Prediksi Ahli Gempa 8,9 SR di Mentawai, Ini Kata Kalaksa BPBD Mentawai

Prediksi Ahli Gempa 89 SR di Mentawai Ini Kata Kalaksa BPBD Mentawai Desa Muara Siberut dan Desa Maileppet di Kecamatan Siberut Selatan dari udara. (Foto: Dhandi untuk Mentawaikita.com)

TUAPEIJAT-Terkait gempa magnitudo 8,9 yang diprediksi oleh para ahli Jepang di Mentawai, yang disampaikan oleh wakil Gubernur Sumatera Barat Nasrul Abit, ditanggapi oleh Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kepulauan Mentawai, Novriadi.

“Terkait bencana yang disampaikan oleh wakil gubernur waktu di Bengkulu, itu kalau ancaman bencana itu ada, sama seperti yang disampaikan oleh pihak Badan Meteorologi dan Klimatologi dan Geofisika (BMKG), namun kita tidak tahu kapan terjadinya, dimana titiknya, kita tidak tahu, bahkan pihak BMKG pun tidak membuat release kapan terjadinya,” Kata Novriadi Kamis (9/5/2019) saat ditemui di ruang kerjanya.

Lebih lanjut ia katakan, bahwa yang paling penting di daerah selalu meningkatkan kesiapsiagaan, seperti memberikan pelatihan dan pemahaman tentang bencana kepada masyarakat Mentawai khususnya. “Pelatihan yang diberikan dalam bentuk evakuasi mandiri,” ujarnya.

Keseriusan pihak pemerintah daerah (Pemda) Kabupaten Kepulauan Mentawai melalui BPBD, tampak jelas, bahkan pada akhir bulan lalu pihak BPBD sudah memberikan simulasi akan bahaya bencana serta memberikan edukasi kepada masyarakat pentingnya peduli pada diri sendiri terlebih dahulu, memberikan pendidikan jika terjadi gempa mesti berbuat apa.

Data BPBD Mentawai dari 43 Desa yang ada di seluruh Mentawai ada sebanyak 33 Desa yang terdampak dan rawan bencana, baik di sepanjang pantai Barat maupun Timur, bahkan pihak BPBD sudah melakukan pelatihan di setiap Kecamatan melalui Satuan Penanggulangan Bencana (Satgas PB) termasuk di desa-desa kepada Kelompok Siaga Bencana (KSB).

“Jadi mereka ini membantu memberikan edukasi juga kepada masyarakat, selain itu kita juga dibantu dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Non Government Organization (NGO), seperti ASB dan sebagainya”, ujar Novriadi.

Ia juga mengatakan, bahwa jangan terlalu takut dengan isu-isu gempa yang terjadi di Kepulauan Mentawai dan tetap melaksanakan aktivitas atau rutinitas seperti biasa, yang terpenting yaitu kesiapan dalam menghadapi bencana-bencana yang bila suatu saat terjadi.

“Jangan takut, tetap beraktivitas, pergi ke ladang, pergi melaut, jangan takut, yang penting kita waspada dan siaga, jika terjadi guncangan terasa kuat atau lama hingga 20 detik, langsung melakukan evakuasi mandiri, jangan menunggu sirine, karena bisa saja sirinenya rusak, jadi langsung saja lakukan evakuasi,” ungkapnya.

Untuk logistik saat ini BPBD Mentawai selalu standby, makanan seperti beras, indomie, selimut serta kebutuhan lainnya saat terjadi bencana sudah disiapkan di gudang, namun stok logistik di gudang tidak terlalu banyak, sebab jika dilakukan pembelian logistik terlalu banyak, maka akan rugi karena makanan bisa saja kedaluwarsa atau expired.

“Kalau logistik kita saat ini ada di gudang, terutama kebutuhan bahan pokok, tapi tidak banyak, karena makanan ini ada batas kedaluwarsanya, kalau untuk stok makanan saat bencana besar, tidak cukup, nah tentu kita harus mengajukan dana darurat kita, namun kita sudah ada anggaran darurat di Keuangan, itu sewaktu-waktu bisa kita gunakan,” katanya.

Kendati begitu, BPBD Mentawai masih banyak kekurangannya, baik dari sarana maupun personil yang begitu minim, termasuk salah satunya yaitu alat komunikasi radio, dari sepuluh Kecamatan belum bisa terakses secara merata meski tower-tower radio sudah ada di beberapa titik. 

“Karena keterbatasan repeater kita, di samping tenaga juga terbatas, sebenarnya masing-masing Kecamatan menyiapkan tenaga operator untuk menggunakan sarana-sarana yang tersedia, sehingga mereka bisa melaporkan situasi dan kondisi kebencanaan yang terjadi,” ungkap Novriadi.

Pihak BPBD Mentawai juga sudah mengusulkan ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pusat untuk membantu memperbanyak repeater radio di Mentawai. “Sehingga tidak perlu menopang dengan daerah lain, karena kita sudah punya repeater sendiri,” ucapnya.

Tak hanya itu, tenda-tenda juga masih kurang, namun BPBD Mentawai melalui Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) sudah mengajukan usulan untuk bantuan tersebut, yang menjadi kendala lagi biaya angkutnya dari pusat ke Mentawai. Meski begitu, masyarakat dihimbau agar tetap meningkatkan kesiapsiagaan, tetap waspada.

Novriadi juga menambahkan, dimana akhir bulan Juni akan ada Festival Pesona Mentawai (FPM), untuk itu pihaknya mengantisipasi dengan membuka jalur evakuasi.

“Untuk mengantisipasi hal ini, bekerja sama dengan Dinas Pariwisata dan Pekerjaan Umum (PU), kita bahkan membuat jalan evakuasi baru di kawasan wisata pantai Mapadegat, jalan tembus ke Sipora 2 (SP2), karena tempat wisata baru di Mapaddegat lebih dekat jalur evakuasinya arah SP 2 dibanding mereka lari ke bukit Mapaddegat ini, karena tidak terkejar sampai 3 menit meski menggunakan kendaraan, kecuali warga bisa karena lebih dekat dengan tempat evakuasi di bukit,” Kata Novriadi. Pihak BPBD Mentawai juga akan membuat rambu-rambu di sepanjang jalur evakuasi. 


BACA JUGA