Tak Punya Biaya, Orangtua Bingung Pulangkan Jasad Mahasiswi yang Meninggal di Jakarta

Tak Punya Biaya Orangtua Bingung Pulangkan Jasad Mahasiswi yang Meninggal di Jakarta Mikhael Sakulo dan istri, orangtua Lorensiar Sakulo, mahasiswi asal Mentawai yang meninggal di Jakarta. (Foto: Supri/Mentawaikita.com)

SIKAKAP—Mikhael Sakulo, warga Dusun Kautek Desa Taikako Kecamatan Sikakap Kabupaten Kepulauan Mentawai bingung mencari biaya memulangkan jenazah putrinya Lorensia Sakulo (21) yang kini masih berada di Jakarta. Lorensia meninggal Senin (20/5) sekitar pukul 15.00 WIB di rumah kosnya.

Menurut Mikhael kepada Mentawaikita.com, Selasa (21/5/2019), putrinya mahasiswa semester IV Jurusan Pendidikan Agama Kristen di STT Doulos Jakarta Timur. Saat semenster I dan II, kuliah Lorensiar ditanggung Yayasan STT Doulos bahkan tinggal di asrama. Sejak semester III, biaya kuliah tidak lagi ditanggung yayasan.

Mikhael Sakulo sehari-hari bekerja sebagai nelayan tradisional yang penghasilannya tidak menentu, sementara istrinya Rosmani Samongilailai (50) merupakan ibu rumah tangga. Dia butuh uang sekira Rp25 juta untuk biaya memulangkan jenazah putrinya ke kampung. Sejak kemarin, Mikahel sudah berusaha mencari pinjaman uang namun belum berhasil.

"Mungkin masyarakat tidak percaya sama saya sebab tidak ada satupun jaminan yang bisa saya berikan kepada orang yang akan tempat saya meminjam," kata Mikahel sambil meneteskan air mata, Selasa (21/5/2019).

Kini, satu-satunya harapan Mikhael mendapat bantuan dari Pemda Mentawai atau orang lain yang berbaik hati membantu biaya memulangkan jenazah Lorensia ke Sikakap.

“Sementara hasil pembicaraan saya dengan pihak Yayasan STT Doulos untuk memulangkan anak saya yang sudah meninggal diserahkan kepada kami pihak keluarga sementara untuk makan dua kali sehari saja kami sulit, apa lagi sekarang tidak bisa melaut karena bulan terang,” katanya.

Menurut Mikhael, beberapa hari sebelum meninggal, putrinya mengaku sakit kepala namun masih pergi kuliah dan ke gereja hari Minggu. “Namun pada Senin siang, kakaknya Wonces Raimon Sakulo datang ke kamar kosnya, dipanggil-panggil dan diketuk pintunya tak menjawab,” kata Mikhael.

Wonces lalu membuka pintu kamar adiknya dan menemukan Lorensia sudah terbujur kaku dengan tubuh berwarha kehitaman sementara keluar darah dari telinga, hidung dan mulutnya, kata Mikahel.

Saat ini jasad Lorensia sudah dipetikan dan berada di rumah duka di jalan Gereja Kayu Putih, Taruna Dalam, Jakarta Timur. “Tinggal menunggu aba-aba dari kami pihak keluarga apakah sudah ada uang Rp25 juta untuk mengembalikan jasad anak kami Lorensia Sakulo,” katanya.

Usai menerima kunjungan Camat Sikakap Fransiskus Sakeletuk, Mikhael mengaku terhibur dan berharap dapat solusi cara memulangkan jasad Lorensiar dari Jakarta ke Desa Taikako.

Sementara Camat Sikakap Fransiskus Sakaletuk menyampaikan duka cita mendalam atas Lorensia Sakulo yang sedang menuntut ilmu di STT Daulos. “Sesuai dengan informasi awal Lorensia berangkat dulu dibiayai oleh Yayasan STT Doulos Jakarta Timur, untuk itu kita berharap ada partisipasi dari Yayasan STT Doulos untuk dapat memulangkan jasad Lorensia,” katanya.

Dia juga telah berusaha semaksimal mungkin menghubungi pihak Pemerintah Kabupaten Kepulauan Mentawai dan meminta Ketua PMI Kabupaten Kepulauan Mentawai Hendri Dori Satoko agar dapat membantu memulangkan jasad Lorensia.

“Sekarang ini lagi menunggu informasi balik dari ketua PMI, kalau dilihat dari ekonomi keluarga bisa dipastikan uang Rp25 juta itu tidak ada, sementara sekarang ini jasad Lorensia perlu secepat mendapatkan penanganan untuk dikembalikan sesuai dengan permintaan keluarga," katanya.

 

BACA JUGA