TPID Siberut Tengah Targetkan Pinang Jadi Produk Unggulan Desa

TPID Siberut Tengah Targetkan Pinang Jadi Produk Unggulan Desa Pinang milik warga Subelen yang dijemur di jalan (Foto : Rinto/MentawaiKita.com)

SUBELEN—Tim Pengelola Inovasi Desa (TPID) Kecamatan Siberut Tengah, Kabupaten Kepulauan Mentawai menargetkan menjadikan pinang sebagai komoditas unggulan desa agar benar-benar memberi manfaat ekonomi masyarakat. 

Ketua (TPID) Siberut Tengah, Surkino Sanenek mengatakan, tahun ini Kementerian Desa mengucurkan Dana sebesar Rp25 juta untuk TPID untuk melakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang pengembangan komoditas pinang pada tiga desa di kecamatan itu.

"Jadi tahun ini kita tetap fokus arahkan warga untuk terus menanam pinang dan melihat langsung di lokasi lahan dan kebun pinangnya sekaligus sosialisasikan dan dapat mengetahui sudah sejauh mana perkembangannya," katanya saat ditemui MentawaiKita.com di kebun pinang milik warga Subelen, Desa Cimpungan saat turun langsung sosialisasi, Sabtu (11/5/2019).

Surkino menyebutkan, rata-rata warga Siberut Tengah di 3 desa sangat antusias untuk terus bertani pinang. “Hanya kendala yang kita dapati di setiap warga soal hama tikus yang merusak bibit pinang yang baru ditanami dan ini akan kita sampaikan di setiap pemerintah desa bagaimana solusinya nanti," ucapnya.

Menurut Surkino, untuk di Subelen Desa Cimpungan dalam jangka 5 tahun ke depan akan memproduksi pinang sebanyak-banyaknya, karena rata-rata warga sudah punya kebun pinang.

“Jadi melihat kebun pinang warga  ini saya sangat optimis pinang ini sangat menjanjikan dan dapat jadi produk unggulan desa serta andalan perekonomian warga seterusnya," ujarnya.

Pendamping Pemberdayaan Desa, Aranlius menyebutkan program TPID tersebut mengarah peningkatan perekonomian bidang pertanian salah satunya pinang dimulai sejak 2017 dan masih terus berlanjut di tahun ini.

“Kalau kita tetap mendorong inovasi ke ekonomi soal komoditi pinang ini, jadi target kita bersama pinang harus jadi produk unggulan," ujarnya.

Selain peningkatan ekonomi melalui pinang, lanjut Aran, inovasi juga bisa mengembangkan potensi wisata yang ada di setiap desa. “Tapi kita memang di Siberut Tengah ini ada potensi wisata di Sibuddaoinan dan Goa Siroigeroiget namun butuh waktu cukup lama nanti pengembangannya, jadi kita lebih dorong inovasi ke peningkatan ekonomi yang cepat menjanjikan," ucapnya.

Kepala Dusun Subelen, Nius Saporuk menyebutkan sebanyak 140 kk di Subelen sudah punya kebun pinang di Simayot dengan luas sekira 30 hektar. “Warga mulai berkebun pinang sejak 2015 karena terbukanya akses jalan dari Cimpungan ke Subelen ini dan hingga kini masih tetap menanam pinang," ujarnya.

Menurut Nius, komoditas pinang sangat diyakini sebagai pendongkrak perekonomian dari pada komoditas lainnya seperti cengkeh dan pala.

“Dulu pinang ini hanya tanaman sampingan saja tapi kini ini yang terus kita galakan sebab ketika panen nanti itu setiap hari kita panen dan nikmati uangnya dengan cepat,yang dapat membantu ekonomi keluarga, jika ada kita punya kebun 1 hektar saja, biaya pendidikan anak-anak sudah sangat memudahkan kita," ucapnya.

Saat ini saja, lanjut Nius, satu kepala keluarga rata-rata memiliki sekira 500 batang pinang belum produksi. “Kita berharap ke depannya pemerintah harus menyediakan mesin kupas pinang, sebab kalau sudah masa panen nanti ini sudah sangat jelas tidak main-main jumlah buah pinangnya nanti," tuturnya.

Kepala Desa Cimpungan, Syafiuddin Saguguluk mengatakan untuk mendukung peningkatan ekonomi warga melalui komoditas pinang, tahun ini sudah dianggarkan sekira Rp400 juta untuk pengadaan sebanyak 70 ribu bibit pinang untuk warga Cimpungan.

“Pinang ini sudah sangat jelas menjanjikan, jadi kita sudah anggarkan itu tahun ini dan kini tinggal proses pengurusannya atau pencairan dana kita nantinya," ujarnya

BACA JUGA