Isak Tangis Menyambut Jenazah Lorensia Sakulok di GKPM Pancasila Padang

Isak Tangis Menyambut Jenazah Lorensia Sakulok di GKPM Pancasila Padang Mikhael Sakulok, orang tua Lorensia Sakulok memeluk Dedi Sikatsila setelah sampai di GKPM Pancasila. (Foto: Rus/Mentawaikita.com)

PADANG- Rosmani Samongilailai (50) bersama anak perempuanya tak bisa membendung tangisnya ketika peti jenazah Lorensia Sakulok keluar dari mobil ambulans Partai Persatuan Indonesia (Perindo) yang dipulangkan dari Jakarta ke Padang. 

Menurut Informasi yang diperoleh Mentawaikita.com dari Wakil Ketua Ikatan Mahasiswa Mentawai Jakarta (IMMJ) Rusdian Salebbay, jenazah Lorensia diberangkatkan dari Bandara Halim Perdana Kusuma dengan pesawat Citilink pada pukul 16.00 WIB didampingi mantan Ketua IMMJ Dedi Sikatsila, dan mendarat di Bandara Internasional Minangkabau (BIM) sekira 1 jam lebih dari keberangkaan.

Baca juga:

Donasi Sudah Rp10 Juta, Pramuka Mentawai Galang Dana untuk Lorensia

Untuk menjemput jenazah ke BIM, Ketua Forum Mahasiswa Mentawai Sumatera Barat  (Formma Sumbar) Ignasius Joko Mulyono ditemani Rusel Saleleubaja memakai ambulans Partai Perindo. “Kita tadi sudah meminta bantuan kepada Bendahara DPW Perindo Sumatera Barat, Kristinus Andre Satoko, beliau mengizinkan untuk memakai armada partai, dari sana (BIM) kita bawa ke GKPM Pancasila untuk disemayamkan, sementara untuk mengurus kepulangan jenazah di kampung halaman akan kita koordinasikan lagi bersama teman-teman,” tuturnya , Kamis (23/5/2019)

Joko menambahkan, sebenarnya ada tiga orang pengurus IMMJ yang akan mendampingi jenazah, namun karena tiket pesawat sulit didapat, hanya Dedi saja yang datang, sementara dua orang lagi menyusul, satu saudara Lorensia Sakulok, Wances Raiman Sakulok dan satu lagi Ketua IMMJ, Helmi Swardi Siribaru. “Mereka menyusul datangnya,” kata Joko.

Baca juga: 

Bupati Mentawai Respon Rencana Pemulangan Jenazah Lorensia Sakulo

Sementara kedua orang tua Lorensia bersama satu orang anaknya sudah datang ke Padang dari Sikakap karena mereka mendapat kabar bahwa jenazah Lorensia hari ini berangkatkan dari Jakarta ke Padang. “Kami dapat kabar hari ini anak saya dibawa ke Padang, makanya kami kesini dan menunggu di GKPM Pancasila,” tutur Mikhael Sakulok.

Untuk seterusnya kata Mikhael, dia serahkan kepada mahasiswa yang ada di Padang. “Saya kurang paham soal ini, jadi sepenuhnya saya serahkan kepada anak-anak kami mahasiswa,. Saya dan keluarga mengucapkan terimakasih banyak kepada anak-anak kami mahasiswa baik dari Jakarta maupun di Padang sudah memberikan bantuan, jika tidak ada mereka entahlah bagaimana seterusnya,” katanya.

Baca juga: 

Bantu Biaya Memulangkan Jenazah Mahasiswi ke Mentawai, IMMJ Galang Donasi

Mikhael juga berterimakasih kepada Pemda Mentawai dan para masyarakat yang telah memberikan sumbangan untuk biaya mengurus jenazah anaknya. “Biar kami hanya menerima jenazah ini, tapi kami cukup lega, kami masih bisa melihat anak kami untuk terakhir kalinya,” ucapnya.

Baca juga:

Tak Punya Biaya, Orangtua Bingung Pulangkan Jasad Mahasiswi yang Meninggal di Jakarta

Sementara Wakil Ketua IMMJ Rudian Salebbay mengatakan, total dana sementara yang diterima ada sebanyak Rp35,5 juta, berasal dari sumbangan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Mentawai, dari Pemuda Malakkopak dan para donatur lainnya. “Itu data sementara kami belum rinci semuanya. Atas nama Organisasi IMMJ banyak ucapkan terimakasih kepada pemerintah daerah, Pak Bupati dan Wakil  Bupati juga petinggi-petinggi daerah kita yang sudah mendengarkan keluhan kita. Kepada lembaga-lembaga yang sudah membantu untuk donasi tambahan sehingga sampai saat ini jenazah sudah bisa dipulangkan, dan kami dari pengurus IMMJ banyak mengucapkan terima kasih kepada teman-teman yang sudah bergerak hatinya terkhusus Mahasiswa Mentawai Jakarta  telah banyak membatu dalam bentuk donasi,” katanya. 

Lorensia Sakulok (21) merupakan warga Dusun Kautek Desa Taikako Kecamatan Sikakap Kabupaten Kepulauan Mentawai meninggal Senin (20/5) sekitar pukul 15.00 WIB di rumah kosnya.

Menurut Mikhael kepada Mentawaikita.com, Selasa (21/5), putrinya mahasiswa semester IV Jurusan Pendidikan Agama Kristen di STT Doulos Jakarta Timur. Saat semenster I dan II, kuliah Lorensiar ditanggung Yayasan STT Doulos bahkan tinggal di asrama. Sejak semester III, biaya kuliah tidak lagi ditanggung yayasan.

“Lorensia ditemukan abangnya meninggal dunia di kamarnya kondisinya tertelungkup, dari mulut hidung dan telinganya mengeluarkan darah sudah kental. Sebelum meninggal dia (Lorensia) sudah mengeluhkan sakit dan bahkan sudah berobat pada pagi hari almarhuma masih sempat kuliah sorenya baru diketahui meninggal dunia,” katanya.


BACA JUGA