19 Warga Pagai Utara Butuh Bantuan Pemerintah Setelah Lantai Rumahnya Ambles

19 Warga Pagai Utara Butuh Bantuan Pemerintah Setelah Lantai Rumahnya Ambles Tolopan Sakerebau, warga Sabeuguggung Desa Betumonga Kecamatan Pagai Utara, Mentawai menunjukkan pondasi rumahnya yang ambles dan bolong karena tanahnya turun. (Foto: Leo/Mentawaikita.com)

SABEUGUGGUNG-Sebanyak 19 warga Dusun Sabeuguggung Desa Betumonga Kecamatan Pagai Utara Kabupaten Kepulauan Mentawai menunggu bantuan pemerintah setelah lantai rumahnya ambles dan nyaris ambruk akibat hujan terus menerus Desember tahun lalu.

Akibat rumah yang nyaris ambruk itu sebagian warga tak berani lagi menempati rumahnya dan mendirikan rumah di lokais lebih aman. Mereka pun membuka atap dan kayu rumah lama yang merupakan rumah hunian tetap (huntap) bantuan pemerintah untuk korban tsunami.

Bilmar (34), salah satu warga Sabeuguggung yang rumahnya ikut rusak mengaku saat musim hujan Desember lalu, tanah di belakang rumahnya ambles karena letak rumahnya di dekat jurang. “Nyaris pada malam itu kami terbawa oleh tanah dan tertimbun, pada malam itu juga kami menumpang ke polindes 7 minggu, sejak kejadian itu sembari saya mendirikan rumah panggung 150 meter dari rumah saya sebelumnya,” jelasnya kepada Mentawaikita.com, 23 Juni.

Bilmar pindah ke rumah huntap pada 2014 setelah dibangun pemerintah. Lokasi rumah tersebut merupakan lahan yang didatarkan pemerintah menggunakan alat berat. "Tempatnya sudah datar tapi di belakang rumah atau dapur sekira 1-2 meter sudah jurang sehingga rawan longsor,” ujarnya.

Untuk mendirikan rumah panggung yang baru, Bilmar menggunakan kayu rumah huntap  termasuk atapnya. “Saya buka dan juga atapnya, kekurangannya saya cari kayu lagi, saya bersama istri dan tiga orang anak yang sulung dan anak ke-2 masih kelas 3 dan kelas 2 SD yang bungsu masih PAUD, katanya.

Dernawati, istri Bilmar menambahkan, Januari lalu Wakil Bupati Mentawai, Dinas PUPR, Dinsos, Camat Pagai Utara datang melihat kejadian dan sudah rapat bersama warga dan sudah foto-foto rumah yang kena longsor namun hingga saat ini belum ada bantuan ataupun rencana sesuai dengan pembicaraan pada rapat di gereja GKPM Sabeugugung.

“Yang datang baru dari Pendeta GKPM Pusat Nemnem Leleu memberi sumbangan kepada 19 kepala keluarga berupa beras, gula, teh, sabun cuci, sabun mandi, kami semua 19 rumahnya yang kena  longsor menerima dan menyampaikan terima kasih banyak," ujarnya.

Tolopan Sakerebau, salah satu warga yang rumahnya juga rusak menyebutkan nama-nama warga yang rumahnya kena longsor yakni Redi, Nensi, Tarti, Demas, Rudiartono, Melki, Ritin, Forus, Robbi, Jobi, Rulam, Musa, Rida, Bilmar, Angsa, Andreas, Pardian, Pormi dan Tolopan sendiri. 

“Ada dua rumah tidak lagi ditempati karena tanah  lantainya sudah bolong dan pecah dan satu lagi  sudah dibuka atap dan kayunya yaitu rumah Bilmar,” katanya.

Menurut Tolopan, saat rapat usai kunjungan Wabup dan Dinas PUPR dulu, rencananya warga yang rumahnya rusak akan dipindahkan ke lokais baru sekitar 300 meter dari rumah lama yang lokasinya lebih datar.

“Rencananya Februari lalu tapi hingga saat ini belum ada datang, harapan kami agar Pemda Mentawai meninjau kembali situasi rumah  kami di Sabeuguggung dan kami menunggu bantuan dari Pemerintah," ujarnya.


BACA JUGA