Kondisi Asrama Pelajar Madobag Memprihatinkan

Kondisi Asrama Pelajar Madobag Memprihatinkan Kondisi asrama pelajar Madobag yang berada di Muntei memprihatinkan (Foto : Hendrikus/MentawaiKita.com)

MUNTEI— Kamar mandi, ruang tidur dan dapur asrama yang ditempati pelajar SMA dari Madobag yang berlokasi di Desa Muntei, Kecamatan Siberut Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai memprihatinkan. 

Dinding dapur asrama yang terbuat dari papan sebagian sudah copot, sementara kamar mandi yang dipakai penghuni gedung tersebut tidak memiliki sumur sehingga tidak air yang bisa digunakan. Kamar mandi itu pun tidak ada ruang pembatas.

Pengawas asrama pelajar Desa Madobag yang berada di Muntei, Markus mengatakan, kamar asrama sebanyak 7 ruangan sementara jumlah penghuni sebanyak 26 orang. Jumlah kamar yang terbatas menyebabkan satu ruang tidur diisi 4-5 orang siswa. Ruang tidur itu pun tidak memiliki ranjang tidur.

Markus menyebutkan, sebelum di asrama itu tidak ada pengawas namun tahun ini dirinya diangkat sebagai pengawas oleh kepala Desa Madobag dengan gaji Rp300 ribu per bulan.

"Yang menjadi kendala utama asrama pelajar SMA itu MCK, kamar mandi dan dapur, sekarang ini dapur sudah tidak layak, dan kamar mandi tidak ada sumurnya dan ruang pembatas, mandi saja harus gantian," kata Markus kepada Mentawaikita.com, Selasa (30/7/2019).

Markus berharap, selain melengkapi hal-hal kecil secara swadaya ia juga berharap ada perhatian dari Pemerintah Desa Madobag.

Kepala Desa Madobag, Robertus Sakulok yang dikonfirmasi masalah itu membenarkan bahwa kondisi asrama pelajar sangat memprihatinkan. Usaha yang bisa dilakukan oleh Pemdes Madobag saat ini baru tahap menyediakan pengawas.

Ia menyebutkan, sebenarnya dari pihak mereka telah mengajukan anggaran pengelolaan asrama tersebut namun dicoret oleh Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Madobag. 

“Namun kali ini kita akan mengajukan anggarannya pada tahun depan, untuk tahun ini belum ada yang dianggarkan, tahun ini baru di asrama SMP di Madobag untuk fasilitas membeler," kata Robertus.

Dari pemerintah sudah mengintruksikan pengawas untuk mencatat kekurangan yang ada di asrama untuk dianggarkan dan diajukan kepada BPD. Nanti kegiatan itu dimasukkan ke dalam Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKPDes). Robertus berharap, BPD menyetujui anggaran perawatan asrama.

Simon Sapojai, salah satu anggota BPD Madobag yang terpilih mengatakan, persoalan asrama harus dibahas bersama antara Pemdes dan BPD Madobag karena realitasnya kondisi asrama sangat memprihatinkan.

Selain itu Simon meminta kepada pengawas asrama untuk kreatif melakukan inovasi baik terhadap gedung maupun penghuni asrama tanpa menunggu dari pemerintah.

"Pengawas asrama juga harus tegas dan tidak main main, jangan mencemari nama asrama kita, awasi kenakalan remaja, atur jadwal belajar karena anak-anak sekarang pergaulan bebas sudah mulai tak terhindarkan,” katanya


BACA JUGA