Guru Honor SMAN 1 Pagai Utara Terancam "Dibuang" Setelah Formasi Dipenuhi PNS

Guru Honor SMAN 1 Pagai Utara Terancam Dibuang Setelah Formasi Dipenuhi PNS Guru-guru kontrak dan honorer SMAN 1 Pagai Utara duduk di lantai karena tidak ada kursi pada awal sekolah dibuka, foto diambil November 2017 (Foto : dok.MentawaiKita.com)

SAUMANGANYA-Guru honor di SMAN 1 Pagai Utara, Kecamatan Pagai Utara, Kabupaten Kepulauan Mentawai yang pada awal sekolah dibuka tahun 2014 telah mengabdi dengan segala keterbatasan fasilitas sekolah terancam dibuang setelah formasi guru yang ada diisi dengan guru Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Kepala SMAN 1 Pagai Utara, Nofik Afriko mengatakan,  Juli tahun ini guru honorer yang tidak memiliki jam mengajar karena tugasnya telah diisi guru PNS pada awal Maret lalu akan dirumahkan. 

”Melihat kondisi guru mata pelajaran yang berlebih karena masuknya guru CPNS awal Maret yang lalu, solusi lain tidak ada bagi guru honorer yang jam pelajarannya sudah diisi oleh CPNS sebanyak 13 orang,” kata Nofik kepada MentawaiKita.com, Senin (6/5/2019).

Ia menyebutkan, mata pelajaran yang akan diisi 13 guru PNS baru yang sebelumnya diajarkan oleh guru honorer  yakni Agama Islam, Agama Kristen Protestan,  PKn, Bahasa Indonesia,  Bahasa Inggris, Matematika, Fisika, Biologi, Geografi, Kimia,TIK, BK dan Penjas .

“Jam pelajaran yang honorer bertahan atau masih dibutuhkan guru Ekonomi, Sosiologi, Sejarah, Bahasa Asing (Jerman), Agama Katolik,” jelasnya.

Ia mengatakan, guru honorer yang akan dirumahkan sebanyak 11 orang,  terakhir  menerima gaji terhitung Januari-Juni 2019 dan terima pada Juli mendatang. Gaji honorer tersebut diambil dari Biaya Operasional Pendidikan (BOP). Guru honorer tersebut terbagi dua yakni pindahan dari kontrak Pemda Mentawai ke Pemda Provinsi Sumatera Barat digaji sebesar Rp2.130.000  per bulan, sementara honorer yang diangkat sekolah digaji Rp1.250.000  per bulan, tata Usaha dan opas Rp1.100.000 per bulan. BOP yang selama ini digunakan menggaji guru tersebut tidak ada lagi.

“Tata usaha dan opas masih bekerja selagi masih baik dan  aktif bekerja, mereka bertiga  bukan mengajar," katanya.

Menurut Nopik Afriko tidak ada solusi lain untuk mempertahankan guru yang sudah penuh jam mengajar karena sekolah ini hanya 6 rombongan belajar dengan siswa sebanyak 132 orang. Jika dihitung dari jam mengajar untuk yang CPNS saja, kata dia masih kurang tidak sama di SMAN 1 Pagai Utara Selatan yang rombelnya sebanyak 19.

“Secara pribadi saya cukup prihatin bagi rekan guru-guru yang akan dirumahkan, prosedurlah yang  yang akan dijalankan mengenai hal ini sudah di tangan Dinas Pendidikan Provinsi Sumbar untuk honorer yang tidak ada lagi jam mengajarnya tidak lagi terdata di BOP secara otomatis,” ujarnya.

Mendra Sababalat, salah satu guru honorer Bahasa Inggris Sarjana Strata 1  yang mengajar di SMAN 1 Pagai Utara menyebutkan, dirinya terancam diberhentikan sebab jam mengajarnya telah diambil oleh guru PNS. 

Menurut dia, usaha dan perjuangan mereka sebagai guru honor bersama kepala sekolah agar SMA ini eksis dari nol tidak dihargai.

"Kami bingung tentang ini jika kami di rumahkan tentu kami menganggur, perjuangan bersama rekan- rekan guru lainnya dan kepala sekolah saja PNS  dari awalnya di  SMAN 1 Pagai Utara  dan akhirnya perjuangan bersama sia-sia, jika kami dapat bekerja di sekolah lain masih lumayan tetapi kalau juga tidak ada tentu mencari kerja yang lain lagi atau bertani lagi,” ujarnya. 

Dari data MentawaiKita.com, guru-guru SMAN 1 Pagai Utara pada awal sekolah dibuka rela duduk di lantai saat istirahat pelajaran sebab ruang majelis guru belum memiliki meja dan kursi. Sebagai alas mereka menggunakan tikar pandan pada 2017 lalu.

"Tidak ada mebeler tiap hari guru duduk di lantai beralaskan tikar pandan, mebeler yang dibutuhkan sebanyak 20 pasang yakni kursi dan meja," kata Kepala SMAN 1 Pagai Utara, Nofik Afriko kepada saat ditemui MentawaiKita.com pada Jumat, 3 November 2017 silam.

Nofik Afriko kalah itu mengatakan, bangga dengan kerjasama dan dukungan dari pihak orang tua dan wali murid SMAN 1 Pagai Utara, “sekarang ini pekerjaan rumah yang belum selesai saya kerjakan yakni bagaimana guru yang terpaksa duduk di lantai karena tidak ada kursi dan meja, agar dapat duduk di kursi dan ada mejanya supaya guru tersebut bisa bekerja maksimal dan merasa betah berada di sekolah," ujarnya.


BACA JUGA