Jalan Berlumpur, Bumdes Bulasat Berhenti Menampung Hasil Tani

Jalan Berlumpur Bumdes Bulasat Berhenti Menampung Hasil Tani Salah satu jalan Pagai Selatan Kilometer 17 yang sulit dilintasi dan berlumpur (Foto:Leo/Mentawaikita.com)

BULASAT-Badan Usaha Milik Desa (Bumdes ) Bulasat Mugalai Simaron, Kecamatan Pagai Selatan tidak berani menampung pisang petani pada saat musim penghujan ini disebabkan jalan Pagai Selatan dari Bulasat menuju Sikakap Polaga berlumpur, susah di lintasi oleh kendaraan roda empat milik Bumdes Bulasat.

Kepala Desa Bulasat Firman Saogo mengatakan pisang petani tidak ada pembeli atau penampungnhya ketika musim hujan, salah satunya Bumdes Bulasat jika hujan beberapa jam maka pisang tidak dibeli ini karena percuma dibeli nanti busuk dan rugi sebab mobil angkutan untuk di bawa ke Sikakap tidak dapat melintas akibat jalan berlumpur di beberapa titik menuju Polaga Sikakap.

“Jika hujan jalan tersebut sudah berlumpur, kalau mobil jenis L.300 tidak dapat melintas, kadang  mobil truk juga sering terpuruk, untung ada truk lain membantu menarik, kalau tidak berhari-hari bahkan berminggu mobil berada di jalan berlumpur menunggu truk lain membantu, hal ini sering terjadi,” katanya, Rabu (10/7/2019)

Ada juga penampung pisang dengan kendaraan truk datang ke Desa Bulasat tetapi tidak lancar seperti jadwal biasanya satu minggu ada 1-2 kali kapal Ambu-ambu hari Rabu-Minggu dari Padang, pisang dari sini diantar ke Sikakap, sebagian petani sudah memanen pisang mereka satu hari sebelum jadwal kapal. “Tetapi sejak jalan belumpur sekira 5 titik sulit di lintasi maka Bumdes Bulasat tidak menampung lagi pisang petani,” ungkapnya. 

Firman mengatakan sejak musim hujan sudah dua bulan mobil Bumdes tidak ke Sikakap mengantar pisang dan hasil kebun petani lainnya. Bumdes saat ini tidak menampung karena karena jalan masih berlumpur. “Kalau sudah dipebaiki jalan hasil tani masyarakat akan ditampung lagi, untuk sementara ini berhenti dulu,” ulasnya.

Sementara itu Anto (43) warga Sabbiret Desa Malakopa, Kecamatan Pagai Selatan salah satu penampung pisang mengaku trauma ketika mengantarkan pisang ke pelabuhan Sikakap saat jalan berlumpur. “Mobil saya pernah terpuruk beberapa kali, untung hasil penjualan pisang tidak sesuai lagi dengan perawatan mobil ditambah capek dan saja resiko kerusakan mobil, kalau mobil Mitsubishi  L.300 milik saya dan juga milik Bumdes Bulasat  tidak mampu melintas di beberapa titik, lain halnya musim kemarau atau cerah pasti lancar, tapi  kalau sempat turun hujan 30 menit saja tidak ada jalan lain pasti terpuruk,” ungkapnya. 

Anto ini sebagai menampung hasil kebun masyarakat seperti pisang, keladi, jengkol dan lainnya untuk di jual ke Sikakap pada saat jadwal kapal dari Padang. 


BACA JUGA