Warga Belum Puas Harga Jual Bambu untuk Listrik Biomassa

Warga Belum Puas Harga Jual Bambu untuk Listrik Biomassa Cacahan bambu milik warga Rogdok yang akan dijual kepada Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa di Madobag, Mentawai. (Foto: Hendrikus/Mentawaikita.com)

MAILEPPET-Warga Rogdok Desa Madobag Kecamatan Siberut Selatan Kepulauan Mentawai mulai menjual cacahan atau potongan bambu ke Pembangkit Listrik Energi Biomassa (Madobag Plant) yang ada di Dusun Rogdok. Bambu tersebeut akan digunakan sebagai bahan bakar pembangkit listrik.

Anastasia, salah seorang warga yang menjual bambu untuk biomassa mengaku dalam satu hari bisa mengerjakan 3 karung bambu ukuran 25 kg, dalam 1 karung berisikan 14 kg. Pekerjaan diawali dengan mencari bambu terdahulu dan dibawa ke rumah lalu dipotong kecil kecil menggunakan parang.

Setelah dicincang bambu dikarungkan lalu diantarkan ke lokasi biomassa yang berjarak lumayan jauh dengan memikul karung yang diangkat secara bergantian lalu ditimbang. Tiap  1 kg bambu dibeli seharga Rp700, hasil bambu yang ia dapat tidak menjadi sumber ekonomi karena hanya habis membeli kebutuhan atau ransum selama kerja.

"Harga bambu ini sangat murah, kerjanya pun berat, ke depan ini saya berhenti mengambil bambu dulu karena secara fisik tidak sanggup lagi, dan tidak menguntungkan, lebih baik mencari pinang jelas harganya, kerjanya pun tidak begitu sulit,dan saya berharap ke depan ini ada kenaikan harga sehingga pekerjaan dan imbalan sesuai," kata Anastasia.

Kepala Desa Madobag Robertus Sakulok mengatakan tidak setuju bambu dibeli dengan harga Rp700, dulu awalnya bahkan lebih murah hanya Rp300 lalu dinaikkan, padahal pekerjaannya cukup sulit.

"Dulu rencananya yang mengelola bambu ini diserahkan kepada Bumdes namun berubah tanpa sepengetahuan diambil alih oleh rusahaan daerah dan soal harga, perusda belum pernah mengadakan diskusi, saya yakin Rp700 ini bukan harganya,” katanya.

Menurut Robert, pekerjaan mencari bambu menyebabkan warga tidak bekerja di ladang mereka sementara harga beli bambu tak menunjang ekonomi keluarga.

Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa bambu di Desa Madobag sudah beroperasi sejak beberapa waktu lalu namun belum 24 jam, saat ini ada tiga desa yang sudah dilayani menggunakan bahan bakar solar dan bambu.

Pimpinan Madobag Plant (Pembangkit Listrik energi Biomassa) Alexsius mengatakan, lampu sudah hidup seperti biasa hidup jam 06.dan mati pada jam 12.00 malam hari, dan bambu yang sudah disiapkan di Plan ada 120 ton yang dibeli ke masyarakat Rogdok.

"Kami sudah memiliki 120 ton stok bambu lokal kering di Plan dan akan dibeli ke masyarakat seharga Rp700 rupiah per kilonya, bambu kering yang kadar airnya 1 persen agar pembakarannya maksimal," kata Alex.

"Bambu yang dibeli ke masyarakat itu yang mengantarkan masyarakat sendiri, ditimbang lalu dibayarkan, persoalan harga itu sudah kesepakatan bersama masyarakat," katanya.

Saat ini masyarakat yang menggunakan listrik PLTB belum dipungut bayaran atau iuran listrik. Tiap rumah mendapat arus 450 KWh. “Kita juga melarang masyarakat mencuri arus karena berpengaruh terhadap mesin,” katanya.

Dusun yang belum menikmati listrik PLTB ini salah satunya Buttui karena masih proses pemasangan meteran, katanya.

BACA JUGA