Murid Seay Lama Jadi Penjual Sayur dan Pemulung untuk Bantu Ekonomi Keluarga

Murid Seay Lama Jadi Penjual Sayur dan Pemulung untuk Bantu Ekonomi Keluarga Anak-anak Seay Lama yang duduk di bangku SD menjual sayur di Sikakap (Foto : Supri/MentawaiKita.com)

SIKAKAP—Beda dengan anak seusianya, Sagita Saleleubaja (12) tak menghabiskan waktu dengan bermain atau di rumah saja sepulang sekolah. Setelah makan, Sagita yang duduk di kelas IV pada salah satu SD di Desa Sikakap, Kecamatan Sikakap, Kabupaten Kepulauan Mentawai memilih berjualan sayur, terkadang menjadi pemulung.

Sepulang sekolah, Sagita memetik daun singkong dan daun paku di ladangnya yang berada di Dusun Seay Lama. Sayur yang dipetik Sagita diikat menjadi beberapa bagian kemudian dimasukkan ke dalam keranjang sandang untuk dijual keliling di Sikakap.

Untuk menuju Sikakap, ia harus menempuh perjalanan sejauh 3 kilometer dari Dusun Seay Lama ke Polaga. Dari Polaga kemudian Sagita menaiki perahu boat menyeberangi Selat Sikakap yang membagi Pulau Pagai Selatan dan Pagai Utara. Kampung Sagita sendiri berada di Pulau Pagai Selatan.

Sesampainya di Dusun Sikakap Tengah ia mulai berkeliling mencari pembeli dengan berjalan kaki hingga ke Dusun Sikakap Tengah. Panas dan lelah tak dihiraukan oleh Sagita, harapannya hanya satu ingin meringankan beban ekonomi keluarga.

Sekitar 10 anak-anak dari Dusun Seay Lama. Desa Sikakap. Kecamatan Sikakap. Kabupaten Kepulauan Mentawai rela menjual sayur dan  pemungut besi tua untuk membantu ekonomi keluarga.

"Saya menjual sayur dari pukul 13.30 WIB kemudian pulang ke rumah sekira pukul 17.00 WIB, saya menjual sayur pucuk ubi ini demi membantu orang tua, sayur ini diambil dari ladang, menjual sayur setelah pulang sekolah," kata Sagita Saleleubaja saat ditanya MentawaiKita.com, Jumat (10/5/2019).

Dalam satu keranjang, Sagita membawa sekitar 13 ikat sayur yang dijual Rp2.000 per ikat. Terkadang meski sudah capek berkelililing, sayur yang dijualnya tak habis.

“Kadang sayur ini habis, kadang tidak, berapa uang penjualan yang didapat diberikan kepada mamak (ibu), saya sekolah sekarang kelas IV,” tuturnya.

Tak hanya Sagita, ada 9 anak lain dari Seay Lama yang berjualan sayur ke Sikakap, salah satunya Denis (8). Denis mengaku masih duduk di kelas II SD, hampir tiap hari berjualan sayur dengan teman-teman sekampungnya.

“Sayur yang saya bawa sebanyak 8 ikat, tadi sudah terjual 3 ikat dengan harga Rp2.000 per ikat, biasanya kami pulang pukul 17.00 WIB sebab kalau tidak pulang mamak akan marah,” katanya.

Sinta Saleleubaja (12), teman Sagita dan Denis menyebutkan, uang dari penjualan sayur akan di berikan seluruhnya kepada ibunya.

“Kalau hari libur menjual sayur dimulai dari pukul 10.00 WIB tapi kalau sekolah menjual sayur sekitar pukul 13.30 WIB setelah pulang sekolah,  kalau sayur cepat habis pulang pun cepat, tapi kalau sayur belum habis maka pulang pukul 17.00 WIB,” ujarnya sambil duduk melepas lelah di beranda rumah milik salah satu warga Sikakap.

Peni Marpaung, warga Dusun Sikakap Timur mengaku kasihan melihat anak-anak tersebut. Ia menyebutkan pernah melihat anak-anak yang berjumlah 10 orang berjualan sayur, setelah itu mereka mencari barang bekas seperti besi tua.

“Anak-anak tersebut pada umumnya masih usia sekolah, kasihan sekali anak usia 8 sampai 14 tahun harus mencari uang membantu ekonomi keluarga,” katanya.

Menanggapi hal itu, Kepala Dusun Seay Lama, Sariman mengatakan, dirinya telah menyampaikan kepada orangtua anak-anak tersebut untuk tidak menyuruh mereka menjual sayur dan menjadi pemulung. Namun ia tak berdaya sebab kondisi ekonomi yang sulit menyebabkan orangtua mereka menyuruh berjualan. 

"Mudah-mudahan tidak ada korban pelecehan seksual terjadi terhadap anak-anak tersebut, sebab tahun lalu ada satu orang yang jadi korban pelecehan seksual hal ini sangat membuat saya kecewa sekali, kepada orang tua mari kita jaga anak-anak kita supaya mereka bisa hidup layak dan mendapatkan pendidikan yang layak," katanya. 


BACA JUGA