Sulitnya Membangun Ekonomi di Pedalaman Mentawai

Sulitnya Membangun Ekonomi di Pedalaman Mentawai Perkampungan warga di Dusun Salappak, Desa Muntei (Foto : Dok.MentawaiKita.com)

MUNTEI-Menjual hasil bumi dari Silak Oinan, daerah pedalaman Desa Muntei, Kecamatan Siberut Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai bukanlah persoalan gampang. Tak ada jalan darat yang layak untuk dilalui guna mengangkut hasil panen petani dari daerah yang meliputi Dusun Magosi, Salappak dan Bekkeiluk menuju Muara Siberut yang menjadi pusat perdagangan di kecamatan itu.

Satu-satunya jalur transportasi yang diandalkan warga Silak Oinan yakni jalur sungai. Melewati jalur sungai ini butuh waktu yang panjang yakni 3-4 jam saat air sungai stabil atau sedang banjir. Namun jika kering atau musim kemarau, air sungai menyusut sehingga waktu yang dibutuhkan melewati jalur itu butuh waktu hingga 6 jam.

Kendaraan sungai yang digunakan berupa perahu pompong, untuk menggunakan pompong pulang pergi warga harus merogoh uang sebanyak Rp300 ribu untuk membeli bahan bakar minyak berupa premium atau bensin. Perahu kayu yang digunakan juga tidak besar, berukuran panjang sekitar 4 meter dengan lebar sekitar 50-60 cm. Ukuran perahu yang kecil membuat hasil bumi seperti pisang dan manau yang diangkut tidak banyak. Maksimal pisang yang dapat diangkut 10 tandan. 

Sementara harga pisang sendiri di tingkat pembeli yang datang dari Padang dan pengumpul di Muntei dan Muara Siberut dengan kapal hanya berkisar Rp10 ribu-15 ribu per tandan. Jika hanya mengandalkan hasil penjualan pisang, sudah dipastikan biaya transportasi berupa membeli BBM tidak tertutupi. Untung-untung jika pisang yang diangkut warga berupa pisang besar yang biasanya dinamakan pisang medan yang harganya jauh lebih mahal di tingkat lokal yakni Rp40 ribu per tandan. Namun dengan ukuran tandan yang lebih besar dan perahu pengangkut yang kecil tentu jumlah yang dapat dibawa tidak mencapai 10 tandan.

Warga di daerah itu akan berpikir panjang untuk mengangkut hasil bumi seperti pisang sebab hasil yang didapat tidak seberapa, malah rugi. Agar tak rugi banyak, biasanya warga di daerah itu menyambi membawa hasil bumi itu seperti jika ada urusan ke Muara Siberut atau ke pusat Desa di Muntei maka warga Silak Oinan akan mengangkut pisang, manau dan komoditi lain dari kampungnya. Sehingga tujuan utama telah berubah tidak lagi menjual hasil bumi tapi karena ada urusan lain seperti mengurus sekolah anak, mengurus surat di desa dan lain-lain.

Agar bertahan dan mendapat uang, biasanya warga bekerja serabutan, masyarakat di Silak Oinan kemudian menggantungkan diri menjadi kuli pada proyek pemerintah yang masuk di daerahnya. Sehabis proyek uang ikut habis. Sebenarnya selain pertanian, warga Silak Oinan memiliki potensi peternakan babi yang cukup besar namun kembali kepada persoalan pengangkutan menjadi masalah.

Rengge, salah seorang warga Salappak mengatakan, sebenarnya di Silak Oinan ada dua pertanian yang dikembangkan oleh warga saat ini, yakni pinang dan pisang. Dua komoditi ini sering dijual masyarakat untuk mendapatkan uang.

"Selama ini kami untuk menjual hasil buminya hanya mengandalkan transportasi pongpong dan biaya untuk pengangkutan cukup banyak memakan biaya satu kali turun saja bisa menghabiskan uang sebanyak 300 ribu dan ini tidak sebanding dengan hasil pertanian yang dijual, dan hasil yang kami dapatkan pun hanya habis untuk beli bensin, rokok dan kebutuhan rumah tangga lainnya untuk simpanan kelanjutan ke depan tidak ada," kata Rengge. 

Mengangkut hasil bumi ke Muara Siberut, kata Rengge sangat melelahkan, lelah duduk di sampan hingga 4 jam dan lelah menjadi sopir pompong melewati sungai yang berkelok-kelok. Namun menurut dia tak ada waktu lagi buat merengek karena kondisi tersebut, hal itu sudah menjadi kebiasaan yang mesti dijalankan sebagai solusi yang ada saat ini.

Ia menyebutkan, harga jual pinang di Salappak sekilo Rp6 ribu-7 ribu. Sementara pisang yang dijual di Muara Siberut untuk pisang batu Rp10 ribu per tandan dan pisang medan Rp40 ribu per tandan. 

"Saya berharap pemerintah mau membangun akses pertanian masyarakat, dan setiap ada jalan yang rusak diperbaiki,  juga memperhatikan dan membina masyarakat soal pertanian kedepannya," ujarnya.

