Pemakaian Terumbu Karang di SMKN 3 Mentawai Jadi Pertanyaan Warga

Pemakaian Terumbu Karang di SMKN 3 Mentawai Jadi Pertanyaan Warga Terumbku karang yang digunakan SMKN3 Mentawai untuk tapal batas tanah. (Foto: Supri/Mentawaikita.com)

SIKAKAP-Pemakaian terumbu karang untuk batas tanah di SMKN3 Mentawai di Dusun Panatarat, Desa Matobe, Kecamatan Sikakap, Kabupaten Kepulauan Mentawai sangat disesalkan dan jadi pertanyaan bagi tokoh masyarakat.

"Sesuai dengan aturan dan undangan No 27 tahun 2007 pasal 35 dan pasal 73 yang bunyinya barang siapa yang melakukan kegiatan penambangan dan perusakan terumbu karang di daerah konservasi, mengunakan bom, bahan beracun dan cara lain yang dapat merusak terumbu karang akan diancam pidana penjara paling lama 10 tahun dan denda paling banyak 10 milyar. UU ini ada di Kementerian Kelautan dan Perikanan, kalau ada juga sekolah yang melakukan pembangunan di lokasi sekolah yang mengunakan terumbu karang itu sangat kita sayangkan sekali," kata Kurnia Sakarebau, tokoh masyarakat PUS, Sabtu (27/7/2019).

Kurnia Sakarebau menyebutkan, Kabupaten Kepulauan Mentawai merupakan daerah kepulauan kalau terus terumbu karangnya dirusak tentu ekosistem laut akan menjadi rusak, kata Kurnia mantan Plt Sekda Kabupaten Kepulauan Mentawai.

Kurnia Sakerabau menyebutkan, terumbu karang merupakan tempat ikan berkembang biak, bertelur dan mencari makan, apapun alasannya pengunaan terumbu karang itu dilarang apa lagi di dunia pendidikan. “Agar terumbu karang tetap bertahan berbagai cara sudah dilakukan oleh pemerintah seperti melakukan lomba karya tulis bagaimana menjaga ekosistem laut termasuk terumbu karang itu dilaksanakan di tingkat siswa,”katanya.

Sementara itu Bin Geas yang juga tokoh masyarakat menambahkan dia sangat prihatin ada juga sekolah yang mengunakan terumbu karang untuk pembangunan, seperti yang dilakukan SMKN 3 Mentawai, kalau hasil hitungannya terumbu karang yang di pakai sudah ada sekitar 60 kubik. “Kalau tidak ada penampung tentu masyarakat tidak akan mengambil terumbu karang, kalau terus diambil terumbu karangnya maka akan terjadi terus abrasi pantai, dan mencari ikan akan sulit," katanya.

Wakil Kepala SMKN 3 Mentawai Bidang Kesiswaan dan Prasarana Rio Andra mengatakan, pemakaian terumbu karang hanya untuk tapal batas sekolah, kalau ada besi borgol di atas tapal batas itu bukan untuk pagar sekolah, sebab dua tahun ini belum ada anggaran untuk membuat pagar sekolah.

"Berapa banyak terumbu karang yang telah digunakan untuk membuat tapal batas tanah di SMKN 3 Mentawai kita tidak tahu, hal ini dilakukan karena luas tanah SMKN3 Mentawai makin hari makin kecil saja,"katanya.

BACA JUGA