Warga Sabeuguggung Butuh Jalan ke Kampung Lama

Warga Sabeuguggung Butuh Jalan ke Kampung Lama Warga Sabeuguggung Desa Betumonga, Pagai Utara, Mentawai berjalan kaki ke kampung lama. (Foto: Leo/Mentawaikita.com)

SABEUGUGGUNG – Warga Dusun Sabeuguggung Desa Betumonga Kecamatan Pagai Utara Kabupaten Kepulauan Mentawai  yang bermukim di hunian tetap (huntap ) Kilometer 14 membutuhkan akses jalan ke pemukiman lama.

Tolopan  Sakerebau, salah satu warga Sabeuguggung mengatakan, sejak pemukiman lama ditinggalkan warga  akibat tsunami 25 Desember yang lalu , warga direlokasi di huntara Km 10 sekira 2 tahun lamanya.

Pada 2014 warga bermukim di h hunian tetap Km 14 namun belum ada kegiatan pemulihan ekonomi warga sekitar. Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, menurut Tolopan, warga berjalan kaki sejauh 7 kilometer ke pemukiman lama karena di sana sudah ada kebun kelapa, pinang, keladi, pisang, sagu termasuk mencari ikan atau mencari teripang dan udang lobster.

"Kami berangkat Senin dan pulang Sabtu, hal ini dilakukan hampir semua dari 54 KK warga karena kami bertumpu mencari bekal di kampung lama,” katanya 23 Juni lalu.

Sementara  di pemukiman baru di lokasi huntap, warga tak bisa menggarap ladang karena status lahannya. “Sebagian kecil saja warga yang masih ada kaitan keluarga dengan warga Taikako yang dapat menggarap lahan di sekitar huntap  selebuhnya warga memilih ke kampung lama untuk mencari kebutuhan  di rumah,” katanya.

Saat ini, jelas Tolopan, ada 1 km jalan yang sudah dicor beton dan dapat dilalui sepeda motor namun sisanya 6 km masih berupa jalan setapak sehingga harus berjalan kaki selama 1 jam hingga 1,5 jam.

“Untuk menjual kelapa cukil, kami membawanya dengan menggendong keranjang (oorek) menuju Penamoung di Dusun Betumonga sekira perjalanan 40-60 menit, jalannya juga setapak, paling dapat diangkut dengan keranjang gendong sekira 25-30 meter untuk orang dewasa tapi untuk ibu-ibu sekira 15-20 kg, apa lagi harganya anjlok sudah sekira setahun lamanya ,harga dibeli oleh penampung kelapa cungkil mentah Rp1.500 /kg dan kelapa kering Rp2.500,  paling uangnya satu kali timbang Rp60 ribu, jika ada 2-3  kali banyak uang didapat Rp180-Rp200 ribu dan untuk dibawa pulang ke huntap setiap Sabtu paling ikan, kepiting, jika musim purnama dan juga bawa keladi atau pisang untuk makan anak-anak ,” katanya.

Karena itu dia berharap Pemda Mentawai membangun jalan ke pemukiman lama karena sudah ada jalan rintisan yang dibuka perusahaan kayu namun ada empat jembatan yang lapuk dan jalan bersemak.

Marjono, warga lain juga berharap kepada Pemda Mentawai membangun jalan walaupun tidak dicor beton namun sudah ditimbun karang putih  dan untuk jembatan pakai kayu balok. 

BACA JUGA