Terus Diancam Abrasi, Warga dan Pelajar Asal Simatalu Mengungsi

Terus Diancam Abrasi Warga dan Pelajar Asal Simatalu Mengungsi Warga memasang tanggul karung berisi pasir dan kerikil untuk meredam gelombang di Pantai Muara Sikabaluan, terlihat pondok warga yang semakin terancam abrasi air laut. (Foto: Bambang/Mentawaikita.com)

SIKABALUAN- Keluarga Teu Ipok yang tinggal di bagian pesisir pantai muara Desa Muara Sikabaluan Kecamatan Siberut Utara Kepulauan Mentawai sibuk mengangkat barang-barang rumah tangga dan keperluan untuk mengungsi demi menghindari ancama gelombang pasang air laut, Rabu (31/7/2019) sekira pukul 18.12 WIB.

"Lebih baik kita mengungsi dari pada tidak nyaman tengah malam," katanya pada Mentawaikita.com, Rabu, 31 Juli 2019.

Teu Ipok bersama anak dan istri memilih untuk mengungsi malam hari ke lokasi lama SMPN 1 Siberut Utara dengan memakai ruangan bekas perpustakaan. "Pihak pemerintah desa dan dusun mengarahkan kita ke sini," katanya.

Untuk malam itu terdapat empat keluarga yang menginap di beberapa lokal yang ada di lokasi lama SMPN 1 Siberut Utara. Ada yang memilih menginap di bagian perpustakaan, kantor, dan lokal. "Keluarga lainnya ada yang mengungsi ke asrama PNPM Bojakan. Termasu pelajar," katanya.

Yang duluan mengungsi merupakan pelajar dan keluarga yang rumah dan pondok mereka sudah hancur diterjang gelombang pasang air laut sejak seminggu yang lalu. Dimana rumah dan pondok pelajar yang hancur itu satu jalur arah laut.

Silvanus, pelajar SMAN 1 Siberut Utara yang berasal dari Simatalu Suruan Kecamatan Siberut Barat mengaku baru kali ini merasakan adanya terjangan gelombang pasang air laut hingga membuat pondok mereka yang dibangun tahun lalu nyaris bergeser dari sandi dan ambruk. Untuk mengantisipasi agar tidak terbawa arus, mereka masang kayu pancang pada tiap sudut pondok yang diikat dengan paku.

"Mudah-mudahan tidak roboh karena tadi pagi hempasan gelombang sudah menghantam diding pondok," katanya.

Dikatakan pelajar yang kini duduk dibangku kelas II, pada pagi sekira pukul 05.00 WIB saat mereka terbangun lantai pondok sudah basah. "Ternyata pondok kami sudah tergenang air laut sehingga kami tidak ke sekolah karena pakaian seragam, buku dan peralatan masak basah," katanya.

Satu minggu sebelum kejadian datangnya gelombang pasang air laut, jarak hempasan gelombang dengan pondok masih dua hingga tiga puluh meter. Namun kondisi saat ini sudah tepat di depan teras pondok.

Kepala Dusun Muara, Ali Burhan mengatakan untuk saat ini langkah awal yang dilakukan agar tidak terjadinya korban jiwa yaitu melakukan evakuasi bagi masyarakat yang berasal dari Desa Simatalu yang tinggal di bibir pantai Dusun Muara bersama pelajar asal Simatalu ke lokasi lama SMPN 1 Siberut Utara.

"Kita menyelamatkan jiwa masyarakat dulu. Soal rumah mereka itu urusan nanti, yang jelas nyawa masyarakat aman," katanya.

Penanggulangan darurat soal ancaman gelombang pasang air laut, pihak pemerintah Desa Muara Sikabaluan bersama masyarakat dan pelajar yang tinggal di pesisir pantai melakukan gotong-royong dengan memasang tanggul darurat dari pasir kerikil yang diisi didalam karung dan disusun pada daerah yang ancaman hempasan gelombang air lautnya kuat. 

BACA JUGA