. Dari menu makanan bubur kacang hijau akan dijual kepada orangtua anak yang nantinya hasil penjualan menjadi kas untuk pembelian bahan makanan berikutnya, " kata Debora, salah seorang petugas kesehatan di Pustu Pokai.

Di Desa Muara Sikabaluan yang terdiri dari lima dusun, Muara, Nangnang, Pokai, Bose dan Puran dalam setiap tahunnya hanya dianggarkan anggaran pembelian makanan tambahan anak Rp2 juta. Artinya Rp500 ribu per tahun untuk satu dusun.

Kecilnya anggaran menjadi keluhan orangtua dan kader kesehatan yang melihat hal nyata di lapangan. Misalnya makanan tambahan hanya dapat diberikan dua hingga tiga kali dalam satu tahun.

Pada 2020, pemerintah Desa Muara Sikabaluan bersama BPD (Badan Permusyawaratan Desa) sepakat untuk menaikkan anggaran di bidang kesehatan dari Rp2 juta per tahun menjadi Rp15,6 juta pada tahun 2020. Dengan rincian, Dusun Nangnang, Muara dan Pokai masing-masing Rp300 ribu per bulan dan untuk Dusun Puran dan Bose masing-masing Rp200 ribu per bulan. Ini sesuai dengan jumlah balita yang ada di masing-masing dusun.

Peningkatan anggaran di bidang desa berkaitan dengan peran desa dalam kegiatan konvergensi pencegahan stunting dalam inovasi pengembangan sumberdaya manusia. Lima kegiatan layanan konvergensi stunting dalam prioritas penggunaan dana desa sesuai Permendes No. 16 tahun 2019 yaitu air bersih dan sanitasi, perlindungan sosial, konseling gizi terpadu, kesehatan ibu dan anak, PAUD.

Persoalan stunting ini menjadi isu nasional dan menjadi tanggungjawab desa melalui penganggaran dari alokasi dana desa dengan harapan di desa tidak lagi ditemukan kasus stunting pada anak.

Ciri-ciri stunting diantaranya pertumbuhan tinggi badan menurut usia tidak sesuai, performa buruk pada tes perhatian dan memori belajar, pertumbuhan gigi yang lambat, proporsi tubuh normal namun anak terlihat lebih muda daripada anak seusianya, berat badan rendah tapi punya pipi yanh chubby karena persebaran lemak yang tidak merata, pertumbuhan tulang lambat.

Penyebab stunting yaitu kurang gizi diantaranya ketidakmampuan menyediakan bahan makanan, pola konsumsi yang salah, penyakit atau infeksi yang mana air minum tidak aman konsumsi, sanitasi tidak layak, tidak mendapat layanan kesehatan secara memadai dan pola asuh yang salah.

BACA JUGA