Pengelolaan Biomassa Bambu di Mentawai Masih Terkendala Ahli Teknologi

Pengelolaan Biomassa Bambu di Mentawai  Masih Terkendala Ahli Teknologi

SALIGUMA--Bupati Kabupaten Kepulauan Mentawai Yudas Sabaggalet mengatakan sejumlah kendala yang saat ini dialami untuk pengelolaan pembangkit listrik tenaga biomassa bambu (PLTBm) yang sudah dibangun di tiga desa di Mentawai adalah tenaga teknis yang ahli dalam pengelolaan. Namun demikian, Pemkab Mentawai siap mencarikan solusi agar masalah bisa teratasi.

“Kalau memang perlu training khusus masalah mesin, kita akan cari solusinya, atau membuat laporan ke pusat, kalau kita belum bisa, belum mampu melakukan pengoperasian, belum bisa diserahkan ke kita, kalau belum siap ahli teknologi itu, Perusda belum siap, belum bisa serah terima ke Pemerintah daerah,” katanya saat berkunjung ke lokasi Power Plant Biomassa Bambu di Desa Saliguma, Siberut Tengah, Selasa (25/6/2019).

Selain itu, PLTBm Mentawai juga rencananya akan bekerja sama dengan pihak PLN, maka dari itu perlu tenaga ahli teknologi yang bisa bekerja di dalam pengoperasionalan pengolahan energy biomassa bambu, di sisi lain petugas Perusda yang ada di PLTBm mesti harus siap. “Ini tidak main-main, karena ini listrik, kalau salah-salah bisa fatal, maka dari itu kita mesti siap, jadi inilah salah satu kendala Bappenas belum menyerahkan ini kepada kita”, ungkapnya.

PLTBm yang ada di Kabupaten Kepulauan Mentawai yang terletak di tiga lokasi yaitu Desa Saliguma di Siberut Tengah dan Desa Madobag serta Matotonan di Siberut Selatan. Ketiga pembangkit sudah beroperasi sejak Maret 2018 lalu. Saat ini sebagian pembangkit atau plant biomassa masih menggunakan bahan bakar minyak ataupun bahan bakar kayu. Untuk plant Desa Saliguma, kapasitasnya 250 Kilo Watt (KW), Desa Madobag 303 KW, dan Matotonan 350 KW.

PLTBm Mentawai dibangun hibah dari Millennium Challhenge Account Indonesia (MCAI) dengan dana USD 12,4 juta. Proyek mulai diluncurkan maret 2017 dan selesai sejak pertengahan tahun 2018. Setelah beberapa kali uji coba, pembangkit mulai dioperasikan mulai pukul 18.00 WIB sampai pukul 24.00 WIB. Saat ini biomassa bambu masih ditangani oleh PT. Inti Karya Persada Teknik (IKPT) yang diberi mandat langsung oleh Satuan Kerja Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (SatBappenas).

Koordinator pengoperasian biomassa bambu Mentawai, Apriawan menyampaikan, untuk wilayah Desa Saliguma saat ini sudah ada sekitar 388 Kepala Keluarga (KK) yang menikmati listrik biomassa bambu, sedangkan di Desa Madobag 468 KK, dan di Desa Matotonan 256 KK.

“Saat ini ada sekitar 13 teknisi bersama saya untuk melakukan pendampingan bersama perusahaan daerah (perusda) dari PT Widuri Padang, dan untuk saat ini biomassa masih menggunakan diesel dengan bahan bakar minyak dan kayu. Sementara untuk daerah Madobag dan Matotonan saat ini sudah menggunakan bahan bakar bamboo sejak April sampai saat ini,” ungkap Apriawan.

Lebih lanjut Apriawan jelaskan, saat ini juga pihaknya sedang melakukan training untuk anggota Perusda sebagai penerus jika sewaktu-waktu pihak IKPT dan PT Widuri tidak lagi mengelola biomassa bambu. “Target kita untuk pembinaan sebenarnya kita ada kurikulum training yang sudah berjalan dari Desember hingga saat ini, kurikulum training ini menjelaskan bagaimana perusda yang masih cenderung awam mengenai listrik ini, karena menyangkut bagaimana teknik pengoperasiannya, dan itu didampingi oelh tim dari IKPT,” katanya.

Salah satu trainer yang dilatih oleh IKPT, Martin mengaku dirinya saat ini sudah bisa melakukan pengoperasian plant biomassa, namun dirinya belum bisa mengambil keputusan jika sewaktu-waktu plant power biomassa bambu mengalami kendala atau kerusakan berat pada mesin ataupu  pembangkit listriknya.

“Untuk saat ini kami, saya sendiri sudah bisa walaupun masih sedikit untuk mengoperasikan plant ini sendiri sudah, namun untuk kendala beratnya itu yang belum  bisa kami putuskan mana yang rusak, apa yang akan dilakukan, itu belum,” katanya. 

BACA JUGA