Sebenarnya Pemerintah Desa Muntei telah berusaha membangun fasilitas jalan permanen di Silak Oinan seperti jalan penghubung dusun dari Magosi-Salappak-Bekkeiluk. Dari jalan itu baru Bekkeiluk-Salappak yang sudah dibeton namun kondisi jalan sudah rusak sebab telah lama dibangun. 

Kepala Desa Muntei, Agustinus Sagari mengatakan, meski warga di Silak Oinan bekerja sebagai petani namun kegiatan itu belum sepenuhnya dilakukan secara profesional. Petani, kata dia tidak fokus terhadap komoditi yang mereka tanam sehingga hasilnya belum dapat diharapkan menjadi sumber ekonomi keluarga.

Ia tak menampik bahwa jalan darat yang menghubungkan Muntei yang menjadi pusat desa dengan daerah Silak Oinan belum tersambung. Beberapa ruas jalan memang telah dibuka namun belum seluruhnya dibeton karena terkendala Alokasi Dana Desa (ADD) yang terbatas, tapi jalan tersebut telah dilewati warga dengan jalan kaki.

Sepengetahuan dia, pada 2018 warga telah membuka badan jalan sepanjang 2 kilometer dari Magosi menuju Salappak. Jalan tersebut baru jalan tanah. Kemudian pada 2019 direncanakan akan dibeton sepanjang 650 meter.

Selain jalan, Pemdes Muntei juga membangun jembatan kayu di Salappak dan di Bekkeiluk. “Inilah akses umum yang sudah dibangun dan jalan sepanjang jalan di Salappak sudah dibangun sudah lama, belum ada masyarakat yang bertani fokus di sana terkadang bersemak begitu saja kecuali di tepi sungai ada beberapa batang pisang dan pinang namun jumlahnya masih sangat sedikit hasilnya belum menjadi penunjang ekonomi masyarakat," kata Agustinus Sagari kepada MentawaiKita.com, Rabu, 19 Juni.

Untuk membuat jalan yang bagus, Agustinus menyebutkan, pihaknya tengah berusaha mendapat dana pembangunan jalan dari Muntei ke Silak Oinan. Jalan itu akan dibeton sepanjang 2 kilometer. Pembangunan jalan itu bekerjasama dengan Pemerintah Kecamatan Siberut Selatan dengan anggaran sekira Rp1 miliar yang bersumber dari dana aspirasi. Saat ini Pemdes Muntei dan Pemerintah Kecamatan Siberut Selatan tengah merancang model jalan dan cara kerjanya. Direncanakan jalan itu akan dikerjakan oleh masyarakat yang dibagi ke dalam beberapa kelompok.

“Rencana sebelumya anggaran Rp1 miliar itu akan dibangun jalan sepanjang 2 kilo meter namun setelah dirancang RAB (Rencana Anggaran Biaya)  kemungkinan hanya 1800 meter, jadi untuk pembangunan infrastruktur itu hanya jalan umum yang bisa dilewati oleh masyarakat umum kalau untuk akses jalan yang khusus untuk ke perladangan warga itu belum ada," kata Agustinus.

Menurut dia, semangat membuat jalan yang representatif buat warga ada namun pihaknya terganjal dana. Pada tahun ini saja ADD Muntei hanya Rp2 miliar, dana itu tak seluruhnya buat membangun jalan tetapi gaji aparatur dan kebutuhan lain di desa.

Beberapa lembaga yang memfasilitasi pemberdayaan masyarakat seperti Yayasan Citra Mandiri Mentawai  (YCMM) cukup banyak membantu menghubungkan instansi terkait di pemerintah untuk mendapatkan fasilitas seperti pamsimas, sekolah dan yang lainnya.

Ketika dipusingkan soal anggaran pembangunan jalan yang akan dibuat, persoalan lain ikut timbul yakni jalan yang dibangun pada 2016 kondisinya rusak sehingga butuh biaya untuk perehaban.

Selain jalan, lanjut dia, pemerintah telah mencoba mengembangkan ekonomi masyarakat dengan memfasilitasi kelompok masyarakat mengelola sagu dalam bentuk menyediakan mesin parut sagu pada 2016. Namun usaha itu tak berjalan maksimal dan tak berjalan lagi.

"Tidak mungkin kita membantu kelompok yang belum berhasil dan tidak mau bekerja belum ada bukti atau kerja keras, kalau usahanya sudah berkembang pasti kami dari pemerintah desa kalau ada kendala lain itu pasti akan cari solusinya, namun ini terbalik belum ada hasil sudah minta yang lain percuma kita bantu namun kenyataan tidak jalan," ujarnya.

Di sisi lain, Agustinus berharap, pemuda di Muntei yang telah sarjana menjadi wiraswasta yang mampu membantu petani menjual hasil panennya. “Harapan kami juga kepada anak anak mudah jangan terlalu mengejar PNS atau jabatan lain, cari dana awal buat penampungan pisang dan jual sampai ke Padang namun kenyataan yang menampung pisang kita orang padang (sasareu), kita hanya melihat,” katanya. 


BACA JUGA