Harga Anjlok Tak Surutkan Semangat Petani Betumonga Mengolah Kelapa

Harga Anjlok Tak Surutkan Semangat Petani  Betumonga Mengolah Kelapa Warga Betumonga memanjat kelapa (Foto : Leo/MentawaiKita.com)

BETUMONGA—Meski harga jual kelapa cungkil anjlok sejak pertengahan tahun 2018 hingga 2019, petani di Desa Betumonga, Kecamatan Pagai Utara, Kabupaten Kepulauan Mentawai tetap mengola kelapa. Harga kelapa cungkil di Betumonga hanya Rp1.500 per kilogram

Pilian Siritoitet (67), warga Betumonga mengatakan, meski harga masih rendah, dirinya tetap mengolah kopra sebab penghasilan dari komoditas lain seperti memancing dan mengolah pinang belum mencukupi untuk kebutuhan rumah tangga.

“Rutinitas mingguan satu-satunya mengolah kelapa, hal ini bukan saya saja yang mengalami juga petani lainnya,” katanya kepada MentawaiKita.com, Kamis (9/5/2018).

Pilian Siritoitet menyebutkan, kebun kelapa miliknya berada di Tunang Toitet yang ditempuh dengan naik sampan dayung sekira 90 menit dari kampungnya. Di sanan ia memiliki sekira 100 batang kelapa. Biasanya setelah memancing dan menjaring ikan sebelum balik ke kampung, ia menyempatkan diri mengolah kelapa. Kelapa yang ia olah secukupnya sekira 20-30 kg.

“Rutinitas seminggu ada 2-6 kali saya lakukan balik hari," ujarnya.

Harga kelapa yang di tetapkan oleh empat kedai pengepul setempat juga sudah sesuai dengan harga pasaran. ”Harapan kami petani mudah-mudahan harga kelapa cungkil ada kenaikan harga lagi, uang hasil dari kelapa untuk biaya kebutuhan makan  rumah tangga bersama istri dan dua anak saja sudah kewalahan, sulit untuk membeli keperluan  seperti pakaian atau yang lainnya,” katanya.

Johan Sinaga, salah satu pengepul kelapa di Betumonga mengatakan, pada 2017 sampai Maret 2018 harga kelapa turun. Biasanya kelapa cungkil yang mentah dibeli dengan harga Rp4.000 per kg kini turun Rp3.500 per kg, kemudian turun lagi menjadi Rp3 ribu lalu April-Oktober menjadi Rp2.500-Rp2.000. Selanjutnya pada November 2018  hingga sekarang Mei 2019 harga kelapa Rp1.500 per kg.

Ia menyebutkan pada saat harga kelapa cungkil mentah masih berkisar Rp2.500-Rp4.000, kelapa yang dijual warga kepadanya sekira 500 kg-1 ton seminggu. Tetapi ketika harga kembali jatuh sampai pada harga Rp1.500-2.000, Johan mengaku warga hanya menjual paling banyak 2,3 ton per minggu.

“Kami ada empat kedai pengepul kelapa cungkil mentah di desa ini  rata-rata setiap minggunya 1,5 ton hingga 2,3 ton," ujarnya .

Menurut Johan Sinaga, sebenarnya kelapa yang dimiliki warga banyak, namun karena harga rendah mereka kurang semangat. Sebagian memang masih mengolah kelapa namun terkadang tak sesuai dengan hasil yang diharapkan karena anjloknya harga pasar.

“Harapan kami pengepul mudah-mudahan juga harga ada kenaikan tahun ini, jika ada naik harga kami juga akan naikkan harga sesuai dengan pasaran," ujarnya.


BACA JUGA